Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Rencana Makar (3)


__ADS_3

Malam itu, sebuah kapal berukuran cukup besar menurunkan sampan kecil. Gelombang cukup tenang. Tidak ada masalah besar bagi sampan nan kecil untuk menembus permukaan laut yang luas dan gelap.


Sesekali, ombak dan angin malam menerpa empat orang yang ada di sampan itu, membuatnya terombang-ambing di tengah sunyinya samudera.


Terlepas dari itu, sampan yang mereka tumpangi tetap melaju dengan stabil menuju sebuah pulau yang ada di depannya.


Tidak ada sambutan baik begitu mereka berhasil menginjakan kaki di pulau. Sebaliknya, ratusan anak panah berterbangan mengincar mereka.


Tidak ada yang panik. Seseorang langsung mengambil pedang yang tersampir di pinggangnya dan mengayunkannya ke arah anak panah yang menargetkan mereka.


Seketika, angin yang sangat kencang berhembus, membuat anak panah itu tersebar ke segala arah dan jatuh ke tanah tanpa satupun mengenai targetnya.


"Berhenti di sana! Siapa kalian dan apa tujuan kalian datang ke pulau ini!?"


Dari tebing yang tidak jauh di hadapan mereka, teriakan seseorang bergema. Malam yang tadinya hening dan dingin, kini memanas berkat ketegangan yang terjadi.


Salah satu dari pendatang akhirnya membuka mulutnya.


"Aku ingin berbicara dengan pemimpin kalian!"


Seketika, kegaduhan datang dari arah tebing. Entah apa yang membuat orang-orang yang ada di sana menjadi riuh. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, seorang pria dengan tinggi dua meter lebih dengan bekas goresan luka yang ada di salah satu matanya menghampiri rombongan pendatang.


Wajahnya garang. Tangannya sangat besar sampai-sampai dia bisa meremukan kepala orang dewasa dengan mudanhnya. Sebuah pedang besar tersampir di punggungnya. Dilihat dari postur badannya, sekali dia menebaskan pedang itu, tidak ada orang yang bisa lolos dari maut.


"Kau mencariku?"


Kalimat yang simple, tapi mengandung intimidasi yang kuat. Entah rekannya atau tamu tidak diundang sama-sama gemetar. Namun, satu orang yang menjadi perwakilan mereka sama sekali tidak terganggu.

__ADS_1


Dia hanya melemparkan sebuah botol berisi kertas. Pria besar itu menangkapnya. Meski awalnya dia ingin melihat isinya saat itu juga, dia memutuskan untuk menundanya.


"Aku memberi kesempatan untuk kalian. Baca isinya dan kalian akan tahu apa yang kumaksud."


Sepertinya tamu tak diundang ini tidak berminat untuk berlama-lama di pulau ini. Tanpa mengatakan apapun lagi, mereka pergi. Meninggalkan sekelompok orang di belakang mereka dan mengarungi gelapnya lautan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu, malam yang sama, di wilayah Duke Cassilas.


Sang Duke sedang berjalan menuju suatu tempat, ditemani oleh satu orang di sampingnya.


Langkah kakinya membawa mereka berdua ke sebuah tempat. Dan tempat yang dimaksud adalah gudang yang menyimpan sangat banyak senjata.


"Tuan Bryant, berkat bantuanmu, kita bisa mengumpulkan kekuatan sebanyak ini sekarang. Seperti yang saya janjikan, begitu sang pangeran naik tahta, anda akan diganjar sebagai seorang bangsawan baru."


Itu benar. Duke Cassilas dan Bryant telah menjalin kerja sama semenjak perang berakhir. Bryant akan berfokus pada urusan finansial. Duke Cassilas menjanjikan gelar Baron padanya dan sebuah wilayah.


Dia juga berjanji untuk mempersilahkan Bryant mengambil seluruh aset milik HuCas ketika pangeran Hans berkuasa. Bryant dan perusahannya adalah seteru abadi dengan HuCas. Dengan menguasai HuCas, dia akan memiliki akses pada kekayaan yang selama ini tidak bisa dia capai.


"Tiga hari lagi, tuan Bryant. Tiga hari lagi pasukanku akan berparade menuju Saint Georgia, dibantu oleh pasukan dari Earl Baldric dan Viscount Lostov, aku yakin kita akan menang.


"Ketika raja lengser dan pangeran baik tahta, era baru akan datang menyinari kerajaan Dublin. Kau, dan orang-orang yang mendukungku, akan menikmati hasilnya kelak."


Bryant tersenyum lebar.


Seperti yang Duke Cassilas katakan, ketika raja lengser, era baru akan tiba. Namun, era baru itu jauh seperti dari apa yang ia bayangkan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya, di luar wilayah De Ruhr.


Sekitar 20 ksatria milik Jean sedang berpatroli di luar kastil. Ada yang menyusuri hutan dan ada juga yang mengawal rombongan dagang menju ke kota Ruhr.


Lima ksatria dikirim sebagai pengintai. Semuanya berjalan lancar saja. Namun, lima ksatria yang berperan sebagai unit pengintai memacu kudanya dengan sangat cepat. Wajah mereka terlihat sangat panik dan khawatir.


Mereka langsung menuju markas ksatria dan mengabarkan pada komandan mereka bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Begitu sang komandan tahu apa masalahnya, matanya terbelalak dan dia langsung memacu kudanya menuju mansion Jean.


Dan begitulah, pagi yang damai milik Jean hancur.


Padahal dia sedang tidur sembari diapit oleh dua bunga. Priscillia si gadis rambut pendek berwarna perak dan Natasha, kekasihnya yang merupakan gadis cantik berambut ungu.


Pintu kamarnya diketuk dengan keras. Jean sadar kalau sesuatu yang darurat sedang terjadi. Ternyata adalah Rose yang berdiri di depan pintunya. Wajahnya terlihat sangat panik.


"Tuan Jean, pasukan Duke Cassilas yang berjumlah 3000 sedang menuju ke tempat ini! Mereka telah membangun perkemahan tidak jauh dari sini, siap menyerang kapan saja!"


Tidak seperti yang Rose banyangkan, Jean malah tersenyum seolah-olah dia mengharapkan hal ini terjadi. Dia menepuk pundak Rose.


"Tidak perlu khawatir. Itu berarti dia adalah orang yang hati-hati. Tugas mereka bukan menyerang kita. Mereka hanya dikirim untuk memastikan agar kita tidak ikut campur dalam konflik yang akan terjadi di ibukota."


Setelah mengatakan itu, Jean memeluk tubuh Rose dan menciumnya dengan panas. Tentu saja gadis itu awalnya meronta. Namun lama kelamaan, dia menerima ciuman Jean.


Barulah saat dia kembali pada kewarasannya, Rose mendorong Jean. Begitu bibir mereka terpisah, Rose memiliki wajah yang sangat merah dan nafas yang kasar.


Dengan sangat malu, Rose pergi dari hadapan Jean. Dia ingin menyantapnya juga, tapi ini bukan saat yang tepat. Jean langsung pergi setelah mencium kening Natasha dan Priscillia.

__ADS_1


Karena semua sudah sesuai dengan perkiraannya, maka sekarang adalah saatnya untuk eksekusi.


__ADS_2