Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Malam Ini Akan Ada Pertumpahan Darah


__ADS_3

Sementara itu, di malam yang sama, Szymon Krzys sedang duduk di kursi yang berada di kamarnya. Di depan dia, sebuah gelas berisi cairan berwarna merah agak kegelapan ada di sana.


Cairan itu bukan anggur. Melainkan darah. Pemuda itu tersenyum. Ia goyang-goyang kan gelas tersebut dan meneguk isinya. Energi yang ada di dalam dirinya bergejolak. Szymon merasakan kekuatan dalam dirinya menggelegak.


Tubuhnya terasa semakin kuat. Dia merasa kapasitas mananya semakin besar. Kalau dia meminum ini secara konstan, Szymon yakin ia akan menembus tingkat kultivasi selanjutnya.


"Aku tidak menyangka apa yang [Apostle] katakan itu benar. Darah bangsawan memang benar-benar istimewa. Tidak lama lagi, aku akan menjadi yang terkuat!"


Dia mengikat kontrak dengan sang [Apostle]. Salah satu isi dari kontrak itu mewajibkan Szymon untuk meminum darah bangsawan manapun untuk menambah kekuatannya. Darah mereka adalah katalis yang paling berharga.


Benar. Szymon adalah pelaku dari kasus pembunuhan yang menimpa keluarga Baron. Tidak lama lagi, berita tersebut akan menjadi topik yang sangat heboh. Bangsawan lainnya pasti akan meminta perlindungan lebih. Namun ia tidak perlu khawatir.


"Selanjutnya.... Bangsawan mana lagi yang harus aku jadikan target?"


Sembari memikirkan target selanjutnya, gurat senyum kejam terbentuk di bibirnya.


***


Kematian salah satu keluarga Baron di kerajaan Warsawa membuat seluruh ibukota heboh. Mulai dari rakyat jelata, saudagar, dan bangsawan dikagetkan dengan kejadian tersebut.

__ADS_1


Memang, pangkat mereka hanya Baron dan tidak memiliki pengaruh yang begitu kuat. Namun para bangsawan takut kalau-kalau pembunuh tersebut mengincar mereka.


Para bangsawan dari berbagai fraksi telah memperkuat penjagaan mereka. Keluarga kerajaan turun tangan dengan mengeluarkan Ksatria terbaik mereka untuk melindungi para bangsawan.


Kelompok saudagar juga sama. Mereka meningkatkan budget untuk menyewa kelompok tentara bayaran yang terkenal demi keamanan diri dan karavan dagang mereka.


Tentu, posisi yang paling rapuh adalah rakyat jelata. Tidak ada yang menganggap keamanan mereka dengan serius. Para bangsawan tidak memperhatikan mereka dan keluarga kerajaan enggan untuk mengeluarkan uang untuk hal yang mereka pikir sia-sia.


Tapi isu tersebut sama sekali tidak mengganggu seorang pemuda yang berjalan menuju sebuah lokasi tertentu. Dia mengabaikan semua orang yang sedang bergosip.


Tujuannya adalah komplek bangsawan yang kini dijaga sangat ketat. Bahkan bangsawan saja harus melewati prosedur yang ketat untuk masuk ke sana. Namun entah bagaimana, tidak ada satupun penjaga maupun bangsawan yang menyadari kehadirannya.


Pemuda itu sampai ke sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Seorang pelayan pria sudah menunggunya. Dengan gesturnya, ia mempersilakan pemuda itu untuk masuk lalu mengikutinya dari belakang.


"Silahkan masuk, tuan Ulrich. Count Lesko susah menunggu anda di dalam."


Ulrich tersenyum dan mengangguk. Ia masuk ke dalam sementara pelayan tua tersebut menunggu di luar. Begitu ia masuk, seorang pria berusia 40-an berbadan gempal sudah menunggu dirinya.


"Aku tidak akan berbasa-basi. Jadi, langsung saja. Ulrich, kau tidak lagi perlu menjadi mentor pribadi untuk anakku. Dia sudah menjadi tunangan putra Duke Cetner dan akan segera menikah. Ini pesangonmu. Ambil dan jangan pernah lagi datang ke sini."

__ADS_1


Mendengar count Lesko, Ulrich tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya seolah mempertanyakan keputusan count Lesko, namun dia menahannya.


"Kalau begitu keputusan anda, saya tidak memiliki hak untuk menyanggahnya. Namun, bisakah saya bertemu untuk yang terakhir kalinya dengan nona Kalina? Sebagai mentornya, saya memiliki kewajiban untuk mengucapkan perpisahan dengan dirinya."


Count Lesko mendengus kesal dengan permintaan Ulrich. Meski begitu, ia tetap mengabulkannya. Memanggil pelayan pribadinya yang bernama Haroon, dia memerintahkan pelayan tua tersebut untuk mengantarnya ke tempat Kalina berada.


***


Tidak berapa lama kemudian, Haroon kembali ke ruang kerja count Lesko. Melihat pelayannya kembali, count Lesko membenarkan posisi duduknya dan mulai berbicara kepada Haroon.


"Kalina sudah terlalu bergantung kepadanya. Semenjak kematian Karina, Ulrich selalu memainkan peran sebagai kakak. Anak sialan itu..... Bahkan kematiannya membuatku repot!"


Mendengar Count Lesko, Haroon tidak bisa melakukan apapun selain menghela nafas. Miris, sekalipun Karina adalah anak kandungnya, dia tidak melihat Karina sebagai darah dagingnya. Hanya sebagai pion belaka. Ia bahkan tidak ragu untuk mencela anaknya yang sudah meninggal.


"Keberadaan Ulrich bisa menghalangi rencanaku. Kalau Kalina terus bergantung padanya, ia tidak akan memiliki kesetiaan pada penerus keluarga Cetner. Haroon, singkirkan pemuda itu bagaimanapun caranya. Henryk sedang tidak ada di sini. Kau tidak perlu ragu dan menahan diri."


Count Lesko tidak bodoh. Ia menyadari bahwa pandangan Kalina pada Ulrich sudah sangat berbeda. Dia tidak bisa membiarkan Ulrich terus hidup atau semua rencana yang ia bangun akan berantakan.


Haroon mengangguk. Malam ini, akan ada pertumpahan darah. Lagi.

__ADS_1


__ADS_2