
Karina Lesko beranjak keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar lain. Sudah dua hari mereka ada di kota ini. Alasannya adalah karena para ksatria yang terluka belum pulih sepenuhnya. Meski begitu, mereka tetap harus melanjutkan perjalanan menuju perbatasan besok.
Dia telah mengetahui apa yang terjadi antara Jeanne dan Szymon. Dia tidak menduga kalau Jeanne akan mengambil tindakan seperti itu. Namun mau bagaimana pun, ia bersyukur. Szymon harus diberi pelajaran.
Berhenti di depan pintu kamar, ia mengetuknya. Kamar yang dimaksud adalah kamar Jeanne. Sedari siang, dia terlihat sangat sibuk di luar. Bahkan tidak sempat makan siang bersama. Karina sedikit khawatir dengan keadaan Jeanne. Karena itu, ia berniat untuk menengoknya.
"Jeanne, ini aku Karina. Bolehkah aku masuk ke dalam?"
Tidak ada jawaban? Mungkinkah Jeanne sudah tertidur? Tapi ini belum terlalu malam. Karina memutuskan untuk mengetuk pintunya lagi.
"Hei Jeanne, apa kau baik-baik saja? Boleh aku masuk ke dalam?"
Barulah kali ini suara Jeanne terdengar dari dalam. Dia membolehkan Karina untuk masuk. Kelegaan timbul di hati Karina. Ia pikir Jeanne telah pingsan.
Begitu Karina masuk, dia melihat Jeanne sedang duduk di kasur sambil membaca sesuatu yang tertulis di banyak kertas yang berserakan. Karina menutup pintu dan duduk di samping Jeanne.
"Hei Karina, membutuhkan sesuatu dariku?"
Jeanne meletakan kertas yang ada di tangannya ke atas kasur. Karina tersenyum dan menepuk pundak Jeanne.
"Aku tidak menyangka kamu akan membuat Szymon pingsan. Tidak hanya itu, bahkan tulang lengan dan kakinya patah. Wajahnya terlalu memar sehingga tidak bisa dikenali lagi. Kamu benar-benar luar biasa Jeanne."
Jeanne tertawa kecil sejenak. Sejujurnya, dia sendiri cukup puas bisa menghajar Szymon hingga babak belur. Kalau bisa, dia ingin menghancurkan Szymon.
"Tapi apa kau yakin? Maksudku, mau bagaimana pun, dia adalah penerus keluarga count Krzys yang menjadi Vassal Duke Ankwicz. Aku yakin keluarga Krzys tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja setelah membuat penerusnya seperti itu."
Mendengar apa yang dikatakan Karina, aura membunuh milik Jeanne sedikit bocor. Bahkan dengan yang sediki itu, Karina sudah sangat merinding. Insting mengatakan untuk tidak berdekatan dengan Jeanne.
"Lalu? Bahkan kalau keluarga Krzys berniat untuk menghancurkanku, aku akan menghancurkan mereka balik. Jika mereka ingin melawanku, maka aku akan melawan mereka hingga tidak ada lagi yang tersisa dari mereka!"
Jeanne berhenti sejenak dan memandangi wajah Karina lamat-lamat. Kedua gadis yang sangat cantik tersebut saling bertatapan satu sama lain.
__ADS_1
"Apakah hanya itu tujuanmu mendatangiku, Karina."
Karina memulihkan dirinya. Aura membunuh Jeanne sudah hilang. Dia salah paham. Bukan itu niat utama Karina. Sebaliknya, dia ingin membantu.
"Tidak. Aku hanya ingin mengatakan kalau suatu saat keluarga Krzys berniat buruk padamu, jangan ragu untuk mengatakannya pada aku dan Hanna. Meskipun ayah ingin menghindari keributan sesama bangsawan, kami akan tetap mencari cara untuk membantumu."
Hup! Jeanne memeluk Karina dengan erat. Terimakasih. Itu katanya. Dipeluk secara mendadak itu sangat mengejutkan. Dan Karina juga malu. Buah dada Jeanne yang besar menyentuh buah dadanya juga! Wajah Karina bahkan sampai memerah.
"E-ehhh! J-jeanne.... Baiklah-baiklah. Santai saja. Toh itu semua belum terjadi kan? Bagaimana kalau kau melepaskan pelukannya dulu?"
Karina bernafas lega setelah Jeanne melepas pelukannya. Itu tadi terasa sesak!
Pandangan Karina beralih ke kertas yang berserat di atas kasur Jeanne. Karena penasaran, ia meminta izin Jeanne untuk membaca isinya. Jeanne dengan senang hati membolehkannya.
"Aktivitas monster selama sepuluh hari ke belakang? Itu artinya sebelum kita sampai ke sini kan? Ada apa dengan mereka?"
"Kau menyadari kalau pola serangan para monster begitu aneh kan, Karina? Mereka yang biasanya hanya mengandalkan insting, justru menyerang dengan pola yang sangat rapih. Mereka mengincar para ksatria yang lemah terlebih dahulu dan berusaha menghancurkan perbekalan kita. Seolah-olah.... Ada seseorang yang mengendalikan mereka."
"Karena itulah aku berusaha menyelidiki kejadian ini meski dalam waktu yang singkat. Aku meminta kesaksian penduduk, karavan dagang yang lewat, ataupun musafir yang singgah di kota ini. meski kesaksian mereka berbeda, intinya sama. Tingkah laku monster dan hewan-hewan liar menjadi sangat aneh."
Karina mengangguk. Dia memahami kekhawatiran Jeanne. Tapi para ksatria tidak punya banyak waktu untuk menyelidiki hal itu. Lagipula, misi mereka bukan menginvestigasi perilaku aneh para monster.
"Ingat Jeanne, misi kita itu. Kita tidak bisa menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu hal-hal yang tidak berhubungan dengan tugas kita. Tapi tenang saja, aku punya ide. Kamu punya pena dan tinta?"
Jeanne menunjuk ke arah meja. Karina bangkit dan pergi ke sana. Mengambil dia carik kertas, dia lalu menulis sesuatu di sana. Dia menjelaskan pada Jeanne yang penasaran.
"Aku menulis surat rekomendasi ke markas di ibukota untuk mengirimkan tim investigasi untuk menyelidiki masalah ini. Dengan latar belakangku, mereka tidak akan bisa meremehkan hal ini."
"Begitu!? Itu sesuatu yang hebat, Karina! Lalu kertas yang satu lagi?"
"Ah, ini surat pribadi untuk adikku. Dia pasti khawatir dengan keadaanku. Semoga, surat ini cukup untuk membuktikan bahwa aku baik-baik saja."
__ADS_1
Karina lalu melipat suratnya dan memberikannya kepada pelayan. Dia akan meminta kurir milik tuan tanah untuk mengantarkan suratnya ke Krakov city.
"Surat itu akan sampai ke sana dalam waktu 10 hari. Itu berarti kita sudah sampai di tempat menjalani misi. Tolong jangan berharap banyak."
Jeanne menggeleng. Tidak masalah, itu sudah lebih dari cukup. Otoritas ksatria kerajaan tidak akan bisa meremehkan masalah ini. Lebih tepatnya, mereka tidak boleh.
"Terimakasih Karina. Terimakasih untuk bantuannya."
Keduanya memutuskan untuk berisitirahat. Besok mereka akan melanjutkan perjalanan. Untuk itu, mereka harus mempersiapkan energi mereka untuk keesokan harinya.
Sayang, misi mereka tidak akan semulus dari apa yang telah mereka banyangkan.
***
Sepuluh hari kemudian, di Krakov city.
Suasana hati Kalina sedang bagus. Selama kelas berlangsung, dia tidak henti-hentinya bersenandung seperti seorang gadis yang menerima hadiah berharga dari orang yang ia cintai. Penyebabnya, kertas yang sedang ia genggam dan ia baca berkali-kali.
"Anda terlihat sangat gembira nona muda. Saya turut bahagia melihat anda dalam suasana hati yang baik."
Ulrich yang melihat Kalina terus bersenandung tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Pasti itu sesuatu yang istimewa.
"Unnn! Kakak mengirimiku surat dan katanya, dia baik-baik saja! Aku tidak perlu khawatir dengan keadaannya!"
Ulrich tertawa kecil dan mengelus rambut Kalina. Meski gadis itu menjadi malu, dia terlihat semakin gembira ketika gurunya mengelus kepalanya.
"Nona Karina adalah gadis yang luar biasa. Di usianya yang begitu muda, beliau telah menjadi seorang kapten Ksatria. Anda tidak perlu khawatir. Percayalah dengan kemampuan kakak anda, nona muda."
Kalina mengangguk dengan riang. Dia selalu percaya dengan kakaknya!
Namun Kalina tidak tahu kalau Karina dan kapten ksatria lainnya sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1