
Jean dan dua orang terpercayanya, Mar dan Nina, langsung mengeksekusi rencana mereka malam itu juga. Mengumpulkan semua orang di aula markas, Jean berdiri di atas sebuah podium, sambil melepaskan aura intimidasinya ke seluruh anak buahnya.
Dia mengumumkan rencananya pada mereka, yang membuat semua anak buahnya membelalakan matanya. Jean benar-benar memaksa mereka untuk menyerahkan uang mereka!
Banyak yang tidak keberatan dan santai, tapi lebih banyak lagi yang keberatan. Mereka semua bukan orang yang mampu dan berada! 50 koin tembaga setidaknya bisa membuat mereka dan keluarganya hidup selama dua hingga tiga hari!
Tetapi tidak ada yang berani menolak perintah Jean. Meskipun dengan berat hati, mereka tetap memberikan uang milik mereka. Ada yang memberikan 50 koin tembaga, sepuluh koin perak, ataupun satu koin emas walaupun jumlahnya sedikit.
Sebagai gantinya, Jean menyerahkan sebuah kertas yang entah apa isinya. Well, mayoritas dari mereka tidak bisa membaca dan menulis. Yang mereka tahu kalau di atas kertas itu ada cap dari Jean.
Perintah Jean sederhana. Jangan sampai kertas yang mereka terima hilang atau berpindah tangan. Kalau mereka sampai ceroboh, maka mereka akan merasakan akibatnya.
Tidak hanya Jean, Mar dan Nina juga bergerak. Mereka pergi ke rumah bordil dan melakukan apa yang harus mereka lakukan. Mar dan Nina memeriksa seluruh sudut rumah bordil.
Mar juga melakukan pendataan pada seluruh wanita yang ada di sana. Karena Nina tidak bisa menulis, dia bertugas untuk menjaga keadaan sekitar.
Para wanita 'profesi' dibagi berdasarkan umur, tampilan visual, pengalaman, serta kemampuan yang mereka miliki secara individual. Ada yang bisa bernyanyi, ada juga yang bisa menari, atau ada yang pintar mendongeng dan yang lainnya.
Mar juga berkeliling dari ruangan ke ruangan, memastikan apa saja yang perlu diperbaiki. Barangkali ada yang harus diganti, ditambah, atau dikurangi.
Mar juga mengunjungi bar milik Serigala Putih. Satu kesan untuk tempat ini. Benar-benar tidak terurus. Tempat ini bangkrut. Meja dan kursi yang penuh debu, botol-botol kosong yang penuh dengan jaring laba-laba, dan hall yang tidak terurus. Tempat ini bahkan menjadi sarang bagi para gelandangan. Nina menghajar mereka semua sebelum mengusir para gelandangan itu.
Tidak ada apa-apa lagi yang keduanya lakukan disini. Setelah mencatat semua yang perlu dia catat, Mar dan Nina langsung meninggalkan tempat yang terbengkalai ini.
"Hohhh.... ternyata seperti itu. Kondisi rumah bordil tidak terlalu buruk. Baiklah, aku akan membuat estimasi biaya yang diperlukan dan mencari pekerja untuk merenovasi banyak bagian di sana.
"Oh benar. Aku melihat ada tiga wanita yang ahli bernyanyi dan lima wanita yang ahli dalam menari. Sekaligus ada dua wanita yang hebat di keduanya. Baiklah, mari kita buat fasilitas tambahan untuk mengembangkan bakat mereka sekaligus menarik pelanggan.
__ADS_1
"Aku akan membuat beberapa aturan baru di tempat pelacuran ini. Tapi yah, aku akan mengurusnya nanti. Target yang kuinginkan sekarang adalah mendapatkan keuntungan dari apa yang kita miliki.
"Sementara untuk bar....ah sudahlah, hampir tidak ada harapan. Aku akan memerintahkan yang lain untuk membersihkan tempat itu dan membuka kembali barnya. Tapi cukup sebagai tempat yang sederhana saja."
Jean mengehela nafas panjang setelah mengeluarkan banyak hal yang ada di kepalanya. Belum semuanya, tapi tidak perlu buru-buru.
Nina telah berisitirahat. Dia sudah tertidur pulas di atas sofa yang berada di ruang kerja Jean. Sementara itu, Mar masih duduk di hadapa Jean. Dia terlihat sedikit lelah tetapi tetap memaksakan diri untuk bangun.
"Kau harus beristirahat Mar. Besok, semuanya akan menjadi lebih sibuk. Kalau kau tidak beristirahat dengan cukup, kau akan jatuh sakit dan aku akan sangat kerepotan dengan itu."
Jean lalu berdiri dan meletakan dua kantung berisi uang.
"Ini adalah uang yang berhasil terkumpul dari semua anggota kelompok Serigala Putih. Dan ini adalah nama-nama mereka yang memberikan uangnya untuk kita. Besok, kita akan mencari cara untuk memutar uang ini agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar."
Mar akhirnya pasrah. Dia benar-benar kelelahan. Setelah mendengar semua instruksi Jean, dia pergi membangunkan Nina lalu mereka berdua pergi ke kamar. Ah, mereka berdua menempati kamar yang sama.
Jean tersenyum melihat mereka berdua pergi. Dia lalu bangkit dan berjalan ke arah jendela. Malam ini gelap. Bulan yang seharusnya bersinar tertutupi oleh gelapnya langit malam. Yang tersisa hanyalah bintang-bintang yang berserakan di langit. Terkadang berkedip, terkadang redup.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Charl, Selena, Ayo bangun. Terutama kau Selena. Para pekerja yang lain sudah mulai bangun."
Ketika Charlotte sedang menggeliat, Selena langsung berdiri! Dia teringat hal memalukan yang terjadi tadi malam, ekspresi di wajah Selena terlihat sangat menggemaskan. Dia malu setengah mati tetapi di saat yang sama, dia sangat senang.
"Aku.....aku tidak mau mengulangi apa yang terjadi semalam."
Jean hanya tertawa kecil. Dia membawakan pakaian ganti untuk Selena dan gadis itu dengan senang hati memakainya. Mereka berdua lalu keluar dari kamar Charlotte dengan tangan mereka yang saling bertautan satu sama lain.
__ADS_1
Jean dan Selena menyiapkan kebutuhan untuk Charlotte. Selena memasak sementara Jean menimba air dan merebusnya agar gadis itu bisa langsung mandi begitu Charlotte bangun.
Semuanya berjalan dengan lancar. Charlotte terbangun dengan reaksi yang sama dengan Selena. Tetapi gadis itu cepat pulih dan dia memutuskan untuk mandi sendiri, meskipun awalnya dia meminta Jean untuk mandi bersamanya. Hahhh....siapa sangka kalau gadis ini ternyata begitu mesum!
Charlotte juga menjalani kegiatan seperti biasa. Setelah mandi dan sarapan di kamarnya, dia pergi ke ruang studinya sendiri untuk mempelajari beberapa hal. Biasanya yang berkaitan dengan bisinis.
Sampai pada akhirnya....
"Jean, Charlotte, Selena. Aku ingin kalian ikut bersamaku menuju wilayah Earl Baldric. Dia mengundangku untuk menghadiri jamuan makan malam. Ini akan menjadi kesempatan bagi Charl untuk memperluas jaringan dan wawasannya."
Paman Hull mengajak mereka untuk pergi bersamanya.
Mereka bertiga tidak keberatan. Dan karena itu, sekarang mereka sedang berada di atas kereta kuda milik paman Hull.
Jean teringat apa yang pernah ayahnya ajarkan. Seharusnya, setiap bangsawan memiliki wilayah otonomi masing-masing. Mulai dari Baron hingga Duke.
Namun karena kerajaan Dublin adalah kerajaan yang kecil, pada akhirnya hal seperti itu tidak bisa dilakukan. gelar Baron hingga gelar viscount tidak memiliki tanah sendiri. Mereka yang memiliki wilayah sendiri hanyalah bangsawan berpangkat Earl, Marquis, dan Duke.
Sejauh ini hanya ada satu Duke, satu Earl, tiga Viscount dan empat Baron.
Kereta kuda yang mereka tumpangi berguncang ke kanan dan kiri. Permukaan tanah yang tidak rata di tambah dengan kecepatan kuda yang kusir kemudikan membuat guncangan terasa semakin parah.
Pertama, mereka keluar dari tembok ibukota, lalu menyusuri jalan hutan. Untuk keamanan, paman Hull membawa 20 tentara bayaran bersamanya untuk mengawal.
Wilayah Earl Baldric terletak di sebelah barat kastil ibukota. Butuh waktu sekitar lima hingga enam jam untuk sampai ke sana.
Perjalanan mereka berjalan dengan lancar. Paman Hull dan lainnya menghabiskan waktu mengobrol di dalam kereta. Hingga pada akhirnya Jean merasakan bahaya datang dari berbagai arah, mengelilingi mereka.
__ADS_1
Pada saat itulah, berbagai teriakan datang dari depan, belakang, kanan, dan kiri.
"TUAN HULL, KITA DISERANG!!"