Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Plot Duke Cetner


__ADS_3

Ulrich atau lebih tepatnya Jean memulai kebiasaan rutinnya kembali. Dia datang ke mansion keluarga Lesko untuk memberikan pengajaran pada Kalina. Anak bungsu Count Lesko.


Namun, semuanya menjadi berubah bagi mereka. Setidak tujuh hari yang lalu, kepala ksatria mendatangi mereka dan menyerahkan tubuh Karina pada keluarga Lesko.


Melihat putri mereka yang tidak bernyawa, mereka semua shock. Count Lesko marah besar. Bahkan ia tidak ragu meninju wajah kepala ksatria dengan keras. Istrinya shock. Dia histeris lalu pingsan dan baru terbangun keesokan harinya untuk kemudian histeris lagi.


Dan di antara mereka, sesungguhnya yang paling tertekan atas kematian Karina adalah adiknya, Kalina.


Selama ini, Karina menjadi mentari bagi Kalina. Ketika orang tua dan kedua kakak laki-lakinya absen untuk memberi kehangatan, Karina hadir untuk memberikan kasih sayangnya untuk Kalina.


Tidak peduli sesibuk apapun Karina, ia tetap menyempatkan momen untuk dihabiskan bersama adiknya. Karenanya, kematian Karina benar-benar pukulan telak untuk Kalina.


Ulrich menghela nafas. Meskipun Kalina tetap keras kepala agar ia tetap belajar, tetapi Ulrich tahu bahwa Kalina masih berkabung. Dia hanya diam. Wajahnya terlihat sangat murung.


Ulrich tahu penyebab persisnya. Kalina tidak punya tempat untuk menangis. Ayolah, siapa yang bisa ia andalkan? Ibunya masih histeris sementara kemarahan ayahnya belum mereda. Dia tidak mungkin memeluk dan menangis dalam pelukan mereka. Meskipun manja, Kalina adalah gadis yang cerdas. Dia memahami kondisi keluarganya.


"Baiklah, mari kita akhiri saja pelajaran hari ini, nona Kalina. Anda harus beristirahat. Saya khawatir anda akan jatuh sakit."


Mendengar perkataan Ulrich, Kalina buru-buru mengangkat kepalanya dan menggeleng.


"Ti-tidak! Ayo kita lanjutkan saja, Ulrich! Aku masih bisa mengikuti pelajaran.... Tap!"


Sebelum Kalina menyelesaikan perkataannya, Ulrich meletakan telapak tangannya ke kepala Kalina. Ini jelas tidak sopan. Tapi Kalina tidak keberatan. Ada sensasi nyaman ketika Ulrich mulai mengelus kepalanya.


"Tidak perlu memaksakan diri, nona. Terimakasih karena sudah berjuang untuk melawan kesedihan anda. Namun nona harus beristirahat."

__ADS_1


Kalina tetap menggeleng. Astaga, bocah ini keras kepala sekali. Ulrich membawa Kalina ke dalam pelukannya. Awalnya gadis itu meronta. Namun beberapa saat kemudian menjadi tenang. Beberapa saat kembali lagi, ia mulai menangis.


"U-uwaaahhh! Kakak!! Uuuuu.... Kenapa kau meninggalkanku!? Bukankah kau sudah berjanji untuk kembali! Hiks... Hiks...."


Air matanya membasahi pakaian Ulrich. Dengan telaten, dia terus menepuk kepala Kalina dengan lembut. Dia juga mengelus punggung gadis itu, memberikan kehangatan padanya.


"Kalina.... Kau tidak perlu menahan diri. Menangis adalah reaksi yang manusiawi ketika dirimu kehilangan orang yang kau cintai. Tidak apa-apa, menangis lah hingga kau puas. Itu adalah tanda bahwa kau tidak berhenti untuk menjadi manusia."


Entah mendengarkan atau tidak, Ulrich tetap mengatakan hal itu. Kalina melewati hari-harinya dengan berat. Tidak punya tempat untuk menuangkan kesedihannya. Tidak punya waktu untuk melampiaskan tangisnya.


"Kalina.... Dunia ini kejam. Mereka tidak peduli dengan kepergian kakakmu. Kehendak dunia menolak kehadiran kakakmu.


"Kalina, kakakmu pergi untuk melindungi orang-orang yang ia cintai. Ia telah tiada untuk melindungi dirimu. Karena itu Kalina, agar kehendak dunia mengikuti kemauanmu, kau harus menjadi kuat.


Kalina tetap menangis untuk waktu yang lama, kemudian jatuh tertidur. Hatinya sudah menjadi lebih ringan berkat Ulrich.


Dia membopong Kalina dengan gendongan tuan putri dan membawanya keluar dari ruang belajar. Di luar Jakob sudah stand by. Dia memberikan Kalina kepada pelayan tua itu.


"Kalina sedang kelelahan. Tolong biarkan ia istirahat. Saya mungkin tidak berhak untuk mengatakan ini. Tolong, jaga Kalina."


Pelayan tua tersebut tidak mengatakan apapun. Dia hanya memberi anggukan kecil dan membawa Kalina pergi ke kamar gadis itu.


***


Duke Cetner memanggil kelima anak buahnya yang terlibat dalam tragedi di hutan perbatasan. Mereka sudah berkumpul di ruang rahasia yang ada di domain Duke Cetner.

__ADS_1


"Aku akan memberikan kalian misi selanjutnya."


Duke Cetner lalu menjabarkan apa saja yang harus mereka lakukan. Seperti biasanya, mereka hanya tetap diam dan mendengarkan Duke Cetner mengoceh.


Paling-paling mereka hanya mengangguk. Itu saja. Barulah ketika Duke Cetner selesai menjelaskan, kelimanya pergi keluar dari ruangan Duke Cetner yang merasa puas dengan tampang yang dingin.


"Seperti biasa, kelima orang itu tampak sangat bisa diandalkan. Darimana kau menemukan mereka semua, Count Krzys?"


Duke Cetner berbicara dengan seorang lelaki di usia awal 40 tahun yang berdiri di sisi lain. Jedrick Krzys, itulah namanya. Kepala keluarga Krzys yang sekarang.


"Yah, itu melalui usaha yang sulit. Yang jelas, mereka adalah orang-orang yang berasal dari kawasan timur Akkadia. Mereka berasal dari sebuah organisasi yang berada di ambang kehancuran.


"Mereka tampaknya berniat membangun organisasi mereka kembali. Aku manfaatkan saja untuk kemenangannya kita sambil menjanjikan bahwa kita akan memberikan mereka tempat dan dana untuk berkembang. Yah, meski pada akhirnya, kami harus membunuh banyak orang di Krakov city untuk persembahan mereka sih."


Jedrick Krzys tersenyum masam. Membawa mereka untuk berada dipihak Duke Cetner memakan banyak biaya. Tapi hasilnya setimpal. Mereka sangat berguna.


"Well, terserah. Yang jelas, kita akan bergerak mulai dari sekarang. Kurasa kekuatan yang kita himpun sudah cukup kan? Apa lagi kita akan kedatangan sekutu baru tidak lama lagi."


Mereka berdua tertawa kecil. Benas Cetner menuangkan sebuah wine ke cangkir emasnya. Dia juga menuangkan wine ke cangkir perak dan memberikannya pada Jedrick Krzys.


"Untuk kejayaan Warsawa!"


"Untuk kejayaan Warsawa!"


Keduanya bersulang. Tidak lama lagi, keluarga Mietzsko dan pendukungnya akan tersingkir dan keluarga Cetner akan menjadi penguasa baru di kerajaan Warsawa.

__ADS_1


__ADS_2