
Jean bergerak menuju ruang tanah. Tempat dimana lima orang yang berencana untuk mengkhianati paman Hull diamankan olehnya.
Nasib buruk ini seperti sudah ditakdirkan untuk kelimanya. Ah, maksudnya keenamnya. Mereka semua pergi dan bersenang-senang di bar milik Serigala Putih dan berakhir dengan malang.
Begitu Jean telah sampai di ruang bawah tanah, Jean melihat kelimanya telah babak belur. Heh, sepertinya anak buah Jean telah puas menghajar mereka.
"Bagaimana, apakah mereka sudah membuka mulut?"
"Sayangnya, belum tuan."
"Hahhh....dasar bodoh. Itu karena kalian terlalu bersemangat menghajar mereka sampai lupa untuk bertanya kan?"
Semua anak buah Jean yang ada di sana langsung merasa malu dan bersalah. Itu benar. Mereka terlalu fokus menghajar kelima orang ini sampai lupa dengan tugas mereka.
"Hahhh....mau bagaimana lagi. Baiklah, kalian semua boleh keluar. Ah, tolong panggil Nina kesini. Aku membutuhkan pertolongannya."
Mereka langsung menundukan kepala dan pergi dari ruang bawah tanah. Sekarang, tinggal mereka berenam. Jean dan kelima pengkhianat.
"Hmmm....luka kalian cukup parah ya, tuan-tuan. Hidung kalian patah dan gigi kalian rontok. Ah, tenang saja. Bergantung dengan jawaban kalian, aku akan memperlakukan semuanya dengan baik."
Jean dengan senyum manisnya duduk di depan mereka berlima. Hmmm? Alih-alih senyum manis, mungkin akan lebih tepat jika dikatakan sebagai senyum psikopatik, mungkin?
Terlepas dari itu, senyum Jean membuat kelima orang itu merasakan ketakutan yang sangat luar biasa. Baru kali ini, mereka merasa bahwa mati jauh lebih baik daripada bertatapan dengan seseorang. Benar-benar rasa takut yang tidak bisa digambarkan!
"Tenang, tenang, tidak perlu takut. Sekarang, jawab saja pertanyaanku. Dengan siapa kalian bekerja sama?"
Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab. Kelimanya hanya saling bertatapan satu sama lain sembari meringis kesakitan. Akhirnya, salah satu dari mereka, Coke, menjawab pertanyaan Jean.
"Ka-kami tidak tahu apa yang kau bicarakan! K-kau tahu, t-tadi kami ha-hanya bercanda!"
Coke sangat gugup. Dia berusaha menutupi kebenaran. Jean hanya mengangguk. Dia mendekat Coke dan menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Hahaha! Kau memiliki selera humor yang baik ya, tuan Coke."
KTRAAAAKKK!!
Jean mematahkan jari Coke. Pria bertubuh gendut itu langsung menjerit tidak karuan. Tubuhnya yang terikat di kursi meronta-ronta dengan sangat kencang.
"ARGGGHHHHH!!! AHHHH!! SAKIT! SAKIT!!"
"Ahahaha! Maaf-maaf. Aku hanya bercanda kok. Eh....siapa yang menyangka kalau jari telunjuk tuan Coke mudah sekali patah."
Kini, Jean beralih ke orang selanjutnya.
"Kau.....ah, aku ingat. Tuan Pastry? Iya kan? Katakan padaku, tuan Pastry, apakah kalian hanya bercanda tadi?"
Pria bernama pastry itu menoleh ke Coke yang telah terjatuh bersama dengan kursi yang dia duduki sambil meronta dan menjerit. Merasa terganggu dengan tindakan Coke, Jean langsung menginjak kepala Coke sampai hancur.
"To-tolong a-ampuni aku! B-baiklah! Aku akan membeberkan semua yang aku tahu!"
Jean mengangguk. Seperti yang dia janjikan, Jean tidak menyiksanya. Setelah itu, dia beralih ke tiga orang lainnya, yang menjawab dengan jawaban yang berbeda.
Jean menyimpulkan kalau semua benalu ini bekerja sama dengan orang yang berbeda meskipun tujuan mereka sama. Pada akhirnya, semua benalu ini akan saling membunuh satu sama lain ketika tujuan mereka telah tercapai.
Well, Jean sudah puas dengan jawaban mereka. Dia sudah mengetahui siapa dalang yang ada dibalik semua percobaan pembunuhan paman Hull dan orang-orang yang akan menghalangi jalannya. Tepat saat itulah, Nina masuk ke ruang bawah tanah.
"Datang untuk memenuhi panggilan anda, tuan Jean."
"Oh, terimakasih Nina. Sekarang, aku punya misi untukmu. Kemarilah."
Nina mendekat pada Jean dan lelaki itu membisikan sesuatu padanya. Awalnya Nina terkejut dengan misi yang Jean berikan. Tetapi dia tersenyum dan mengatakan kalau dia siap untuk melakukan itu.
"Baiklah tuan-tuan. Ada beberapa hal yang harus saya lakukan terlebih dahulu. Tenang saja, saya akan menepati janji yang telah saya buat. Saya akan melepaskan kalian semua. Jadi, tunggu beberapa saat, oke? Nina, Ayo kita pergi."
__ADS_1
Jean dan Nina pergi meninggalkan ruang bawah tanah. Meninggalkan empat orang yang masih hidup dan satu bangkai dengan kepala yang hancur dan isinya yang berceceran di mana-mana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sudah berapa lama mereka ditinggal di ruang bawah tanah yang dingin ini? Rasanya lebih dari empat jam. Kondisi mereka terlihat sangat buruk. Rambut berantakan, tubuh mereka bau, pakaian mereka lusuh, dan mata mereka bengkak karena tangisan dan kelelahan.
Perut mereka juga kosong dan tenggorokan mereka kering. Tidak ada satupun orang yang akan datang bahkan jika mereka berteriak karena rasa lapar dan haus.
Ini semua karena orang itu! Dia membawa mereka ke tempat lembab ini, menyiksa, mengintimidasi, bahkan mengancam! Keempatnya bersumpah untuk membalas Jean ketika mereka berhasil lolos.
Tapi mental mereka tidak stabil. Duduk terikat di kursi dengan luka yang cukup parah di wajah mereka sambil ditemani oleh bangkai yang Perlahan membusuk dan menimbulkan bau yang sangat menyengat sama sekali bukan hal yang mudah untuk ditanggung.
Ketika pikiran mereka dipenuhi rasa sakit dan dendam, pintu ruang bawah tanah terbuka dan delapan orang masuk. Tubuh mereka besar dengan wajah yang mengerikan.
Mereka memberikan keempat benalu ini minum dengan sebuah kendi dan menyumpali mereka dengan sekerat roti gandum yang kasar. Delapan orang ini lalu melepaskan ikatan mereka dan menggiring Pastry dan kawan-kawannya menuju luar bar.
Benar saja, hari sudah malam. Pastry dan kawan-kawannya telah dikurung di ruang bawah tanah lebih dari enam jam!
"Baiklah tuan-tuan, seperti yang saya janjikan, saya akan melepaskan anda. Sekarang, silahkan pergi ke rumah kalian masing-masing. Saya yakin, keluarga anda pasti sudah menunggu di rumah."
Pastry dan semua rekannya yang masih hidup langsung berdiri dan berlari. Tidak peduli sebesar apapun keinginan mereka untuk menghancurkan Jean, rasa takut yang tertanam di dalam hati mereka lebih mendominasi.
Mereka semua berlari menembus gelapnya malam. Kabut tipis yang menggantung di udara tidak menghentikan langkah mereka untuk kabur. Terkadang, mereka menabrak tembok. terkadang, mereka tersandung oleh batu. Namun mereka tetap berlari.
Mungkin sekitar satu kilometer ketika mereka berhenti karena kelelahan. Jean dan orang-orangnya tidak lagi terlihat. Kegembiraan muncul dalam diri mereka. Akhirnya, semuanya bisa lolos dari Jean! Mereka semua saling memandangi satu sama lain dan tertawa.
Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Dari balik kabut yang semakin tebal, mereka bisa melihat siluet dari makhluk berkaki empat. Saat itu juga, mereka mendengar gonggongan anjing yang menyalak.
Lari! Itulah yang ada dikatakan oleh insting mereka. Sayangnya, anjing-anjing yang berjumlah 15 itu berlari dengan cepat dan langsung menyambar mereka semua!
Tidak ada yang bisa lari. Tidak ada yang bisa kabur. Nasib dan takdir mereka telah ditentukan malam itu. Para anjing yang lapar dengan ganas memburu mereka. Merobek daging dan mencabik tubuh mereka sebelum akhirnya memakan mereka hidup-hidup.
__ADS_1
Malam itu, sebelum Kematiannya, Pastry dan ketiga rekannya melihat Jean yang tersenyum dengan bengis ke arah mereka sembari menikmati tubuh mereka yang tercabik-cabik.