
Sudah satu bulan semenjak pembangunan pelabuhan berjalan. Jean mengawasi pembangunan ini secara langsung.
Dia tidak mempercayai kerajaan Bucharest. Jean yakin orang-orang korup itu akan melakukan penyelewengan dengan setumpuk uang yang mereka terima. Karena itu, Jean harus mengawasi semuanya.
Berkat hal itu, semuanya berjalan lancar. Tiga hari pertama, para pekerja langsung menyingkirkan puing yang masih terserak. Lalu tujuh hari setelahnya, rekonstruksi mulai dilakukan. Hingga sekarang, mungkin sudah 50 persen jadi.
Jean ditemani oleh dua Vassal barunya. Rose yang memegang semua urusan mengenai militer dan Priscillia yang menjadi administrator Jean.
"Semuanya berjalan sesuai dengan yang direncanakan, tuan. Kalau progres seperti ini terus berlanjut..... kemungkinan kita bisa menyelesaikan semua ini dalam waktu dua bulan."
"Kau benar. Semakin cepat semua ini selesai, maka akan semakin bagus."
Jean sepakat dengan Priscillia.
"Baiklah, aku menyerahkan sisanya pada kalian berdua, Rose, Priscillia. Aku akan pergi mengelilingi kota ini. Sampai jumpa."
Jean menaiki kudanya setelah menepuk pundak mereka berdua. Tidak lupa, dia juga melayangkan ciuman ke bibir Priscillia dan Rose, membuat pipi kedua gadis itu memerah.
Jean tersenyum dan langsung memacu kudanya, meninggalkan kedua gadis yang masih memerah.
Entah kenapa kota Utah lebih sepi daripada biasanya. Padahal hari masih siang. Jean memacu kudanya menuju sebuah tempat. Bukan tempat yang misterius. Hanya sebuah rumah makan biasa yang seringkali dikunjungi banyak orang.
Begitu sampai di sana, Jean memakirkan kudanya di kandang yang tersedia. Setelah mengelus surainya, Jean masuk ke dalam rumah makan.
Sama seperti kondisi di jalanan kota. Rumah makan ini juga sepi. Meja yang tersebar di berbagai sudut sedang kosong. Jean tidak melihat satu pelanggan pun.
"Selamat datang tuan. Adakah yang bisa kami bantu...."
Seorang pelayan menghampirinya. Namun begitu dia tahu siapa yang datang, ekspresinya langsung berubah.
"Maaf atas ketidaksopanan saya, tuan. Saya tidak tahu kalau anda akan datang ke tempat ini."
Jean mengibaskan tangannya. Well, itu bukan salah si pegawai. Dia memang datang ke tempat ini tanpa reservasi apapun.
__ADS_1
Ngomong-ngomong, ini adalah basis bagi Serigala Putih yang dia kirim dari kerajaan Dublin. Sebenarnya ada beberapa tempat lagi. Tapi rumah makan ini adalah yang paling besar.
"Panggil 01 dan 02 untuk menghadapku sekarang."
Sang pelayan mengangguk. Dia pergi sementara Jean duduk menunggu. Beberapa saat kemudian, dua orang mendatanginya dan berlutut.
Jean memberi isyarat agar mereka duduk di bangku. Begitu mereka duduk, salah satu dari mereka memberikan beberapa lembar kertas.
"Itu adalah semua informasi yang kami dapatkan berdasarkan kebutuhan anda. Tidak banyak, tapi kami bisa menjamin keakuratan yang ada di dalamnya."
Jean membaca sekilas lalu mengangguk. Dia mengantongi semua lembaran yang terlipat ke dalam sakunya.
"Tuan Jean, tidak dipungkiri lagi kalau kerajaan ini akan bernasib sama dengan kerajaan Dublin. Karena itu, tolong, selamatkan keduanya."
Jean yang ingin berdiri, terhenti. Dia tidak menyangka kalimat semacam itu akan keluar dari mulut anak buahnya. Dengan ekspresi dingin, Jean mengatakan pada anak buahnya,
"Aku bukan pahlawan. Jadi aku tidak punya kewajiban untuk menyelamatkan siapapun."
Jean bisa melihat kepahitan hinggap di wajah anak buahnya. Tapi yah, dia belum selesai bicara.
Jean berdiri. Dia memandangi dua anak buahnya sebelum pergi.
"Karena itu, bekerjalah sekeras dan sebaik mungkin."
Setelah mengatakan itu, Jean melangkah keluar rumah makan, diikuti oleh tatapan hormat dari dua anak buahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di Saint Georgia City, Ibukota kerajaan Dublin.
"Bocah itu telah kelewatan. Kalau dibiarkan terus, bajingan itu akan semakin sewenang-wenang. Dengan cara apapun, kita harus menghentikan dia."
Di dalam ruang makannya, Viscount Lostov tidak bisa menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
Dia tidak sendiri. Hal yang sama juga dirasakan oleh dua bangsawan berpengaruh lainnya. Earl Baldric dan Duke Cassilas.
"Kau benar, Viscount Lostov. Dia telah seenaknya membuat perjanjian damai dengan musuh. Bahkan, dia juga memberikan mereka bantuan dengan dermawan. Semua perbuatannya benar-benar membuatku sakit kepala!"
Earl Baldric juga menumpahkan rasa geramnya. Duke Cassilas mengangguk. Dia juga setuju.
Dengan berbagai cara, mereka sebenarnya telah berusaha untuk menumpas Jean. Entah itu dengan mencoba untuk memboikot dan mengisolasi dia dari lingkaran bangsawan lain, ataupun mencoba untuk membuat seolah-olah Jean telah mengkhianati kerajaan.
Hasilnya nihil. Jean tidak peduli jika dia dikucilkan oleh bangsawan lainnya. Dia telah mendapatkan tempat favorit di hati raja. Memberikan dia wilayah dan gelar Baron adalah buktinya.
Begitu juga soal pengkhianatan. Jean mungkin memang bertindak sangat kurang ajar dengan membuat perjanjian damai dengan kerajaan Bucharest. Lebih dari itu, mereka juga mendapatkan bantuan yang sangat besar.
Tetapi Jean berhasil meyakinkan raja bahwa kedua hal itu adalah sesuatu yang sangat menguntungkan. Dengan perjanjian damai, kerajaan Dublin memiliki waktu untuk menyusun ulang kekuatan mereka.
Soal bantuan yang Jean berikan pada kerajaan Bucharest, Jean juga dengan mengatakan kalau ini mendatangkan profit yang menguntungkan kerajaan Dublin di masa depan. Kerajaan Dublin akan mendapatkan pemasukan yang lebih banyak dari upeti yang dibayarkan lewat Jean.
Mau dilihat darimana pun, argumen Jean sangat masuk akal. Dia juga tidak terindikasi melakukan hal-hal aneh lainnya. Tidak peduli sekeras apapun usaha mereka untuk mencari celah dan menyelidiki kesalahan yang mungkin Jean lakukan, para bangsawan ini tidak menemukan kesalahan apapun.
"Pada akhirnya, ini semua terjadi karena kebodohan sang raja yang telah memberikan bocah itu kesempatan. Alih-alih menyingkirkan bocah itu, yang harus kita lakukan adalah membereskan akar masalahnya."
Viscount Lostov dan Earl Baldric tertegun dengan perkataan Duke Cassilas. Tidak perlu jenius untuk memahaminya niat Duke Cassilas.
Selama ini, Duke Cassilas telah berusaha menanamkan pengaruhnya dalam tubuh keluarga kerajaan. Dia bahkan menikahi adik perempuannya dengan raja agar bisa mengendalikan kerajaan Dublin di bawah kakinya.
Namun orang itu terus-menerus melawan pengaruhnya dan berusaha menjaga otoritasnya sebagai seorang penguasa. Sudah waktunya bagi Duke Cassilas untuk menjadikan keponakannya, pangeran Hans Cassilas Dublin, sebagai penguasa baru yang bisa dia kendalikan sesuka hatinya.
"Anda berdua pasti berbagai pikiran yang sama dengan saya kan?"
Viscount Lostov dan earl Baldric mengangguk."
"Karena itu, kita harus segera bergerak. Ingat, ini adalah rahasia di antara kita bertiga. Tidak ada satupun dari kalian yang boleh membocorkan ini pada siapapun, termasuk orang-orang terdekat kalian. Paham?"
Lagi-lagi, kedua bangsawan itu mengangguk. Mereka tidak berani melawan kehendak Duke Cassilas. Segera, perbincangan mereka telah selesai.
__ADS_1
Benar-benar tanpa di sadari oleh ketiganya, Natasha Lostov, anak perempuan viscount Lostov, menguping pembicaraan mereka.