Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Kematian


__ADS_3

Maaf kalau chapter sebelumnya menjadi lebih kacau. Sejujurnya, Author butuh waktu untuk menyusun plot yang tepat untuk cerita ini. Selain itu, Karena beberapa kesibukan, pikiran saya jadi mudah terdistraksi. Semoga chapter ini dan chapter-chapter selanjutnya akan menjadi lebih asyik dan seru.


Salam, Author.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Satu tahun berlalu begitu saja. Sekarang Jean telah berusia 14 tahun. Tingginya yang sekarang mencapai 170 cm. Cukup tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya.


Selain fisiknya yang berkembang, kekuatan dan tingkat kultivasinya juga meningkat. Bahkan, dia telah menembus tingkat keenam. Tentu saja, tidak ada yang tahu tentang hal ini kecuali dirinya sendiri.


Tidak hanya dirinya, semua yang ada di sekelilingnya juga berkembang. Kelompok Serigala Putih menjadi kelompok paling dominan setelah perang antara Beruang Merah dan Kuda Hitam selesai. Luka bekas pertempuran mereka belum sembuh.


Charlotte, Selena, dan Natasha juga benar-benar tumbuh. Selain dada mereka yang mekar, tinggi ketiganya juga bertambah. Sekarang, ketiganya terlihat sangat cantik, terdidik, dan berwibawa.


Tapi ada yang satu orang yang seolah menentang aturan zaman. Bibi Cassie. Terlepas dari waktu yang berlalu, dia sama sekali tidak terlihat bertambah tua! Di tahun ini dia sudah memasuki yang usia 40 tahun tapi wajahnya dan tubuhnya seperti masih berusia 30 tahun!


Namun, terlepas dari semua berita dan kabar baik, ada awan gelap yang menghapus jejak seluruh kesenangan. Paman Hull jatuh sakit. Bukan sakit biasa. Ini adalah sakit yang sangat parah.


Charlotte, Selena, dan bibi Cassie mencari berbagai cara untuk mempercepat penyembuhan paman Hull. Mereka memanggil banyak dukun, Priest dari gereja, atau orang lain yang memiliki kemampuan dalam sihir penyembuhan.


Charlotte juga mencoba untuk menyembuhkan sakit yang menimpa paman Hull, tapi semua upayanya gagal. Tidak hanya Charlotte, tetapi seluruh orang yang telah mencoba juga gagal.


"Sudahlah, kalian semua. Tidak peduli berapapun dan siapapun yang kalian panggil......tidak akan ada yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Satu-satunya yang bisa mengangkat penderitaanku adalah......sebuah keajaiban. Itupun jika.....keajaiban benar-benar nyata."


Itulah yang paman Hull katakan sebelum dirinya jatuh dalam koma. Jean sangat mengingatnya. Waktu itu seisi rumah menjadi sangat panik. Bibi Cassie dan Charlotte menangis seharian penuh.


Begitu juga Selena dan pekerja yang lainnya. Meskipun mereka tidak menangis, tetapi wajah mereka suram. Semuanya bahkan tidak mood untuk melakukan apapun.

__ADS_1


Kabar tentang paman Hull yang jatuh sakit sudah tersebar. Termasuk ke telinga para pesaingnya. Mereka jelas akan menggunakan kesempatan ini untuk melakukan hal-hal aneh. Jadi Jean telah mengerahkan Serigala Putih untuk mengawasi mereka semua.


Sampai hari ini pun, ketika paman Hull sudah terbangun dari komanya, seluruh keluarganya masih diliputi kesedihan. Benar-benar cocok ketika disandingkan dengan cuaca yang mendung sekarang.


"Jean....Tuan Hul.... memanggilmu."


Jean sedang berada di dapur ketika Selena berbicara dengan dirinya. Tepat sekali, dia bisa menyiapkan makanan untuk paman Hull.


"Baiklah, aku akan pergi ke kamar paman Hull. Selena, aku serahkan pekerjaan ini padamu."


Selena mengangguk dalam diam. Sementara Jean pergi sambil membawa nampan yang berisi makanan untuk paman Hull, Selena menggantikan posisi Jean di dapur. Jean hanya menggeleng melihatnya. Selena juga masih murung.


Jean berjalan terus melewati lorong rumah. Cahaya matahari tidak masuk karena sedang mendung. Angin juga bertiup lebih kencang daripada biasanya. Gerimis juga mulai merintik. Sebentar lagi hujan deras akan turun.


Ketika Jean sampai di depan pintu kamar paman Hull, Jean mengetuknya. Ketika dia mendengar suara lemah paman Hull dari dalam, barulah dia masuk ke kamarnya.


"J-jean.....i-itukah dirimu?"


"Ya, paman Hull. Aku di sini."


"Ah....ternya-ta, begitu ya. Hahaha."


Paman Hull tertawa lemah. Dia senang dengan kehadiran Jean. Faktanya, meski Jean tidak mengetahuinya, paman Hull telah menganggap Jean sebagai anaknya. Dia bahkan tidak lagi memedulikan nasib Samuel meskipun dia anak kandungnya. Bagi paman Hull, Jean adalah anak laki-lakinya.


"Jean..... sepertinya....saatnya sudah tiba."


Jean yang sedang bersiap untuk menyuapi paman Hull, membeku.

__ADS_1


Jean jelas sangat paham apa yang dimaksud oleh paman Hull. Tetapi Jean menggeleng kecil.


"Setidaknya, makanlah terlebih dahulu, paman Hull."


Paman Hull tertawa kecil. Jean menyuapinya dengan telaten. Tidak ada seorangpun yang ada di dalam kamar. Hanya mereka berdua.


Saat sedang makan, paman Hull terbatuk beberapa kali sehingga bubur gandum yang ada di mulutnya terlempar kemana-mana. Jean dengan sabar mengelap wajah paman Hull dan menyuapinya hingga makanannya habis.


"Terimakasih....Jean. Se-sekarang....tolong ambilkan kertas yang ada di laci mejaku."


Jean beranjak menuju meja paman Hull dan membuka lacinya. Ada sebuah kertas yang ditutupi oleh amplop. Jean ingin memberikannya kepada paman Hull tetapi dia mengisyarakatkan agar Jean menyimpannya.


"Jean.... terimakasih. Setelah melihatmu besar, aku bisa tenang. Aku menitipkan Charlotte, Cassie, dan semua yang ada di rumahku. Terimakasih, Jean. Sekarang...la-lakukanlah."


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Jean mengangguk. Dia berdiri dan mengambil bantal yang tergeletak di kaki paman Hull.


Jean menatapi paman Hull dengan tatapan nanar. Matanya berkaca-kaca. Dia berusaha menahan tangisnya tetapi paman Hull tersenyum untuk menenangkannya.


'Tidak apa-apa. Ini adalah keinginanku.'


Seolah, paman Hull mengatakan itu pada Jean. Anak itu menguatkan dirinya. Kenangan dia dengan paman Hull, semua yang telah dia ajarkan pada Jean, silih berganti memenuhi kepala Jean.


Dengan senyum yang sangat tenang, paman Hull mengatakan satu hal.


"Terimakasih Jean. Dan...maafkan aku."


Jean langsung mendekap wajah paman Hull dengan bantal. Tidak ada rontaan, tidak ada erangan kesakitan. Tubuh paman Hull hanya berguncang sedikit dan setelah itu, diam untuk selamanya karena kehabisan nafas.

__ADS_1


Siang itu, setelah berjuang selama satu tahun untuk melawan penyakitnya, di tengah cuaca nan mendung, paman Hull dinyatakan meninggal dunia.


__ADS_2