Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
With Natasha


__ADS_3

Sementara itu, di pusat Pemerintahan kekaisaran Eisengrund.


Natasha, sang kaisar yang memegang kendali atas seluruh wilayah kekaisaran, baru saja terbangun dari tidurnya. Cahaya matahari pagi menerobos kamarnya. Suara burung-burung berkicauan menyambut dirinya. Udara pagi nan sejuk masuk melewati relung ventilasi yang ada di kamarnya, membuat udara dingin menyentuh kulit seputih susunya yang lembut.


Natasha menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Kini yang tersisa hanyalah tubuh indahnya yang hanya dibungkus oleh dalaman yang Natasha pakai. Entah sejak kapan, Natasha mengembangkan kebiasaan untuk tidur hanya dengan menggunakan dalaman saja. Mungkin semenjak tubuhnya bersatu dengan kekasihnya?


Natasha membasuh wajahnya dengan air. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk bermalas-malasan. Ada segudang pekerjaan yang menumpuk baginya. Ada masalah-masalah baru yang muncul di kekaisaran yang harus segera diselesaikan.


Begitu selesai membasuh wajahnya, Natasha kembali ke kamarnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat secangkir teh panas telah terhidang di meja kerjanya. Dia tidak ingat telah membuat secangkir teh. Dirinya juga tidak bisa mendeteksi kehadiran pelayan.


"Oh, nampaknya kau sudah segar, sayang. Duduklah, aku sudah membuat teh panas untukmu."


Pikiran Natasha berhenti sejenak. Tidak.... tidak salah lagi bahwa itu adalah suara kekasihnya, Jean! Tapi darimana? Natasha mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia tidak menemukan Jean sama sekali. Mungkinkah itu hanya imajinasinya? Mungkin hampir lima tahun ditinggal oleh Jean membuat dirinya mudah berhalusinasi?


Natasha menggeleng. Itu tidak mungkin. Tidak peduli apapun masalah yang ia alami, Natasha masih bisa menjaga kewarasannya. Ketika tengah berjibaku dengan pikirannya, Natasha merasakan sebuah pelukan datang dari belakangnya. Belum sempat dirinya bergerak, sebuah suara masuk ke dalam telinganya.

__ADS_1


"Kau lengah, Natasha sayang. Seorang penguasa tidak boleh melengahkan penjagaannya. Bahkan jika dirimu kuat sekalipun."


Seluruh tubuh Natasha bergetar. Dia dapat merasakan suara dan nafas panas Jean menyebar ke seluruh tubuhnya. Berbagai perasaan langsung membuncah ke dalam dirinya. Perasaan cinta, rindu, marah, senang, dan berbagai perasaan lain bercampur aduk ke dalam dirinya.


"J-jean..... Hei, b-benarkah ini dirimu?"


Natasha perlahan menorehkan kepalanya ke arah belakang. Dan yang dua lihat adalah apa yang selama ini ia tunggu. Kekasihnya, pujaan hatinya, Jean Von De Ruhr, berdiri sembari tersenyum dan memeluk Natasha dari belakang. Air matanya tumpah. Natasha memutar badannya dan memeluk Jean seerat mungkin. Lima tahun lebih sudah mereka berpisah. Kini akhirnya mereka bersua kembali.


Natasha mendengar Jean tertawa kecil, mungkin sedikit berniat untuk menggodanya. Namun hal itu justru membuat Natasha memeluk Jean semakin erat. Dia menggosok wajahnya ke dads Jean yang kekar.


Jean menyeringai. Dia juga melakukan hal yang sama. Selanjutnya adalah sejarah


...****...


Natasha dan Jean berbaring di atas kasur. Nafas Natasha tersengal, menghembuskan nafas penuh godaan. Tubuhnya dipenuhi oleh cairan jus cinta dan bibit putih hangat milik Jean. Menjadikan dada Jean sebagai bantal, Natasha dengan nyaman bermesraan dengan kekasihnya.

__ADS_1


Lebih dari tiga jam mereka melakukannya tanpa henti. Sebagai kompensasi atas ketidakhadiran Jean selama ini, Natasha dibiarkan melakukan apapun yang ia sukai. Jerit penuh kenikmatan Natasha bagaikan melodi indah yang Jean dengar. Ekspresi klimaksnya ibarat lukisan nan indah. Jean dan Natasha menikmati setiap momen.


"Tidurlah sejenak, sayangku. Aku akan mengurus sisanya."


Natasha mengangguk dan jatuh terlelap. Jean tersenyum dan mencium kening Natasha. Tidak lupa, Jean membersihkan tubuh Natasha dengan sihir dan menutup kulit seputih susunya dengan sehelai selimut.


Setelah memastikan Natasha tertidur, Jean mengenakan pakaiannya kembali. Kemudian, dia menjetikan jarinya dan setumpuk dokumen muncul di hadapannya. Dengan cermat Jean membaca semua dokumen tersebut, yang berisi mengenai berbagai laporan serta rencana yang Natasha terima dan buat.


Selama dirinya berada di kerajaan Warsawa, dia mengetahui seluruh peristiwa yang terjadi di kekaisaran secara realtime. Karenanya, membaca dokumen untuk mencari informasi mengenai situasi kekaisaran tidak begitu berguna. Dia hanya ingin melihat secara langsung bagaimana Natasha menangani laporan yang dia terima dan bagaimana Natasha mengambil keputusan.


Membaca dokumen yang tersaji membuat Jean mengannggukan kepalanya. Sejauh ini Natasha telah tumbuh menjadi penguasa. Meski begitu, Natasha masih harus banyak belajar. Lewat hadiah cincin yang ia berikan kepada seluruh kekasihnya di kekaisaran, Jean telah memberikan sebuah buku panduan pada Natasha. Namun tentu saja, Natasha tidak bisa langsung mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari. Wajar, semuanya butuh proses.


Sebagai contoh, Natasha terlalu fokus mengalihkan pandangannya menuju timur, yang membuat dirinya tidak terlalu mencermati potensi ketidakstabilan di dalam negeri. Para bangsawan yang masih memiliki kekuasaan di wilayah-wilayah taklukan kekaisaran sedang merencanakan sebuah pemberontakan. Mereka juga bekerjasama dengan League of Salzburg untuk merebut kembali kekuasaan mereka.


Jean memutuskan untuk tidak banyak melakukan intervensi. Kecuali jika Natasha yang meminta, dia akan melakukannya. Meski begitu, dia juga sudah memiliki rencana untuk menindak para bangsawan yang sulit diatur.

__ADS_1


Jean melanjutkan aktivitasnya hingga beberapa saat kemudian. Sebelum akhirnya waktu untuk sarapan telah tiba.


__ADS_2