Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Jeanne First Time


__ADS_3

Sepuluh hari setelah fenomena hujan cairan aneh dan tragedi kematian lebih dari 2/3 Warga kota Krakov dan 1/3 populasi di kerajaan Warsawa, Jeanne sedang terduduk di kamarnya. Meskipun siang hari, entah mengapa suasananya serasa seperti malam telah tiba. Matahari memang masih menyinari bumi, namun tiada kehidupan yang hingar-bingar seperti biasanya.


Berkali-kali ia menghembuskan nafas. Semuanya tidak lagi sama. Tidak ada lagi warga yang menyapanya dengan ramah, sambil sesekali memberikan yang mereka miliki untuk ucapan terimakasih atas kebaikan Jeanne. Tidak ada lagi anak-anak yang akan menyapanya di sore hari manakala ia mulai berpatroli.


Sebaliknya, bersama beberapa ksatria yang tersisa, dia menguburkan nyaris semua korban dengan tangannya sendiri. Banyak dari mereka yang meskipun Jeanne tidak mengenal namanya, dia tidak asing dengan wajah mereka.


Untunglah, orang-orang yang ia kenal di samping keluarga dan temannya berada dalam kondisi baik-baik saja. Meskipun mereka trauma dan shock dengan apa yang menimpa mereka, setidaknya mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan hidup. Itulah yang pada akhirnya membuat Jeanne tidak terlalu sedih. Yah, walau begitu ia juga bertanya-tanya. Apakah reaksi tidak terlalu sedihnya menandakan bahwa ia masih waras?


Saat tengah tenggelam dalam lamunannya, pintu kamarnya terbuka. Adiknya, Jean, membawa makanan untuknya. Melihat hal itu mood Jeanne meningkat. Tidak biasanya Jean memasak dan Jeanne sangat memahami betapa lezatnya makanan yang adiknya masak. Karena itu, ia menjadi sangat antusias!


"Makan malam untukmu sudah siap, kakak. Ini, makanlah."


Jean menyodorkan semangkuk sup berisi potongan dari berbagai jenis ikan langka yang sangat lezat dan bergizi. Selain itu, yang lebih penting lagi adalah fakta bahwa ikan tersebut mengandung banyak mana yang sangat berguna untuk berkultivasi.


Selain Potongan ikan, Jeanne juga melihat berbagai sayur yang dapat ditemui di hutan serta beberapa rempah-rempah langka. Perpaduan dari berbagai bahan tersebut membuat aroma sup ini terasa begitu menggugah.


Selain sup, Jean juga membuatkan Jeanne roti. Bau roti buatannya sangat sedap, semakin membangkitkan selera makan Jeanne. Tanpa banyak cakap, Jeanne mengambil sepotong roti, membelahnya, lalu mencelupkan salah satu bagiannya ke dalam kuah sup.

__ADS_1


Begitu roti tersebut menyentuh lidah Jeanne, mulutnya segera merasakan sensasi rasa yang sangat lezat. Perpaduan antara bumbu dan kaldu yang diracik dengan begitu apik serta tekstur roti yang lembut membuat kelezatan pecah di mulut Jeanne.


"Enak sekali!! Masakan buatanmu tidak pernah membuat ku bosan, Jean!!"


Dengan ceria, Jeanne menghabiskan semua makannya dalam waktu kurang dari dua menit. Itu sangat lahap. Bahkan Jeanne sendiri tidak menyangka dia bisa menghabiskan secepat itu, menyesal karena terlalu cepat menikmatinya.


Tahu apa yang kakaknya pikirkan, Jean tersenyum lalu mengecup kening Jeanne. Jeanne yang menyadari hal itu tidak marah. Sebaliknya, ia bahagia dan wajahnya memerah karena malu.


"Tenang saja, aku akan membuatkan sarapan untuk kakak besok, jadi kau tidak perlu khawatir."


Jeanne dan adiknya tertawa. Sungguh, dia sangat bahagia memiliki Jean sebagai adiknya. Entah mengapa, terlepas dari statusnya sebagai seorang kakak, justru dirinya lah yang banyak dimanjakan oleh adiknya. Meski perannya agak tertukar, Jeanne tetap bahagia dengan hal tersebut.


Jean memasukan lidahnya ke dalam mulut Jeanne dan memainkan lidah kakaknya. Jeanne yang tidak berpengalaman sangat kesulitan untuk menandingi Jean. Perlahan, tubuhnya menjadi panas dan ada sensasi menggelitik di bagian perut bawahnya.


Nafas Jeanne menjadi sangat kasar. Keduanya menjadi liar. Tangan Jean mulai meraba tubuh Jeanne dengan yang sangat lembut. Erangan lembut keluar dari mulutnya. Lama-kelamaan, Jeanne mulai menyesuaikan ritmenya dengan adiknya.


Begitu mulut mereka berpisah, sebuah jembatan Saliva muncul diantara keduanya. Jeanne merasakan tubuhnya dengan sangat panas. Dengan sangat handal, Jean membuka seluruh pakaian yang digunakan oleh Jeanne, menyisakan tubuh kakaknya tanpa sehelai benangpun yang menempel.

__ADS_1


"Jean....."


Sampai di sini, Jeanne kehilangan akal sehatnya. Dia tenggelam bersama nafsu bersama adiknya. Jean mengecap seluruh bagian tubuh Jeanne, termasuk gua milik kakaknya yang sudah sangat basah. Melihat kakaknya yang sudah sangat terangsang, Jean melepas pakaiannya.


"Jean!! Mi-milikmu..... Sangat besar!!"


Itulah reaksi pertama Jeanne ketika melihat 'tombak' milik adiknya. Jean yang melihat reaksi kakaknya langsung membaringkan Jeanne di atas kasur tanpa banyak cakap.


Malam itu, meskipun udara di luar terasa begitu dingin, hawa di kamar Jeanne terasa sangat panas.


***


Seorang pelayan wanita berjalan di lorong mansion count Lesko yang sunyi. Tidak ada ksatria yang berpatroli. Api yang berasal dari lampu minyak di sepanjang lorong berhembus ke sana dan kemari.


Kemudian, pelayan tersebut memasuki sebuah kamar. Di dalam kamar tersebut seorang gadis berambut violet sedang tidur dengan tenang. Meski begitu, wajahnya mengekspresikan kalau ja sangat kesepian dan menderita. Pelayan itu duduk di pinggir kasur dan mengelus rambut gadis tersebut.


"Maafkan aku karena telah meninggalkanmu, Kalina sayang. Jangan khawatir. Sebentar lagi..... Sebentar lagi, ketika semua urusannya selesai, aku pasti akan kembali bersamamu. Kita akan menghabiskan waktu seperti yang dulu."

__ADS_1


Tanpa sadar, air mata jatuh dari topeng yang ia gunakan. Ya, sebentar lagi....


__ADS_2