
Panggilan melalui utusan telah datang kepada Jean untuk melakukan pertemuan dengan pangeran Hans dan para pengikutnya. Dia membawa asisten barunya, sang gadis navigator bernama Rose, untuk ikut bersamanya.
"Tuan Jean! Tolong jangan terlalu cepat! Saya akan jatuh!!"
"Maaf! Tapi aku juga sedang buru-buru! Pegangan yang kuat agar kau tidak terjatuh!"
Jean dengan lihai memacu kudanya menggunakan kecepatan yang sangat tinggi. Walaupun Rose yang duduk di belakangnya terasa ingin mati!
Akar-akar yang menjulang, dahan-dahan pohon yang merambat ke tanah, maupun bebatuan nan licin, semuanya bisa dihindari oleh Jean. Rose dengan kencang memeluknya dari belakang. Oh, dadanya yang kenyal bersentuhan dengan Jean. Boleh juga, rasanya cukup surgawi!
Jean dan Rose sampai ke tenda utama milik pangeran ketika semuanya sudah berkumpul. Tidak ada ketegangan yang hinggap di wajah mereka. Malahan, ekspresi mereka dan gestur tubuhnya sangat santai.
Jean tahu bahwa hari ini, 10 hari setelah renacana penaklukan kerajaan Bucharest tertunda, pangeran Hans dan seluruh pengikutnya memutuskan untuk bergerak.
Mereka telah mengumpulkan seluruh ksatria, tentara bayaran, dan milisi yang mereka bawa dari kerajaan Dublin untuk melakukan serangan hari ini. Sebuah peta terbentang di atas meja dan beberapa pion kecil tergeletak di atasnya.
"Jean, tugasmu adalah berjaga di garis belakang dan memastikan pasokan makanan tetap lancar! Kau tidak diizinkan untuk pergi meninggalkan posmu apapun yang terjadi! Mengerti!?"
Pangeran Hans berusaha sekeras mungkin untuk menggertak Jean. Padahal, dia langsung gemetar ketakutan saat Jean memasuki tenda miliknya.
Jean hanya mengangguk. Ekspresi kecewa menggantung di wajahnya. Rose yang melihat keputusan pangeran Hans dan muka putus asa Jean menghela nafasnya dan menggeleng sembari mengumpat di dalam hati.
'Apakah pangeran ini begitu tolol sampai-sampai membuang bawahannya yang berharga!?'
Siang itu juga, pangeran Hans dan para pengikutnya berangkat menuju garis depan. Bryant yang membawa tentara bayaran paling banyak dan Viscount Lostov yang memiliki ksatria dan milisi palinga banyak, di samping keluarga Cassilas dan keluarga Baldric, diberikan kewenangan yang cukup besar untuk memimpin rekan pedagang dan bangsawan mereka.
Rose memandangi kepergian mereka dari kejauhan. Dia menghela nafas dan menoleh ke arah Jean yang sedang kecewa. Namun betapa terkejutnya Rose ketika Jean mengeluarkan seringai lebar di mulutnya. Ekspresinya benar-benar berbeda dengan yang tadi!
"Tu-tuan Jean...a-anda..."
Hmmm? Jean menengok ke Rose yang sedang ketakutan. Seketika dia sadar sedang menyeringai dan langsung menutup mulutnya. Ehem! Itu sedikit memalukan!
"Kita tidak lagi memiliki urusan di sini. Ayo kita kembali ke desa dan mengirimkan beberapa orang untuk menjaga tempat ini."
__ADS_1
Dan sekali lagi, Rose hampir mati karena Jean mengendarai kudanya seolah-olah berjalan menuju neraka!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tidak seperti yang dibayangkan oleh pangeran Hans, Greg Cassilas, dan Hansen Baldric, rencana mereka sama sekali tidak bekerja! Sebaliknya, kegagalan demi kegagalan selalu menemui mereka.
Entah mereka ataupun Bryant dan Viscount Lostov sama sekali tidak mengira bahwa kerajaan Bucharest akan melakukan perlawanan yang sangat sengit. Mereka juga mendapatkan bantuan dari kerajaan Vilnius dan berhasil meredam serangan musuh mereka.
Korban jiwa berjatuhan di pihak kerajaan Dublin tanpa kerusakan signifikan yang menimpa kerajaan Bucharest. Tembok mereka cukup tebal sehingga merusaknya dengan gelonggongan kayu yang diikat menjadi satu tidak cukup untuk merobohkannya.
Mereka juga telah mencoba untuk memanjat tembok pertahanan dengan tangga yang besar. Tetapi, ketika mereka berusaha untuk mencapai atas, pasukan musuh langsung menuangkan sebuah cairan hitam yang sangat panas! Tubuh pasukan kerajaan Dublin langsung meleleh begitu mereka tersiram oleh cairan itu.
Situasi benar-benar chaos! Para tentara bayaran, yang tidak memiliki kewajiban untuk berperang hingga titik darah penghabisan, kabur meninggalkan para pedagang yang menyewa mereka.
Beberapa ksatria yang kehilangan tuan mereka juga kabur, diikuti oleh para milisi yang nyalinya telah menciut. Mereka tidak mau mati!
Tapi, mereka tidak seberuntung itu. Jean dan para prajuritnya telah berdiri di garis belakang dengan panah anak panah yang siap ditembakan dari busurnya.
"Selama tidak ada perintah untuk mundur dari pangeran, maka siapapun yang meninggalkan Medan perang akan langsung dieksekusi!!"
Ultimatum dari Jean membuat mereka hanya memiliki dua pilihan. Mati di tangan musuh atau mati di tangan sekutunya sendiri.
Mereka mungkin akan mendapatkan sedikit keberuntungan ketika berpaling lagi ke harus depan. Kalau beruntung, mereka mungkin akan selamat entah bagaimana caranya. Atau bahkan mendapatkan kredit atas kerja keras mereka.
Namun, bagi siapapun yang keras kepala untuk kabur, Jean tidak memberikan ampun. Dia akan menembak orang-orang yang lari tanpa pandang bulu.
"Kenapa kau melakukan ini, tuan Jean?"
Rose penasaran. Dia tidak menentang perintah Jean. Pertanyaan ini muncul murni karena rasa ingin tahunya.
"Kenapa katamu? Bukankah orang-orang seperti mereka cocok dijadikan target untuk pelajaran memanah?"
"Eh?"
__ADS_1
"Hahh....aku hanya ingin memberi pelajaran pada mereka yang melarikan diri. Itu saja."
Jean memandangi tumpukan mayat yang berjejer.
"Para desertir itu, pada akhirnya, akan menjadi sesuatu yang merepotkan. Entah itu bandit, perampok, dan kelompok kriminal lainnya. Tindakan mereka menghalangi rencanaku di masa depan. Lebih baik untuk dihabisi sekarang sebelum menjadi tumor."
Jean dengan santai memanah kepala seorang ksatria yang lari terbirit-birit.
"Ah, bolehkah aku bertanya hal lain, tuan Jean?"
"Hmmm? Oke, tanyakan saja."
"Kenapa anda terlihat senang ketika pangeran Hans melarang anda untuk terjun ke garis depan meskipun anda memasang ekspresi kecewa sebelumnya?"
Jean tersenyum. Dia duduk di tanah dan mengambil sebuah batu lalu melemparkannya pada seonggok bangkai yang terkapar.
"Mereka tidak mau aku mendapatkan prestasi lebih. Menaklukan tiga desa ini dan memotong persediaan makanan bagi penduduk ibukota kerajaan Bucharest saja adalah prestasi yang cukup besar. Kau sendiri tahu itu kan?"
Rose mengangguk. Dia adalah gadis yang cerdas. Jadi dia tahu tentang niat pangeran Hans.
"Tetapi kenapa anda menerima hal itu, tuan Jean?"
Jean tersenyum lagi. Kali ini, dia melihat rombongan burung gagak mengitari mayat-mayat yang bergelimpangan. Jean membiarkan gagak-gagak itu melakukan sesuka hati mereka.
"Bagus kan? Aku tidak perlu mengirimkan prajurit yang kumiliki untuk perjuangan yang sia-sia. Mereka pasti gagal. Mungkin dengan campur tanganku, kerajaan Bucharest bisa segera jatuh.
"Namun, harga yang harus aku bayar terlalu mahal. Prajuritku akan banyak yang tewas. Membawa mereka pada perang di garis depan kali ini adalah investasi yang sia-sia."
Well, Jean lebih memilih untuk menginvestasikan sumber daya nya pada hal lain. Dan untuk itu, dia sudah menyiapkan semuanya.
"Kabar itu akan sampai besok atau lusa. Dan aku yakin, orang-orang itu pasti akan setuju."
Rose sama sekali tidak bisa membaca niat Jean. Entah kenapa, tubuh Rose tiba-tiba merinding ketika melihat Jean yang sedang memandangi kerumunan gagak nan sibuk mematok mayat-mayat dengan mata yang sangat tenang.
__ADS_1