
Singkat cerita, ini semua bermula ketika Jean selesai menikmati seorang gadis yang menawarkan dirinya sendiri. Yah, dia tidak memaksa. Tapi kalau ada yang menawari, Jean tentu akan mengambilnya.
Dia sedikit membersihkan diri dan memakai kembali bajunya. Jean membiarkan gadis itu dengan wajah puas setelah dia mengeluarkan cairan hangatnya berkali-kali ke rahim gadis itu. Jean juga menyelimutinya agar dia tidak kedinginan.
Setelah meregangkan tubuhnya, Jean keluar dari kamar. Dia teringat tentang butiran gandum yang jatuh di lantai. Jadi dia memungutnya. Dia akan menyimpan ini.
Begitu Jean berjalan menuju posnya kembali setelah keluar dari rumah sang gadis, dia melihat para prajuritnya sedang meringkus 20 orang.
"Siapa mereka?"
"Mereka adalah orang-orang yang berusaha melakukan perlawanan kepada anda, tuan Jean. Mereka memboikotnya diri dan tidak ikut bekerja. Tidak hanya itu, mereka juga merencanakan untuk menyerang anda ketika anda sedang lengah."
Jean bertanya kepada gadis navigator dan gadis itu memberitahukan semuanya. Jean memandangi orang-orang yang telah babak belur itu dengan tatapan hina.
"Sepertinya mereka punya kekuatan yang cukup untuk melawan balik. Kelihatannya, mereka adalah orang-orang kaya yang memiliki jaringan dengan bangsawan dan pedagang yang ada di ibukota kerajaan Bucharest."
"Memang benar."
__ADS_1
Gadis itu mengangguk.
"Mereka adalah orang-orang kaya yang memiliki lahan luas di ketiga desa ini. Tiga dari mereka adalah kepala desa dan sisanya adalah pengikut mereka. Ah, dan lelaki yang tadi pagi menyerang salah satu prajurit anda adalah salah satu putra mereka."
Jean mengangguk. Dia sudah memahami kondisinya. Jean menoleh lagi ke arah mereka dan telah memikirkan keputusannya.
"Baiklah. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku akan mengeksekusi siapapun yang melawanku. Gantung mereka di jalanan dan beri peringatan kepada seluruh penduduk."
Begitu mendengar vonis yang Jean keluarkan, semua orang itu meronta tidak terima. Mereka mengutuk Jean, memakinya, dan merendahkannya. Jean hanya memandangi mereka dengan tatapan puas.
"Tidak peduli sebanyak apapun kalian mengeluarkan kalimat busuk dari mulut kotor kalian, fakta tidak akan berubah. Aku telah mengalahkanmu semua dan menaklukan tempat ini.
Jean mengangguk pada prajuritnya.
"Silahkan, gantung mereka semua. Ambil semua harta mereka yang masih tersisa dan jangan menahan diri."
Dan begitulah, 20 orang digantung secara bersamaan dan mayat-mayat mereka dibiarkan begitu saja.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Seperti itulah ceritanya, mmmm....siapa namamu tadi, ah, Priscillia. Kau akan bernasib sama jika kau berani menunjukan perlawanan padaku."
Gadis itu, Pricillia, dengan gemetar mendengar cerita Jean yang sedang minum teh. Bagaimana bisa dia mengatakan semua itu dengan santai!? Tapi Jean nampak tidak peduli. Sepertinya dia benar-benar tidak melihat mereka sebagai manusia.
"Tapi tenang saja. Khusus untuk pemuda itu....yah, meskipun aku tidak peduli dengannya juga sih, tidak kubunuh. Tapi, apa yang kau lakukan tadi belum cukup untuk menebus dosa orang itu."
Jean mengangkat sebuah tangkai gandum dan menunjukan pada Priscillia yang sedang menahan rasa takutnya.
"Jadilah milikku dan aku akan memberinya kesempatan untuk hidup dan pergi dengan bebas."
Priscillia jatuh dalam kebingungan. Apa maksud menjadi miliknya? Apakah itu berarti dia harus mengikuti orang ini selama sisa hidupnya?
"Pilihan jatuh padamu. Aku akan memberikanmu waktu hingga esok hari. Kalau kau tidak menentukan pilihanmu hingga waktunya tiba, aku akan membunuh pemuda yang kelihatannya kau cintai itu dan dengan saat yang sama mengambil dirimu."
Jean bangkit dari duduknya. Dia memandangi Priscillia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku harap kau bisa memilih dengan bijak, Priscillia. Kalau begitu, sampai jumpa."
Jean melenggang pergi, meninggalkan Priscillia seorang diri dalam kebingungannya.