Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Pukulan Untuk Samuel


__ADS_3

Seberapa besar keserakahan dan kerakusan yang dimiliki oleh manusia? Entahlah. Tidak ada yang tepat untuk mengukur kedua hal itu.


Namun, seorang bijak pernah mengatakan, bahkan jika manusia diberikan satu gunung emas, maka mereka akan meminta lebih. Jika mereka diberikan satu, mereka akan meminta dua. Jika mereka diberikan dua, maka mereka akan meminta tiga. Begitu seterusnya.


Satu-satunya yang bisa menghentikan keserakahan dan kerakusan manusia akan keinginan mereka yang sangat tidak terbatas hanya ada satu; kematian.


Itulah yang Nicholai pernah ajarkan pada Jean. Dan hari ini, seminggu setelah kematian paman Hull, Jean melihat sendiri perwujudan dari ketamakan.


Di ruang studi paman Hull, semua kerabat dan rekan dagang paman Hull berkumpul. Tentu saja termasuk Jean dan keluarga kecil paman Hull yang terdiri dari Cassie, Charlotte, dan Samuel juga hadir.


Hari ini adalah diskusi tentang hak waris yang akan diterima oleh keluarga paman Hull. Kerajaan Dublin sendiri tidak memiliki hukum yang mengatur soal pewarisan warganya. Kecuali jika hal itu adalah tentang bangsawan atau keluarga kerajaan.


Jean bisa melihat semuanya. Serigala yang menatap empuk mangsanya. Semua mata dan pikiran tertuju pada harta paman Hull. Cassie dan Charlotte dibuat kewalahan dengan hal ini.


Cassie tidak menghabiskan banyak waktu. Dia berdiri, mengambil secarik kertas yang diberikan oleh Jean, dan mulai membacakan isi dari tulisan yang ada di kertas itu.


"Aku, Hull, yang menulis dan mendandatangani surat ini, disaksikan oleh istriku, Cassie, memutuskan untuk menyerahkan seluruh kepemilikan bisnis beserta semua asetku kepada Charlotte."


BRAAAKKKK!!


Samuel membanting meja dan kursi yang ada di depannya ketika dia tahu ternyata itu adalah wasiat dari ayahnya. Kemarahan terpampang jelas di wajahnya. Urat-urat muncul di dahi dan pipi Samuel.


"APA MAKSUDNYA HAL ITU, IBU!! KENAPA AYAH MALAH MEMBERIKAN SEMUA HARTANYA PADA GADIS TIDAK BERGUNA ITU!? APA YANG SALAH DENGAN KEPALA AYAH!?"


Teriakan Samuel memekik sangat keras. Bahkan orang-orang yang ada di sekitarnya sampai menutup telinga mereka. Cassie mengernyitkan dahinya.


"Itu adalah keputusan Hull, Samuel. Sebagai istrinya, aku tidak berhak menentang keputusan yang telah dia buat."


Tentu saja kemarahan Samuel tidak mereda. Bahkan, orang itu terlihat lebih murka daripada sebelumnya.

__ADS_1


"KENAPA KAU TIDAK MENCEGAHNYA! MASA DEPAN APA YANG AKAN DIHADAPI PERUSAHAAN INI KETIKA DIURUS OLEH GADIS ITU!?


"AKU TIDAK TERIMA HAL INI!"


Entah itu Cassie maupun Charlotte, keduanya sama-sama marah. Mereka ingin sekali menghajar sampah bernama Samuel. Cassie tidak habis pikir. Kenapa anak seperti dia bisa lahir dari rahimnya?


Tapi Jean menahan mereka. Dia dengan santai menenangkan Cahrlotte dan Cassie yang sangat emosional. Mereka tidak perlu membuang tenaga hanya untuk melawan Samuel.


"Samuel, tidak peduli apapun yang kau katakan, surat ini benar-benar ditulis oleh ayahmu dan ditandangani serta diberi cap olehnya. Selain itu, selama proses penulisan, ibumu juga menjadi saksi. Jadi surat ini valid dan bisa dijadikan dasar sebagai pembagian hak waris. Sayang sekali, pendapatmu tidak dibutuhkan di sini."


Begitu Jean ikut campur, yang lain juga sama. Entah itu rekan dagang maupun keluarga paman Hull langsung mengatakan kalau Charlotte tidak pantas menjadi pewaris bagi perusahaan dagang Hucass.


Jean melirik Charlotte. Gadis itu sangat tertekan. Jean bisa menyadari hal itu dari aura yang Charlotte keluarkan. Meskipun diluar Charlotte terlihat tabah dan tenang, namun dalam hatinya, dia ingin sekali menangis.


"Sayang sekali hadirin sekalian. Seperti yang saya katakan, surat ini ditulis langsung oleh paman Hull dan diberi tanda tangan serta cap miliknya. Nyonya Cassie juga menyaksikannya. Jadi, seperti yang tadi saya katakan, pendapat kalian tidak dibutuhkan."


Terlepas dari itu, dia serius ketika membela hak Charlotte dan Cassie. Dia tidak ingin apa yang selama ini dibangun dengan keringat dan darah paman Hull, hancur di tangan mereka.


Jean juga menginginkan Charlotte yang selama ini dia sayangi dan cintai, mewarisi Hucass dari paman Hull. Dengan bakat yang dia miliki serta bimbingan dari Casssie, Charlotte akan menjadi pengusaha yang lebih hebat daripada paman Hull.


Dan yang lebih penting lagi, menjadikan Charlotte sebagai pemilik yang sah dari perusahaan dagang Hucass membuat ambisinya lebih mudah tercapai. Jean akan memiliki pondasi finansial yang kuat untuk memuluskan jalannya.


Ini sama sekali bukan pertarungan yang merugikan.


Bagi mereka, jatuhnya kepemilikan Hucass pada Charlotte adalah pukulan telak. Mereka berniat menjadikan Samuel sebagai alat mereka dan memeras semua harta paman Hull yang dimiliki oleh Samuel sampai benar-benar kering.


Tetapi pukulan itu belum berakhir. Karena selanjutnya adalah pukulan paling telak bagi mereka.


"Selanjutnya, aku akan membacakan surat lain yang ditulis oleh suamiku."

__ADS_1


Cassie berdeham sejenak. Setelah itu, dia mulai membaca suratnya.


"Di sini, aku telah memutuskan untuk menikahkan anak perempuanku, Cahrlotte, kepada pelayan pribadinya, Jean. Dimulai sejak surat ini dibacakan, Jean adalah tunangan bagi Charlotte. Dia akan menjadi penasihat Charlotte di perusahaan Hucass."


Dan surat itu menjadi pukulan telak yang menohok jantung Samuel dan keroco-keroco lainnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jean melemparkan dirinya ke kasur. Dia sangat lelah! Memang, berurusan dengan Samuel dan kutu pengganggu lainnya mudah, tetapi proses administrasi ternyata merepotkan. Dia harus memberikan dokumen-dokumen yang dibutuhkan Charlotte saat itu juga.


Jean mengganti pakaiannya menjadi piyama. Dia akan tidur sebentar sebelum pergi ke markas Serigala Putih.


Tetapi, begitu Jean ingin memejamkan mata, dia melihat siluet bayangan di depan pintunya. Perlahan, bayangan itu mulai menampakan wujudnya.


"Charl.... kenapa kau belum tidur?"


Cahrlotte masuk ke kamar Jean. Dia berjalan menuju sisi Jean dengan diam dan duduk di sampingnya. Gadis itu juga memeluk lengan Jean.


Jean bisa merasikan sensasi empuk yang menempel di lengannya. Ah, Charlotte juga sangat wangi.


"Terimakasih Jean. Aku sangat bahagia ketika kamu membantu diriku dan ibu tadi. Aku juga sangat bahagia ketika ayah ingin menikahiku denganmu."


Jean tersenyum lembut dan mencium bibir Charlotte.


"Aku mencintaimu, Jean."


"Aku juga mencintaimu, Charlotte."


Malam itu, Jean bersenggama dengan Charlotte hingga gadis itu pingsan karena kelelahan setelah Jean menyuntikan bibit hangatnya sebanyak lima kali. Hahh.... tongkat dagingnya semakin membesar seiring bertambahnya usia, ya?

__ADS_1


__ADS_2