
Jean akan melakukan apapun untuk memastikan ambisinya bisa tercapai. Itulah tekad yang telah dia bulat kan dalam dirinya.
Ambisinya cukup sederhana. Meraup sebanyak yang dia bisa dan melindungi semua yang telah dia genggam. Serakah? Rakus? Tidak masalah. Jean tahu seberapa banyak yang bisa dia ambil.
Tujuannya sekarang jelas. Siapapun yang menghalanginya, Jean akan menyingkirkan mereka bagaimana pun caranya.
Contohnya seperti sekarang. Jean sedang berdiri dihadapan sebuah gedung yang terbakar. Di dalamnya, jerit dan tangisan bergaung. Bau daging yang terbakar dapat tercium bahkan hingga ke seluruh kota.
"Tuan Jean, apakah anda tidak sedikit berlebihan? Kalau anda melakukan hal ini, anda bisa menarik perhatian seluruh penduduk tahu?"
Jean hanya tertawa kecil mendengar keluhan Nina yang berdiri di belakangnya. Dia terus menatap bangunan yang ada di depannya dengan tatapan santai namun penuh haus darah di dalamnya.
"Tidak masalah. Justru itu yang aku inginkan. Ini adalah peringatan bagi semuanya. Siapapun yang berani mengusik Serigala Putih, mereka akan menerima konsekuensinya. Tidak peduli apakah mereka saudagar kaya, bangsawan, bahkan jika itu adalah keluarga kerajaan sekalipun."
Nina hanya menghela nafas lelah dan menggelengkan kepalanya. Bagi Nina, Jean adalah orang yang sangat kalkulatif, picik, cerdas, dan dingin. Wajar kalau dia melakukan hal ini.
Mereka yang ada di dalam bangunan yang terbakar itu adalah anggota dari kelompok Kuda Hitam. Dan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, mari kita kembali ke beberapa saat sebelumnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Serigala Putih yang awalnya bagaikan orang tua yang sedang sekarat, kini mendominasi aktivitas bawah tanah di seluruh Saint Georgia City.
Mulai dari bisnis 'dosa' seperti perjudian, pelacuran, penyelundupan, dan yang lainnya, 80 persen telah berada di bawah kendali Jean.
__ADS_1
Kucuran koin emas dan perak Yang dia dapatkan dari bisnis kotornya, akan dia putar lagi dalam bentuk perdagangan. Terutama hasil-hasil kerajinan dari para pandai besi, pengrajin kayu, dan tukang batu yang dia jual kepada Para bangsawan dan saudagar kaya. Jean juga menopang berbagai usaha dan bisnis lain di sektor selatan kota yang menjadi teritorialnya.
Alhasil, bagian selatan menjadi sektor paling makmur di Saint Georgia City. Penduduk yang ada di sana mendapatkan pekerjaan, uang, dan makanan.
Tapi ada masalah lain. Semua yang telah dicapai Jean jelas-jelas mengundang rasa cemburu. Terutama dari dua kelompok lain yang belum sembuh dari luka mereka. Kuda Hitam dan Beruang Merah.
Dan tiga hari setelah Jean resmi menjadi pasangan Charlotte, saat dirinya sedang memeriksa beberapa dokumen yang Mar berikan padanya, Nina langsung menerobos masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa Nina? Ini tidak seperti dirimu yang biasanya? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
"Ma-maaf, Mar, tuan Jean! Ada kabar mendesak yang harus saya sampaikan. Kuda Hitam mulai bergerak menuju kemari! Mereka membawa 1000 orang untuk menyerbu tempat ini."
"1000? Oh....itu cukup banyak."
""Kenapa anda begitu santai, tuan!?"
"Dari semua laporan yang dikirim oleh unit mata-mata padaku, aku sudah bisa membaca pergerakan mereka."
Jean berdiri dari kursinya. Ekspresi di wajahnya menunjukan kalau dirinya telah menunggu hal ini tiba.
"Aku memang memperkirakan kalau mereka akan menyerang kita malam ini. Tapi aku tidak menyangka mereka akan bertempur dengan kekuatan penuh. Nina, Mar, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, benar?"
Mar dan Nina mengangguk. Jean telah membuat prosedur seandainya situasi semacam ini terjadi. Nina akan memobilisasi kekuatan tempur milik Serigala Putih. Sementara Mar, dia akan mengamankan aset-aset milik Serigala Putih serta mengevakuasi para anggota non Kombatan, juga mengamankan para tamu dan pelanggan yang sedang menggunakan jasa milik Seirgala Putih.
__ADS_1
Keduanya langsung bergegas. Jean juga. Dia langsung naik ke atap markas dan sepuluh orang sudah menunggu di sana. Mereka adalah anggota elit yang Jean latih secara langsung.
"Kita tidak akan ikut campur malam ini. Cukup dengan memantau pergerakan musuh dan melihat bagaimana rekan kita bertarung. Jika aku merasakan anomali, barulah aku akan meminta kalian untuk ikut bertarung. Paham?"
Semuanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Setelah itu, mereka mengikuti Jean melompat dari satu atap ke atap yang lainnya.
Tidak lama kemudian, Jean bisa mendengar suara gaduh datang dari arah Utara. Mereka adalah Kuda Hitam. Benar saja, jumlah mereka banyak. Mereka menyerang Serigala Putih dengan kekuatan penuh.
Tapi tidak masalah. Nyatanya, meskipun kalah jumlah, selisih antara anggota Serigala Putih dan Kuda Hitam tidak begitu jauh. Sementara mereka memiliki 1000 orang, Jean setidaknya memiliki 700 orang.
Dan jangan lupa, ini adalah teritorialnya. Serigala Putih telah menjadikan bagian selatan kota sebagai bentengnya. Datang ke tempat ini tanpa persiapan sama saja seperti mencari kematian.
Dan benar saja. Setelah para Kuda Hitam mencapai bagian selatan, mereka langsung memecah pasukan mereka. Mereka semua bergerak dengan sporadis dan tidak terkoordinir.
Mereka menjadi sasaran empuk bagi para serigala. Pertempuran pecah dengan sengit. Dentingan pedang, tombak, belati, serta panah yang berterbangan memenuhi selatan kota.
Dengan cepat, keseimbangan mulai berubah. Serigala Putih jauh lebih diuntungkan. Mereka diberikan senjata dan perlengkapan yang lebih baik sehingga bisa mengungguli Kuda Hitam.
Selama 60 menit pertempuran berjalan, tinggal 500 orang yang tersisa dari yang awalnya berjumlah 1000. Alias, setengah dari mereka telah dimusnahkan.
500 orang itu memilih untuk menyerah. Mereka berpikir mungkin saja pemimpin dari Serigala Putih akan memberikan ampunan pada mereka. Tapi mereka salah.
Malam itu, Jean mengumpulkan orang-orang yang menyerah dan memasukan mereka ke sebuah bangunan yang terbengkalai. Sebenernya bangunan itu hanya bisa memuat paling banyak 50 orang. Tapi Jean tidak peduli.
__ADS_1
Setelah mengumpulkan mereka di ruangan yang sempit dan membiarkan mereka berdesakan satu sama lain, Jean mengambil keputusan. Dia menyalakan api dan membakar seluruh gedung itu, beserta 500 orang yang ada di dalamnya.
Tragedi ini akan menjadi debut bagi Jean sebagai manusia berdarah dingin di era selanjutnya