
Nafas Jeanne tersengal-sengal. Begitu juga kedua sahabatnya. Sejauh ini, ketiganya berhasil membunuh 15 monster bersama dengan ksatria lainnya. Namun sayang, nyawa mereka juga ikut melayang karena musuh yang terlalu kuat.
"Kalian masih bisa bertarung, kan?"
Hanna dan Karina mengangguk. Mereka masih bisa melanjutkan pertarungan ini. Namun, ketiganya juga sadar. Sebentar lagi mereka akan sampai pada batasnya.
"Baiklah, mari kita habisi sisanya dan pergi dari hutan terkutuk ini!"
Hanna menggertakan giginya dan menggenggam erat kedua pedangnya. Hanya tinggal mereka bertiga. Syzmon memang cukup kuat tapi entah dimana ia sekarang. Mereka tidak punya untuk memikirkan hal itu.
Untuk yang kesekian kalinya, cahaya keluar dari tubuh Hanna. Taktik mereka sederhana saja. Membutakan monster untuk sementara waktu lalu Hanna, Karina, dan Jeanne akan menyerang mereka di saat bersamaan.
Tentu saja kecuali Hanna, kedua sahabatnya juga mengalami efek kebutaan sementara. Namun mereka terlatih untuk bertarung dengan mata tertutup.
Para monster yang tersisa berkoar-koar. Karina dengan sigap merapalkan mantranya. Sebuah lingkaran sihir muncul di atas monster yang menjadi targetnya dan mengeluarkan petir yang mengenai monster itu.
Jelas kekuatan petirnya memang tidak cukup untuk membunuh. Tapi, setidaknya petir itu masih memiliki damage yang kuat untuk targetnya, membuat ia terbeku sementara.
Karina menggunakan celah itu untuk menusuk tubuh musuhnya. Dia lalu mengalirkan petir ke dalam sang monster dalam jumlah yang besar. Dalam waktu sepuluh detik, tubuh monster itu meledak. Darah dan isi perutnya tersebar kemana-mana.
Jeanne juga tidak ketinggalan. Dia membentuk sebuah bola api besar di atas lingkaran sihir yang muncul di kepalanya. Ia menginvestasikan banyak mana untuk membuat bola api itu.
Tanpa ragu, dia menembakan bola api tersebut ke arah dua monster yang ia incar. Bola api itu lantas terbelah menjadi dua dan mengenai satu makhluk berkepala babi dan satu makhluk berkepala anjing. Sama seperti nasib rekannya, mereka tewas dengan tubuh hangus.
Jeanne dan Karina melihat Hanna yang kesulitan melawan dua monster sekaligus. Jeanne dan Karina langsung membantu Hanna untuk menghabisi dua monster terakhir.
Begitu sisanya sudah habis, ketiganya jatuh berlutut karena kelelahan. Bisa dibilang Jeanne adalah yang paling lelah karena ia yang paling banyak membunuh monster dan menggunakan mananya.
"Hahh.... Hahh.... Akhirnya... Selesai juga!! Ayo kita keluar dari tempat terkutuk ini! Kita harus memberitahu markas tentang apa yang kita temui!"
Jeanne dan Hanna mengangguk atas usulan Karina. Meski tenaga mereka sudah habis, berjalan keluar hutan bukanlah hal yang sulit.
Namun semuanya tidak berakhir semulus yang mereka bayangkan. Tepat pada saat mereka ingin bergegas untuk pergi, pohon-pohon yang ada di belakang mereka mulai berterbangan ke arah mereka.
__ADS_1
Jeanne, Hanna, dan Karina harus mencari tempat perlindungan agar tidak terkena pohon-pohon itu. Damagenya akan sangat besar kalau mereka sampai tertimpa.
Belum selesai masalah yang mereka alami, raungan yang sangat keras terdengar dari kejauhan! Ketiganya sadar kalau mereka masih ada dan dari suaranya, jumlah mereka sangat banyak!
"LARI!!"
hanya lari yang mereka bisa lakukan. Tidak peduli bahkan jika pohon, batu, dan tanah berterbangan ke arah mereka, ketiganya tetap lari! Untuk sekarang, itulah satu-satunya cara agar mereka bisa bertahan hidup.
Pelarian mereka begitu mulus. Karena sama sekali tidak memperhatikan langkahnya, mereka semua berkali-kali jatuh karena tersangkut oleh akar yang menonjol ke permukaan.
Sementara itu, monster yang mereka tidak ketahui wujudnya terus mengejar. Hanna dan Karina membantu Jeanne yang terjatuh untuk bangun dan melanjutkan pelarian mereka.
Namun di tengah jalan, Jeanne berhenti. Tentu ini membuat kedua sahabatnya bingung dan panik. Dengan ekspresi getir di wajahnya, dia mendorong kedua temannya untuk menjauh.
"Pergilah..... Biar aku yang mengulur waktu untuk kalian."
"APA YANG KAU BICARAKAN, JEANNE! CEPATLAH LARI! KITA TIDAK MEMILIKI BANYAK WAKTU!"
Karina berteriak. Meski begitu, Jeanne balas berteriak. Keduanya terkejut. Ini Adalah pertama kalinya mereka melihat Jeanne yang sangat lembut dan dingin berteriak.
Karina ingin membalas. Tetapi Hanna meraih bahunya dan menggeleng. Ini sangat menyakitkan untuk Hanna. Dia tidak peduli kalau ada salah satu keluarganya yang mati tetapi jika Jeanne sampai kenapa-kenapa, hatinya akan terasa sangat sakit.
Namun ini adalah opsi terpahit yang harus mereka ambil. Tidak ada waktu. Jeanne pun mengerti konsekuensinya. Sejujurnya, dia tidak marah.
"Pergilah, Karina. Adikmu menunggu di rumah kan? Sampaikan salamku padanya ya."
Jeanne tersenyum. Dia menggigit bibir bawahnya dengan keras hingga berdarah. Matanya berkaca-kaca. Dia bukan pahlawan, dia ingin terus hidup. Tetapi inilah pilihan yang ia ambil.
Karina dan Hanna telah berlari. Jeanne dapat melihat bulir air mata mereka jatuh ke tanah.
Akhirnya, ketika sahabatnya menghilang dari pandangannya, satu monster dengan tinggi 10 meter telah sampai di dekatnya. Jarak mereka satu sama lain tidak lebih dari 500 meter.
Jeanne tertegun melihat makhluk aneh di depannya. Monster dengan tinggi 10 meter dengan warna kulit perak. Badan manusia dan kepala manusia namun hanya memiliki satu mata. Taringnya sangat tajam dan iler selalu mengalir dari mulutnya.
__ADS_1
Dia membawa kapak yang ukurannya setengah dari badannya. Tubuhnya mengeluarkan aura kebencian yang sangat dahsyat, seolah-olah siap menelan dan menghancurkan apapun yang ada di depannya.
Jeanne menggertakan giginya. Dia menuangkan seluruh mananya ke pedang yang ia genggam dan mengalirkan [Earth energy] ke seluruh tubuhnya.
Jeanne memaksanya diri untuk menyerap energi yang ada di alam tersebut ke dalam dirinya, tanpa menyaringnya menjadi mana. Ini adalah teknik yang sangat berbahaya. Manusia tidak boleh menggunakan [Earth energy] secara mentah atau tubuhnya akan terbebani.
Namun Jeanne ingin memberikan semuanya sekarang. Dia ingin mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa!
Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata, Jeanne melesat ke arah monster itu. Dia menusukan pedangnya yang membara ke tubuh monster itu. Dengan seringai lebar, monster bermata satu tersebut menahan serangan pedang Jeanne dengan mata kapaknya.
Namun tidak seperti yang monster itu pikirkan, tubrukan antara bilah pedang manusia itu dan kapaknya membuat ia terpental jauh ke belakang.
Jeanne tidak berhenti. Dia terus mengayunkan pedangnya ke Tubuh monster itu. Meskipun kulitnya jauh lebih keras daripada, baja Jeanne tidak berhenti. Ia memang merasakan tangannya mati rasa, namun dia tetap berusaha memotong tubuh monster itu sekuat tenaga.
CRASHHHH!!
Jeanne pada akhirnya berhasil. Dia membelah tubuh monster itu dari kepala hingga perut. Meskipun makhluk aneh berkepala satu itu melakukan perlawanan yang sangat hebat, entah bagaimana Jeanne berhasil menanganinya.
Tapi itu adalah kekuatan terakhirnya. Jeanne akhirnya jatuh ke tanah. Mulutnya memuntahkan banyak darah. Jantungnya terasa sangat sakit dan paru-parunya seperti terbakar. Pandangannya mulai kabur.
Ketika monster yang lain tiba, Jeanne tersenyum getir, sambil menangis. Dia tidak mau mati! Dia ingin terus hidup! Dia ingin melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan mamanya! Dan..... Ia ingin bertemu kembali dengan adiknya!
Pada saat itulah, ruang di sekitarnya bergetar. Kumpulan energi yang sangat berkuat berpusat di depannya. Ruang seperti terdistorsi. Setelah itu, seorang wanita yang sangat mirip dengannya, meski dalam versi yang lebih dewasa, muncul di hadapannya.
Wanita itu segera menopang tubuh Jeanne yang hampir jatuh ke tanah dan mengelus rambutnya.
"Tenang sayang, mama ada di sini sekarang. Serahkan semuanya pada mama, oke?"
Svetlana telah tiba! Dia menggunakan setengah kekuatannya untuk datang ke tempat Jeanne. Menangis kelelahan, Jeanne akhirnya jatuh tertidur.
"Siapapun yang berani menyakiti anakku harus mati!"
Lagi-lagi, pertarungan masih berlanjut.
__ADS_1