Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Baron Salzan


__ADS_3

Jauh di dalam wilayah kerajaan Warsawa, di sebuah desa yang nampaknya tidak lagi dihuni oleh satu orangpun, sebuah mansion besar dan megah berdiri di sana. Itu masih kokoh. Meskipun dari luar sudah cukup banyak lubang di temboknya serta ditutupi oleh vegetasi yang cukup rimbun, tidak ada tanda-tanda kerusakan yang berarti.


Alasan kenapa tidak ada satupun orang yang menghuni desa ini adalah karena peristiwa hujan aneh yang baru-baru ini terjadi. Tidak seperti penduduk kota dimana mereka mungkin memiliki tempat untuk berlindung, penduduk desa ini tidak memiliki tempat untuk bernaung dari kematian.


Alhasil, semua penduduk di desa ini, termasuk tuan yang memiliki mansion besar yang terbengkalai, harus mati. Tidak peduli itu anak-anak, orang tua, laki-laki, atau perempuan, tidak ada yang selamat.


Mayat mereka baru ditemukan oleh pihak kerajaan Warsawa Lina hari kemudian, dalam kondisi yang sudah sangat membusuk. Mereka tidak memiliki pilihan lain selain menggali sebuah lubang besar dan mengubur seluruh penduduk dalam satu lubang yang sama.


Kini, yang tersisa hanyalah rumah-rumah kayu yang digerogoti oleh rayap dan hanya menunggu waktu untuk roboh. Sumur-sumur yang terabaikan, dan kandang-kandang hewan ternak yang tidak lagi digunakan.


Terlepas dari situasi di luar, nyatanya di dalam mansion yang terbengkalai itu, suasananya justru berbanding terbalik. Alih-alih gelap, dingin, dan mencekam, justru mansion ini berada dalam suasana yang cukup menyenangkan.


Berapa orang yang terlihat sebagai pelayan mondar-mandir sambil membawa nampan berisi gelas-gelas wine dan piring-piring makanan. Ruang makan diisi oleh belasan orang yang saling bercanda dan tertawa. Perapian dinyalakan untuk mengusir rasa dingin.


"Penduduk desa ini bernasib malang. Siapa sangka kalau mereka bisa mati hanya karena cairan aneh yang jatuh dari langit."


"Mau bagaimana lagi kan? Kalau kita berada di luar pada waktu itu, kita juga akan mati. Syukurlah kita berlindung di dalam. Hahahah."


"Betul, betul! Siapa juga yang menyangka kalau cairan itu sangat berbahaya. Untunglah fenomena ini tidak terjadi di negeri kita ya, hahahaha!"

__ADS_1


Senda gurau terus berlanjut. Mereka menertawakan nasib penduduk desa dan di saat yang sama mensyukuri bahwa nasib baik masih berpihak pada mereka. Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Semua berjalan lancar dan baik-baik saja.


Di saat mereka sedang makan dan bersenda gurau, seorang pria dengan tinggi dua meter berjalan mendatangi meja makan. Rambutnya berwarna coklat, warna yang sama dengan bola matanya. Kerutan yang ada di wajahnya menggambarkan usianya yang sudah memasuki kepala lima.


Meski begitu, aura di sekelilingnya terasa sangat berwibawa. Semua hadirin yang ada di meja makan langsung terdiam. Mereka semua berada dalam posisi khidmat, siap mendengarkan apa yang pria itu akan katakan.


"Tuan-tuan yang terhormat, saya harap anda menikmati perjamuan yang saya adakan. Namun, mohon maaf. Saya tidak bisa menemani anda sekalian karena beberapa alasan yang tidak bisa saya ungkapkan. Tetapi tuan-tuan tidak perlu khawatir karena para pelayan saya siap untuk menyediakan semua kebutuhan anda."


Semua hadirin yang berada di meja makan saling bertatapan. Salah satu dari mereka akhirnya membuka mulutnya.


"Mengetahui kesibukan anda yang sangat padat, kami mewajarkan hal itu, tuan. Anda tidak perlu mengkhawatirkan kami. Lanjutkan tugas anda yang emban. Kami mendukung anda."


Mendengar hal tersebut, pria tadi tersenyum. Segera, ia pamit undur diri dan kembali ke kantor tempat ia bekerja.


"Para bajingan sialan itu! Apa yang mereka tahu kecuali makan dan berpesta saja, hah!?"


BAAAMMM!!!


Tak kuasa lagi menahan emosinya, ia menggebrak mejanya dan melempar kursinya. Belasan orang yang sekarang sedang bersenang-senang sambil bermain bersama budak yang ia sediakan adalah sekelompok orang yang ditugaskan untuk menggali informasi mengenai kerajaan Warsawa dan mengeksploitasi semua celah yang ada untuk kepentingan kerajaan mereka.

__ADS_1


Namun sejauh ini, yang mereka lakukan tidak lebih dari berfoya-foya dan menghabiskan anggaran besar yang diberikan pada mereka untuk mengisi perut mereka sendiri. Mereka hanya menggali informasi ala kadarnya dan tidak mau repot-repot untuk memberikan detailnya pada kerajaan yang menjadi tuan mereka.


"Seperti biasanya, anda tidak bisa menahan emosi anda ya, Baron Salza. Kalau rekan-rekan anda melihat diri anda yang sekarang, mereka pasti akan berbalik melawan anda."


Suara seorang pemuda secara tiba-tiba mengintrupsi emosi Baron Salzan. Ya, dialah pria berbadan tinggi besar itu. Sementara itu, melihat seorang pemuda yang tiba-tiba mengganggunya, Baron Salzan tidak bisa tidak kesal.


"Biasakan jangan menggangguku, Eugene. Jangan pernah masuk tiba-tiba kedalam ruanganku tanpa pemberitahuan."


Eugene, pemuda yang ada di hadapan Baron Salza, tertawa kecil. Dia duduk di kursi yang tersedia lalu melempar tumpukan kertas ke meja.


"Itu adalah daftar nama orang-orang yang dapat kau jadikan kolaborator. Mereka adalah bangsawan-bangsawan yang kehilangan gelar, ksatria yang dikhianati tuannya, pejabat korup yang hanya mementingkan diri mereka sendiri, dan kelompok kriminal yang bersedia melakukan apapun tergantung dengan berapa besar bayarannya."


Baron Salzan memeriksa nama-nama tersebut dan menyeringai. Ada lebih dari seratus nama yang bisa ia jadikan kolaborator untuk pekerjaannya. Meskipun pada akhirnya harganya mahal, ini adalah harga yang layak. Baron Salzan tidak mempercayai Eugene, tetapi dia percaya pada kemampuannya.


"Seperti biasa, ini bayaranmu. 10 koin emas untuk satu nama. Sekarang pergilah. Aku muak melihat wajahmu!"


Eugene tertawa kecil. Setelah menerima bayarannya, ia pergi begitu saja. Meninggalkan Baron Salzan seorang diri.


"Eugene.... Pria ini sangat berbahaya. Dia dengan santai menerobos barrier terbaik yang bisa disediakan oleh pihak kerajaan tanpa kesulitan apapun. Sial.... Kalau saja ia mengincar diriku, kepalaku sudah akan terlepas dari lama."

__ADS_1


Baron Salzan duduk di kursinya dan bersandar.


"Ah..... Aku ingin pindah tempat kerja."


__ADS_2