
Dunia malam. Terdengar akrab? Ya, inilah dunia dimana yang terkuat yang berkuasa dan mereka yang lemah akan tersingkirkan. Dunia tanpa aturan kecuali aturanmu sendiri. Dunia tanpa tatanan kecuali bagi mereka yang kuat. Dimana kebaikan dan keburukan, keadilan dan kelaliman, yang benar dan yang salah, semua itu hanya ada di tangan mereka yang memiliki kekuatan dan kuasa. Dengan kata lain, inilah hukum rimba.
Jean hidup dalam kedamaian selama empat tahun. Usianya sekarang 12 tahun. Selama kehidupannya di rumah paman Hull, dia sangat senang dan bahagia. Ada keluarga yang menunggunya. Paman yang baik, bibi yang lembut, dan nona yang manis.
Tapi pada akhirnya, setelah Jean memasuki dunia malam, dia kembali teringat akan tujuannya. Dunia ini tidak adil. Dunia ini tidak akan pernah berpihak pada mereka yang lemah. Akan seperti itu dan selalu seperti itu.
Ayahnya mati hanya karena kekonyolan para bangsawan. Ibu dan kakaknya diculik karena keserakahan para bandit. Dirinya sendiri dipermainkan oleh para babi.
Bukankah karena itu dia bersumpah untuk menghancurkan hukum di dunia ini? Dia akan melawan dunia, mungkin akan melawan para Dewi. Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah melahirkan era baru.
Tapi dimana Jean harus mulai? Dia sudah mendapat jawabannya. Bukan di istana megah ataupun di kediaman bangsawan yang mewah. Peluangnya justru terbuka di sini, dimana hukum rimba berlaku. Tentu saja itu adalah dunia malam.
"Jean, mengapa kamu melamun? Ayo bantu aku membawa cucian milik nona Charlotte!"
Ups, Jean terlalu banyak berpikir. Ngomong-ngomong, yang barusan berbicara pada Jean adalah Selena. Iya, Selena. Gadis itu sekarang bekerja di rumah paman Hull sebagai pelayan pribadi Charlotte.
Dia juga membawa serta kedua adiknya. Mereka juga pelayan tetapi sekarang ada di bawah bimbingan bibi Cassie. Usia mereka masih sepuluh tahun.
"Maaf Selena, aku harus melakukan beberapa hal yang paman Hull minta. Aku hanya akan membantu mengangkatnya tapi tidak menjemurnya, oke?"
"Tuan Hull? Mau bagaimana lagi. Terimakasih, Jean."
Senyum Selena sangat manis. Rambutnya coklat dipotong sebahu dengan pupil berwarna ungu. Di usianya yang ke 14 tahun, kecantikan dirinya sudah bersinar.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan ke tempat dimana baju-baju dijemur. Itu adalah sebuah tempat semi terbuka. Bagian atasnya tertutup oleh atap sementara bagian sampingnya terbuka. Angin berhembus dan membuat baju maid yang Selena pakai sedikit terangkat.
Jean menelan ludahnya. Pakaian dalam Selena terlihat. Warnanya krem dengan bordir yang indah.
"KYAAAA!!! Jean! Jangan lihat!"
Gerakannya menggemaskan ketika Selena berusaha menutupi pakaian dalamnya yang terlihat. Jean hanya tersenyum kecut. Ketika umurnya beranjak 11 tahun, dia tertidur dan bermimpi sedang melakukan hal 'dewasa'. Dia terbangun dan sadar kalau celananya telah basah oleh cairan kental.
Kalau kata paman Hull, itu artinya Jean telah menaiki tangga kedewasaan. Dan salah satu gejalanya adalah ketertarikan dirinya dengan wanita. Dan itu terbukti ketika dirinya tidak sengaja melihat nonanya telanjang, tongkat dagingnya mengeras sedemikian rupa.
"Ahahaha. Maaf Selena tapi kamu terlihat cantik. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa."
Jean pergi meninggalkan Selena. Tanpa dia sadari, wajah Selena menjadi sangat merah karena pujian yang Jean berikan kepadanya.
Tunggu, Apakah Jean tidak menyadarinya? Tentu saja dia sadar kalau wajah Selena menjadi sangat merah. Yah, justru itu tujuannya. Ini terdengar egois dan arogan, tapi Selena adalah miliknya dan tidak ada yang bisa mengambil Selena dari dirinya.
Karena itu, Jean yang sekarang melmiliki lebih banyak kenalan, lebih banyak jaringan, dan memiliki akses yang lebih luas kepada informasi yang akurat. Banyak bangsawan yang menjadi pelanggan di perusahaan paman Hull terkesan dengan bakatnya. Dia juga mendapatkan kepercayaan besar dari rekan dagang paman Hull.
Perlahan, Jean mulai menumpuk kartunya sendiri untuk masa depannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seperti biasa, Jean pergi keluar dari kediaman Paman Hull di malam hari. Entah kenapa hari ini tidak ada ksatria yang berpatroli di kota. Mungkinkah karena udaranya lebih dingin?
__ADS_1
Tapi Jean tidak peduli soal hawa malam. Tujuan dia hanya satu, sebuah gang. Ada rumah berukuran sedang di sana. Jean masuk ke dalam rumah itu. Tidak gelap, tapi remang-remang. Ada tangga menuju lantai dua. Jean pergi ke atas dan langsung menuju ke sebuah ruangan, dapur.
Sebagai gambaran, lantai pertama rumah ini seperti aula. Tidak ada ruang lain. Jadi kebanyakan kegiatan dilakukan di lantai dua. Ada dapur, kamar tidur, dan beberapa ruang kosong.
"Jadi, semuanya sudah berkumpul? Hmm? Bagus. Kalau begitu, langsung kita mulai."
Di dapur, ada sekitar 15 anak yang seusia dengan Jean. Delapan dari mereka adalah lelaki dan Sisanya perempuan. Siapa sebenarnya anak-anak ini?
Sederhananya, mereka adalah anak-anak yang Jean pungut. Mereka tidak punya orangtua dan rumah. Mereka dipaksa untuk menjadi budak. Jean membunuh para pemiliknya dan mengumpulkan mereka di satu tempat untuk kepentingannya.
"Kak Jean, kami dengar dari kakak yang bekerja di rumah bordil, dia bilang kalau orang-orang mulai bertingkah aneh. Katanya, mereka selalu tegang seolah-olah bentrokan akan terjadi!"
"Aku juga dengar dari beberapa bibi yang ada di pasar, bibi bilang, akhir-akhir ini ada banyak mayat yang ditemukan!"
Satu demi satu anak-anak mulai bercerita. Mereka semua berbicara layaknya seorang anak yang mendapat pengalaman baru. Tapi hei, ini dalam taraf dan level yang benar-benar berbeda!
Anak-anak ini Jean kumpulkan lalu dia latih. Sekarang, anak-anak ini mempunyai dua tugas. Pertama adalah menjadi mata dan telinga Jean di dunia malam. Yang kedua, mereka juga berprofesi sebagai assassin. Benar, anak-anak ini adalah pembunuhan bayaran.
"Jadi kak Jean, apakah ada pekerjaan untuk kami malam ini!?"
Salah satu bocah lelaki bertanya dengan nada yang riang. Jean tersenyum kecil lalu menggeleng.
"Untuk malam ini, kalian istriahat saja. Besok pagi kumpulkan informasi seperti biasanya untuk aku. Sekarang, kembali ke kamar kalian masing-masing."
__ADS_1
Mereka semua bersorak dan kembali ke kamar masing-masing. Jean tersenyum. Dia memang melatih mereka untuk membunuh tapi dia tidak menghilangkan sisi kemanusiaan mereka. Perintah Jean sederhana. 'Kita Hanya Membunuh Orang Jahat'.
Dari anak-anak inilah, Jean mulai menancapkan kukunya.