Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Tekad Hanna


__ADS_3

Di malam yang sama ketika Uskup Tolek menerima sebuah surat.....


Ada satu bar di Krakov City yang buka seharian penuh. Bahkan ketika kota ini dilanda kecemasan, atau ketika mereka kekurangan pegawai, bar tersebut tetap buka selama 24 jam.


Bar ini adalah tempat para ksatria berkumpul. Di pagi dan siang hari, mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai. Mau tidak mau, mereka harus mengorbankan waktu istirahat mereka jika ingin minum-minum atau hanya sekedar menikmati lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi amatir.


Seorang gadis mengenakan tudung sedang duduk di depan sebuah meja yang memisahkan antara dirinya dan bartender. Setiap kali ia menghabiskan minuman yang ada di gelasnya, dia meminta tambah. Terus saja begitu hingga dirinya sendiri sudah menghabisi tiga botol alkohol.


"Tambah lagi!!"


Kelihatannya dia memiliki kekebalan terhadap alkohol yang cukup tinggi. Namun mau bagaimana pun, dia sudah sedikit mabuk.


"Meskipun kau memiliki kekebalan untuk tidak mabuk, meminum alkohol terlalu banyak dalam satu waktu tidak baik untuk ginjalmu."


Entah siapa, seorang lelaki yang duduk di sampingnya tiba-tiba mengatakan hal tersebut. Tentu, itu membuat wanita tersebut emosi. Tapi dia memutuskan untuk tidak meladeninya.


"Terserah. Tapi aku yakin sahabatmu akan kecewa ketika..... Ah, tidak. Lupakan apa yang ingin aku katakan."


Wanita itu hanya mendengus dan menjatuhkan kepalanya ke meja. Barulah ketika bartender datang dengan botol minuman yang baru, kepalanya kembali terangkat.

__ADS_1


"Silahkan, ini untuk anda, nona Hanna."


Tentu, wanita itu bernama Hanna. Dan mungkin seperti yang kalian pikirkan, dia menghabiskan waktu di bar ini untuk mabuk-mabukan. Kehilangan Karina membuat dirinya masih sangat terpukul hingga sekarang.


Tanpa memedulikan suasana di sekitarnya, Hanna terus minum dan minum. Wajahnya sudah memerah. Bahkan bartender tua yang melayaninya hanya menggelengkan kepala. Tidak biasanya Hanna berkelakuan seperti ini.


"Mereka itu.... Mana peduli dengan nasib Karina kan!? Aku dan dia itu sama! Kami hanyalah alat untuk naik ke status yang lebih tinggi!"


Hanna mulai ngelantur dengan suara yang keras. Dia menarik perhatian orang lain! Atau begitulah seharusnya. Anehnya, orang-orang nampak tidak tertarik dengan Hanna dan tetap melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.


Dia terus mengoceh. Mengeluhkan dirinya yang payah dan lemah sehingga hanya bisa diam ketika keluarganya menjadikan dia tidak lebih dari sebuah alat. Kasih sayang yang ia terima selama ini terasa kosong dan hampa.


Huh? Hanna menoleh ke arah pria misterius yang sekarang tersenyum dingin itu. Dibunuh katamu? Bukankan sudah jelas bahwa sebab kematian Karina adalah diserang oleh monster?


Seolah bisa memahami apa yang ia pikirkan, pria itu menjawab pertanyaan yang menggantung di pikiran Hanna.


"Mungkin anda tidak menyadarinya nona. Tetapi berdasarkan penyelidikan dari luka nona Karina, dapat kupastikan bahwa luka tersebut disebabkan oleh manusia. Seperti yang anda tahu, terlepas dari betapa berbahayanya hutan perbatasan, mereka tidak memiliki spesies monster humanoid yang memiliki kecerdasan.


"Tidak ada bekas cakaran atau gigitan. Luka yang ada di tubuhnya jelas adalah sayatan pedang. Artinya, seseorang dengan sengaja membunuh nona Karina ketika berpisah dengan anda."

__ADS_1


Kali ini Hanna benar-benar tidak bisa mengabaikan pria ini. Dia menoleh ke arahnya dengan penuh murka dan mencengkeram kerahnya. Keributan hampir saja pecah tetapi orang-orang yang ada di sini fokus dengan kesibukan mereka masing-masing.


"Siapa sebenarnya kau, bajingan!!? Datang kepadaku secara tiba-tiba lalu berbicara seolah-olah kau tahu segalanya!!"


Pria itu terganggu dengan bau alkohol yang keluar dari mulut Hanna. Tapi dia memberontak. Ia membiarkan Hanna untuk tetap mencengkeram kerah bajunya.


"Siapa saya tidak begitu penting bagi anda, Nona Hanna. Yang jelas, saya memiliki wewenang untuk mengakses catatan rahasia yang dimiliki oleh markas ksatria di ibukota. Termasuk catatan yang anda buat."


Hanna menggertak giginya. Dia belum bisa berpikir jernih. Kalau ada orang yang mengaku bisa mengungkapkan dalang di balik tewasnya Karina, dia akan bekerjasama dengan orang itu. Tidak peduli siapapun ia.


"Baiklah! Katakan apa yang harus aku lakukan!"


Pria itu menyeringai dan mengeluarkan secarik kertas yang berisi daftar nama. Dia memberikannya pada Hanna.


"Mereka adalah saksi kunci. Pergi dan cari kesaksian dari mereka. Dengan begitu, kau akan menemukan jawabannya."


Hanna meletakan kertas tersebut. Pria itu lalu bangkit dan pergi dari bar. Hanna mengambil dan membaca tersebut lalu tercengang. Dia sangat mengenali orang-orang yang berada di daftar tersebut.


Tekad Hanna sudah bulat. Kalau memang yang pria itu katakan benar, maka ia akan membawa keadilan untuk Karina. Dia akan mengirim orang-orang yang terlibat ke neraka.

__ADS_1


__ADS_2