Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Awal Pengelanaan


__ADS_3

Angin laut terasa nyaman. Terkadang semilir, terkadang juga kencang. Deburan ombak membuat hati tenang. Sesekali, suara burung-burung terdengar dari atas langit, mengelilingi tiang kapal yang telah dipasangi layar.


Kalau beruntung, sekelompok ikan yang berukuran cukup besar akan terlihat dan melompat-lompat, menjadi atraksi bagi banyak orang yang menumpangi kapal.


Jean berdiri di atas geladak. Lebih tepatnya di tepi. Kadangkala, air laut yang asin menciprati wajahnya, membuatnya mukanya sedikit lengket. Tidak masalah, Jean menikmatinya. Ini adalah suasana baru untuknya.


Rambut hitamnya berkibar diterpa angin. Pupil hitamnya memandangi langit yang cerah. Meski begitu, matahari bersembunyi di balik awan, membuat cuaca menjadi sedikit lebih gelap.


Dia sedang berada dalam perjalanannya menuju bagian sentral benua Akkadia. Meskipun secara ukuran tidak lebih besar daripada di barat, mereka jelas lebih maju. Itulah yang ayahnya ceritakan. Populasinya lebih padat dan mereka memiliki bangunan yang lebih megah serta sistem pemerintahan yang lebih rapih.


Di tangan Jean, enam sobekan kertas tergenggam. Itu adalah secuplik ucapan selamat jalan dari semua gadisnya. Ia tersenyum pahit. Jean sangat mengingatnya, ketika dia mengatakan kalau dirinya tidak akan mengajak mereka, semua gadisnya marah.


Saking marahnya, mereka bahkan tidak mengajak Jean mengobrol selama satu bulan. Setiap kali pandangan mereka bertemu, mereka membuang muka. Bahkan, tidak ada satupun dari mereka yang tidur bersama Jean.


Tentu saja dia masih memiliki banyak kesabaran. Tapi Jean menilai kalau hal semacam ini tidak bisa dibiarkan. Dia tidak mau kerenggangan ini dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya yang mungkin sedang menunggu momentum. Karena itu, di hari ke 30, Jean 'menculik' mereka satu persatu, mengumpulkan mereka di kamarnya, dan 'menindih' semuanya dengan penuh cinta.


Jean bahkan membisikan mereka kalimat-kalimat nan lembut dan penuh kasih sayang. Malam itu adalah malam yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Jean. Juga oleh Charlotte, Natasha, Selena, Priscillia, Rose, dan Nina.


Keesokan harinya, hubungan mereka yang awalnya dingin mulai mencair. Sepertinya semua telah memaafkan Jean. Hubungan mereka semakin erat. Pada akhirnya, tiga bulan kemudian, Jean berangkat menuju petualangannya dari pelabuhan Bucharest setelah ia menyelesaikan urusannya.

__ADS_1


Jean tentu tidak meninggalkan kekasihnya dengan tangan kosong. Dia menyerahkan semua plan yang telah ia tulis pada Natasha dan Charlotte yang akan menjadi penguasa baru dan menyerahkan metode eksekusinya pada mereka.


Dia juga menyerahkan urusan kemiliteran pada Rose dan urusan administrasi sipil pada Priscillia. Sementara untuk Selena, dia dijadikan sebagai kepala pelayan istana dan Nina akan tetap berada di Serigala Hitam.


Selain itu, Jean juga meninggalkan suatu segel di alam bawah sadar mereka. Itu adalah teknik yang Jean kembangkan selama beberapa tahun ke belakang. Mengenai segel tersebut, itu adalah cerita untuk masa depan.


Langit mulai gelap dan angin bertiup kencang. Rintik gerimis mulai menyentuh ombak yang telah meninggi. Para kru kapal langsung berteriak kalau sebentar lagi, badai akan datang. Semua orang yang sedang berada di geladak langsung berlarian ke lambung kapal. Namun tidak dengan Jean.


"Hei nak! Badai akan segera tiba! Masuklah ke dalam kapal! Biar aku dan pelayar lainnya yang akan menangani ini semua!"


Seorang pria tua berdiri di belakang Jean. Rambut dan jenggotnya sudah memutih. Wajahnya keriput dengan kulit yang gelap, jelas karena dirinya selalu terpapar sinar matahari. Badannya cukup besar. Meskipun usianya hampi menginjak 60 tahun, dia masih bisa bergerak secara leluasa.


"Ah, kapten Beard. Maaf, tapi bolehkah saya berdiri di sana saja?"


"Tenang saja, kapten. Saya tidak akan menghalangi anda dan yang lainnya. Saya lebih dari cukup untuk menjaga diri saya sendiri."


Kapten Beard terlihat ragu. Tapi pada akhirnya, ia pasrah. Selama anak ini tidak mengganggu, maka kapten Beard akan membiarkan ia melakukan apapun yang dia sukai. Kapten Beard tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan.


Kapal mulai terombang-ambing. Badai telah tiba. Petir menggelegar di langit. Sesekali menyambrkan diri mereka ke lautan. Ombak tinggi menghantam kapal yang Jean tumpangi.

__ADS_1


Kapal terombang-ambing. Kapten Beard dan awak kapal lainnya berusaha agar kapal tidak tenggelam diterpa badai. Awalnya Jean kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Wajar, ini adalah pertama kalinya ia menumpangi sebuah kapal. Namun, tidak butuh waktu lama baginya untuk beradaptasi dan menyeimbangkan dirinya.


Meski terguyur air hujan dari atas dan terciprat air laut dari bawah, Jean tersenyum. Meski sedikit dan tipis. Dia membiarkan dirinya diterpa angin kencang. Tanpa mengkhawatirkan apapun, dia tetap berdiri di tepi geladak.


"Pemandangan laut ketika cuaca cerah memanglah indah. Tapi pemandangan lautan ketika ditiup oleh badai juga tidak begitu buruk. Aku menikmatinya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seorang wanita berdiri di tengah tumpukan bangkai monster yang ia bunuh. Pedang dan tubuhnya yang indah berlumur darah. Wajahnya yang cantik terlihat sangat dingin. Pupilnya yang keemasan sangat tajam.


Entah sudah berapa monster yang dia bunuh. Wanita itu sendiri tidak tahu. Dan dia tidak peduli. Untuk menjadi kuat, dia akan melawan dan membunuh monster sebanyak yang dia bisa.


"Nona, sudah tidak ada lagi monster yang tersisa di area ini. Mari kita pergi dari sini. Ketika malam tiba, akan berbahaya jika anda masih berada di luar."


Seorang pemuda berdiri di belakangnya. Sedikit lebih tua dari wanita muda itu. Wajahnya cukup tampan. Dia terlihat seperti seorang yang cerdas jika dilihat dari penampilannya.


Namun, wajah tampannya itu cukup pucat. Bagaimana tidak? Seorang gadis yang lebih muda darinya dengan dingin membantai seluruh monster yang ada di hutan ini hingga tak bersisa. Kalau bukan gila namanya apa?


Gadis itu tidak memedulikan kehadiran sang pemuda. Dia hanya membalikan tubuh dan berjalan melewatinya tanpa mengatakan apapun. Bahkan tanpa melihatnya sama sekali.

__ADS_1


Pemuda itu tentu menyadari sifat dingin yang diberikan padanya. Dia marah. Namun dengan lihai, ia menyembunyikan emosi itu.


"Tidak peduli apa yang kau pikirkan tentang diriku, aku akan mendapatkanmi bagaimana pun caranya, nona Jeanne."


__ADS_2