
Badai berlangsung selama beberapa jam. Kini, cuaca dan laut kembali bersahabat. Seolah bersepakat untuk saling menghentikan amukan. Perlahan, langit kembali cerah dan membiru. Sebuah pelangi terlihat.
Laut juga sudah tenang. Ombak yang tadi mengamuk kini tertidur. Menyisakan deburan yang menyentuh bagian luar kapal dengan agak kasar. Para kru bersuka ria. Untuk yang kesekian kalinya, mereka lolos dari badai yang mematikan.
Jean menyandarkan tubuhnya ke dinding kapal yang terbuat dari kayu tersebut. Tubuhnya basah dan lengket. Ternyata seperti ini rasanya tersiram air laut. Asin dan lengket. Begitulah pikirnya.
"Hei nak, apa kau tidak apa-apa?"
"Ah, kapten Beard. Ya, saya tidak apa-apa. Ini semua berkat kerja keras anda dan anak buah anda. Ini adalah pertama kalinya saya menaiki kapal laut dan melihat betapa hebatnya seorang pelaut."
Kapten Beard tertawa lepas. Tubuh besarnya terguncang-guncang. Dia menepuk pundak Jean dengan keras, membuat Jean sedikit meringis.
"Hahaha! Kau membuatku malu nak! Memang beginilah seorang pelaut seharusnya! Bagi kami, badai adalah hal yang biasa! Bagaimana nak, apa kau tertarik menjadi seorang pelaut!?"
Jean tersenyum pahit dan menggeleng.
__ADS_1
"Sejujurnya, saya tidak begitu tertarik kapten. Namun, sepertinya berkelana dengan sebuah kapal dan menjelajahi setiap negeri yang ada di seberang lautan sana sepertinya sangat seru."
Kapten Beard mengangguk dengan riang. Dia jelas sependapat dengan Jean. Lagipula, dia senang ketika pekerjaannya sebagai seorang pelaut mendapatkan pujian yang tulus.
Setelah mengobrol beberapa saat lagi, kapten Beard meninggalkan Jean. Dia ingin merayakan keberhasilan ini dengan anak buahnya. Jean tertawa kecil saat melihat kapten Beard yang riang seperti anak-anak.
Siang berganti menjadi sore. Perlahan, matahari mulai terbenam dan cahaya senja muncul di ufuk barat. Angin dingin mulai berhembus. Sudah saatnya bagi Jean untuk kembali ke dalam kapal. Lagipula dia sama sekali belum membersihkan diri.
Begitu masuk ke bagian dalam kapal, bau tidak sedap menyerang hidung Jean. Tidak salah lagi, ini adalah bau muntah banyak orang. Jean pikir ini sangat wajar. Kapal ini mengangkut orang-orang yang belum pernah melintasi laut menggunakan kapal sebelumnya. Termasuk dirinya. Wajar saja kalau mereka tidak bisa menahan mual saat kapal terombang-ambing.
Ada tujuh orang lainnya yang menempati ruangan ini. Dalam pandangan Jean, ketujuh orang ini saling mengenal satu sama lain. Hanya dia satu-satunya yang asing. Sebenarnya Jean tidak begitu peduli. Namun, ketika ia melihat aura yang mereka keluarkan, Jean menjaga jarak dari orang-orang itu.
"Hei kawan! Apa kau menghuni ruangan ini juga?"
Salah seorang dari mereka memulai percakapan dengan Jean, yang hanya di balas anggukan olehnya. Tidak mau menghabiskan waktunya, Jean memutuskan untuk tidur sejenak.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Cih! Sombong sekali! Hei, mari kita bunuh saja anak itu sekarang! Aku muak melihat wajahnya!"
Salah satu dari mereka yang tidak suka dengan sikap yang Jean tunjukan, berniat membunuhnya. Dia bahkan telah mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya. Namun, seorang kawan menahannya.
"Tenanglah, saudara. Aku tidak keberatan kau membunuhnya atau melakukan apapun padanya. Tapi, kalau kita melakukan itu sekarang, kecurigaan pasti akan muncul. Jadi, Tahan dirimu."
Dia mendecakan lidahnya. Meskipun begitu, ia tetap mengindahkan peringatan kawannya dan menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang menimbulkan kecurigaan.
"Bos, aku sudah mendapatkan apa yang kau minta. Ini dia."
Seseorang masuk ke ruangan tempat mereka berada. Orang ini adalah rekan mereka yang lain. Entah apa yang ia bawa, yang jelas, benda ini sangat berharga untuk mereka.
"Normalnya, kita akan sampai ke tempat tujuan dalam waktu tiga hari lagi. Sampai saat itu tiba, persiapkan diri kalian. Kita tidak boleh mengacaukan rencana ini, apapun yang terjadi."
__ADS_1
Mendengar apa yang pemimpin mereka katakan, semuanya mengangguk. Entah apa rencana mereka, hanya masa depan yang akan memberitahunya.