
Janson mengeraskan otot-ototnya. Bagaikan babi hutan, dia langsung maju ke arah Jean seolah-olah ingin menanduknya. Ini adalah teknik pembuka yang biasa Janson pakai. Biasanya ada dua tindakan yang diambil oleh lawannya.
Pertama adalah dengan bodoh menerima serangan itu secara langsung. Yang kedua adalah menghindari serangan itu. Janson telah memahami pola tindakan lawannya. Karena itu, dia telah menyiapkan teknik terbaik.
Tapi yang lawannya lakukan kali ini benar-benar berbeda dari apa yang telah dia perkirakan. Alih-alih berusaha menahan serangan itu dengan menerimanya secara penuh ataupun menghindarinya, anak itu malah melesat ke arahnya!
Tentu saja itu membuat momentum Janson menjadi mati. Dia secara tidak sadar memperlambat kecepatannya sementara di saat yang sama, lawannya bergerak lebih cepat daripada dirinya.
Tabrakan terjadi antara Janson dan lawannya. Anak itu memukul dua lengan Jason yang menyilang untuk melindungi dadanya. Janson terpental sementara anak itu hanya mundur beberapa langkah.
Janson bangkit. Dia merasakan sakit di kedua lengannya. Dia meringis saat melihat kedua lengannya yang telah membiru. Rasa marah, sakit, benci, dan emosi negatif lainnya menumpuk dalam dirinya, membuat sebuah perasaan muncul;
Perasaan ingin menghancurkan lawannya.
Janson ingin memukuli lawannya hingga babak belur, dia ingin mematahkan seluruh tulang yang ada di tubuhnya, menghancurkan mentalnya, dan setelah itu, membunuhnya sesakit mungkin.
Dia menatap lawannya yang sekarang berdiri kokoh beberapa langkah di hadapannya. Janson lalu melepas nafsu membunuhnya. Itu membuat penonton langsung gemetar dalam ketakutan.
Tetapi berbeda dengan lawannya. Justru anak itu terlihat menikmati pertandingan ini. Tidak, akan lebih tepat jika dia menikmati kebencian yang terpancar dari Jason.
"Namamu...Jason kan? Memang benar kalau kau kuat. Tetapi dengan kekuatan yang kau miliki sekarang, kau tidak akan bisa mengalahkanku sampai kapanpun."
Orang itu menyeringai. Seringai paling keji yang pernah Jason lihat. Seringai tanpa rasa takut. Tanpa ampun. Semua yang berani melawannya tidak akan mendapatkan apapun kecuali penyesalan.
"BERISIK!! AKU BERSUMPAH AKAN MENGHANCURKAN DIRIMU! MEMPERKOSA SELU....AAARGGGHHH!!"
Sebelum Janson bisa menyelesaikan kalimatnya, anak itu telah menghampiri dirinya dan menginjak kaki Janson sampai tulangnya patah. Tidak hanya satu tapi dua. Dia juga menginjak perut Janson hingga organ internalnya terluka parah.
__ADS_1
"Tadinya aku ingin bersenang-senang sebentar. Tapi perkataanmu yang barusan membuat moodku memburuk. Mau bagaimana lagi kan? Silahkan nikmati hidangan dariku."
Tangan Janson ditarik sekencang mungkin. KRAKKK!!! Janson bisa merasakan sendi yang menghubungkan antara bahunya dan lengannya bergeser!
"ARGGHHHH!!! HENTIKAN!! HENTIKAN!! TIDAK! TIDAK! TIDAAAKKKK!!"
Sementara Janson merasakan kesakitan, anak itu malah tertawa. Dia menghancurkan seluruh tulang yang ada di tubuh Janson. Jari-jarinya, sendi-sendinya, rusuk, dada, dan semuanya.
"AAAHHHHHHH!!!! TIDAK, HENTIKAAANNN!! MAAFKAN AKU! MAAFKAN AKUUU!!! ARGGGHHHH!!"
"Hahahah! Ternyata maniak sepertimu sekalipun menangis ketika diperlakukan seperti ini!? Hahaha! Ini adalah puncak komedi!!"
Dia tidak berhenti. Anak itu mencongkel mata kir Janson menggunakan jarinya dan merobek daun telinga serta menghancurkan gendang kirinya hingga tuli!
Dia lalu mencekik Janson dan mengangkatnya. Anak itu berniat untuk menghancurkan leher Janson dengan kekuatan genggamnya, tapi terhenti ketika mendengar teriakan yang berasal dari arah penonton.
Dan begitulah, pertandingan antara Janson dan lawannya telah berakhir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Wajah Jean berlumuran darah. Pakaiannya juga. Tawanya sudah berhenti tapi dia masih tersenyum lebar. Ada kesenangan dan kepuasan ketika Jean menyiksa orang-orang seperti Janson. Ah, sayang sekali karena Jean tidak bisa membunuhnya.
"Beberapa orang mendatangi Janson yang terluka parah. Sangat parah. Dia berada di antara hidup dan mati. Tulang kakinya benar-benar hancur. Kemungkinan besar, Janson tidak akan bisa lagi menggerakan kakinya lagi selama sisa hidupnya.
Tangannya juga remuk, matanya buta sebelah, dan telinganya tuli sebelah. Dengan kondisinya yang sekarang, dia tidak akan bisa lagi bertarung seumur hidupnya.
"Jean! Kamu menang! Yang tadi itu luar biasa!"
__ADS_1
Begitu Jean keluar dari arena pertandingan, Cahrlotte menghampirinya dengan mata berbinar seolah-olah melihat sesuatu yang sangat keren! Jean jadi sedikit malu. Selena juga sama antusiasnya dengan Cahrlotte. Kalau bukan karena orang-orang yang melihatnya, Jean mungkin akan memeluk keduanya.
Natasha memandangi Jean dengan senyum pahit. Dia senang ketika Jean ingin bertarung demi dirinya, tetapi rasanya cukup mengerikan ketika melihat Jean menjadi sangat haus darah.
"Terimakasih....Jean."
Namun mau bagaimanapun, Natasha tetap mengucapkan terimakasih. Diam-diam Jean menepuk kepala Natasha sambil tersenyum.
"Ehem! Selena dan Charlotte, ikut denganku. Jean, Earl Baldric memanggilmu sekarang."
Pasti soal Janson ya. Dia adalah kebanggaan keluarga ini. Entah apa respon sang Earl ketika melihat kebanggaannya dilucuti oleh bocah sepertinya.
Tapi dia tidak punya pilihan lain. Jean dengan langkah yang enggan pergi Menuju tempat dia dipanggil. Di kawal oleh dua ksatria milik Earl Baldric.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Jadi serangan yang kalian lancarkan gagal? Hahhh.....ini sangat disayangkan. Kenapa mereka bisa kalah?"
Di ruangan yang menjadi tempat berkumpul para bangsawan dan saudagar kaya, beberapa orang masih berkumpul. Jamuan makan malam sudah selesai, Tetapi mereka tetap stay di tempat.
"Entahlah. Kita tidak memiliki informasi tentang hal itu. Yang jelas, kita terlalu meremehkan Hull. Kalau begini caranya, kita harus mencari cara lain untuk menyingkirkan Hull!"
Mereka adalah tiga orang yang menjadi rival Hull. Dua orang saudagar berpengaruh dan satu bangsawan tingkat Viscount. Mereka terganggu dengan bisinis Hull sehingga terus mencari cara untuk membunuhnya.
Dan serangan yang terjadi pada Hull dalam perjalanan menuju ke tempat ini adalah rencana mereka.
"Kalau begitu, mari kita bicarakan masalah ini di lain waktu. Sekarang, mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan."
__ADS_1
Mereka bertiga mengangkat gelasnya ke langit lalu bersulang bersama-sama.