Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
The Culprit (1)


__ADS_3

Sementara Jean dan Jeanne melindungi dua anak kembarnya, Svetlana melaju dengan cepat di jalanan ibukota. Jalanan padat yang penuh dengan orang mati membuat gerakannya sedikit melambat. Tetapi hal itu bukan sesuatu yang signifikan.


Hujan cairan aneh ini masih turun dengan deras. Svetlana melihat sendiri bagaimana dampaknya jika cairan ini mengenai seseorang. Mereka akan langsung mati. Benar-benar mati. Meski begitu, wajah mereka menampakan rasa sakit yang amat besar.


Sejujurnya, Svetlana memiliki keinginan yang besar untuk menyelamatkan mereka dengan memasang barrier miliknya pada mereka. Namun ia tahu prioritasnya. Svetlana tidak memiliki pemahaman akurat mengenai seberapa kuat musuh yang akan ia hadapi. Karenanya, menyimpan energinya sebanyak mungkin adalah pilihan terbaik yang bisa ia ambil.


Lagipula, semakin cepat dia mengalahkan biang dari kekejian ini, ada lebih banyak nyawa yang bisa ia selamatkan.


Svetlana menuju ke sebuah bangunan berlantai dua yang sudah terbengkalai. Dia merasakan energi yang besar dari sini. Tanpa ragu, Svetlana menerobos masuk ke dalam dan disambut oleh tiga orang yang menyerang dirinya secara bersamaan.


Namun Svetlana tidak mengedipkan matanya sama sekali saat ia menebas kepala tiga orang tersebut secara beruntun.


Tidak sampai di sana, Svetlana juga disergap oleh semburan api dan proyektil tanah. Namun, hanya dengan menebaskan pedangnya, semburan api dan proyektil tanah yang menyerangnya dapat dinetralisir.

__ADS_1


Melihat serangannya dapat dengan mudah ditangkis begitu saja, para penyerang memutuskan untuk menghadang Svetlana dengan menampakan diri mereka.


"Aku tidak menyangka serangan itu dapat dinetralisir dengan mudah. Teman-teman, kita kedatangan sesuatu yang sangat menarik."


Sepuluh orang yang merupakan Mage mencegat Svetlana, yang dapat ia tebak dengan mudah adalah anggota kultus keselamatan berdasarkan pakaian yang mereka kenakan.


"Minggir, aku tidak punya urusan dengan kalian. Kecuali kalau kalian mau mati hari ini, maka silahkan saja. Sayangnya, aku tidak punya banyak waktu."


Svetlana berkata dingin. Matanya menatap tajam ke anggota kultus keselamatan. Merasa dilecehkan, salah satu dari mereka mendecakkan lidah. Dengan cepat, ia melontarkan sihir angin untuk menyerang Svetlana, yang sekali lagi dengan mudah dia netralisir.


Secepat kilat, Svetlana melesat ke arah orang-orang yang menghadangnya.


"Hati-hati, tingkat kultivasinya tinggi! Kita bukan lawan...."

__ADS_1


Bahkan, sebelum salah satu di antara mereka selesai berbicara, Svetlana telah menebas tubuh mereka, membuat sembilan orang itu terpental ke berbagai arah dengan kondisi yang amat mengenaskan. Beberapa dari mereka masih dalam kondisi sekarat, sisanya telah tewas.


Menggunakan mana untuk mendeteksi sumber lingkaran sihir, Svetlana berjalan ke sebuah ruang yang cukup kecil. Di sana terlihat sebuah kristal berwarna merah darah melayang. Warna yang sama dengan lingkaran sihir yang mengambang di langit ibukota.


Tanpa menggunakan banyak tenaga, Svetlana menghancurkan kristal tersebut menggunakan pedangnya. Hanya dengan begitu saja, kristal tersebut hancur. Mudah sekali.


Svetlana mengernyitkan matanya. Tidak ada perubahan bahkan setelah dirinya menghancurkan kristal ini. Rasa bingung melanda dirinya. Pada saat itulah, sebuah suara yang amat serak muncul dari belakangnya.


"Hahh.... Hahhh.... Dasar bodoh! Kristal itu.... Hahh..... Hanya pengalihan! Kami sudah menduga hal ini akan terjadi! Karena itulah.... Karena itulah kami memasang jebakan! Ka-kau tidak akan bisa menyelamatkan siapapun, bajingan! Tidak penduduk kota... Tidak juga dengan... Keluargamu! Ha-hahahaha!"


Tawa panjang orang itu berakhir ketika bilah pedang Svetlana memutus lehernya dari tubuhnya. Kepalanya menggelinding ke tanah dan darah bercucuran layaknya air mancur.


Svetlana kembali menyebarkan mananya dan mendeteksi kondisi keempat anaknya. Naas baginya, seseorang dengan aura yang sangat menjijikan sedang menuju ke arah mereka.

__ADS_1


Dengan panik, Svetlana segera melesatkan langkahnya menuju lokasi keempat anaknya. Sayang, semua tidak semudah yang dibayangkan.


__ADS_2