
Jean mengelap belati yang penuh darah. Dia tidak berniat menyimpan belati murahan itu. Jadi, dia hanya melemparkan ke sembarang tempat setelah selesai membersihkannya.
Dia banyak mendapat energi murni dengan menyerap aura negatif. Kalau diibaratkan, mengonversi aura negatif dan positif menjadi sebuah energi murni itu layaknya memakan buah yang pahit dan manis. Aura negatif pahit dan aura positif manis.
Hasilnya akan sama saja di tubuh. Tapi hei, siapa yang mau makan buah pahit jika dibandingkan dengan buah nan manis, kan? Tapi ini adalah cara paling cepat untuk membuatnya kuat. Di masa depan, ia akan menciptakan teknik baru yang lebih efisien dan sederhana namun memiliki dampak yang besar. Tapi itu cerita untuk nanti.
"Ugghhh....bahkan seekor babi yang mati di tempat jagal jauh lebih baik kondisinya dibandingkan mayat orang ini. Kenapa dia sangat bau?"
Jean terganggu dengan bau busuk yang muncul dari tubuh Duke Eisen. Dia menendang seonggok mayat itu dan menyingkirkannya dari pandangan.
"Bo-bodoh! Ha-hahaha! Aku masih memiliki lebih dari 1000 orang tentara yang menduduki kota ini! Kalau kau macam-macam padaku, aku akan menyuruh mereka untuk membunuhmu!!"
Tidak seperti yang ia pikirkan, Jean tidak berjalan menuju ke arah count Feldberg. Dia malah pergi ke jendela dan melihat keluar lalu mengangguk. Barulah sekarang, ia menoleh ke arah count Feldberg dan menatapnya dengan tatapan hina.
__ADS_1
"Pasukanmu? Membunuhku? Kemarilah dan lihat apa yang terjadi di luar? Eh, kau takut? Tidak, tidak. Santai saja, aku tidak akan membunuhmu kok."
Sebaliknya, Jean dengan nada santai tanpa imidasi dan tekanan apapun, malah menyuruh Count Feldberg untuk berdiri di sampingnya dan ikut memandang ke luar. Tentu saja dia tidak mau! Mengapa juga ia harus berdiri di samping orang gila!?
Namun, seolah-olah tubuhnya bergerak sendiri, count Feldberg berjalan ke samping Jean. Jean dengan senyum santainya mempersilahkan count Dan Feldberg untuk melihat keluar. Seketika itu juga, wajahnya memucat pasi.
Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat....para ksatria terbaiknya yang ia perlakukan dengan sangat baik, mulai dari memberikan pelatihan, perlengkapan, gaji, dan tugas-tugas yang termudah bagi mereka, sedang di sembelih. Ya, di sembelih. Bukan dipenggal.
Count Feldberg tidak kuasa melihat ksatrianya yang menderita setelah disembelih. Darah mengucur deras dari leher mereka, membasahi tanah. Sebelum ajal menjemput, tubuh mereka terkejang-kejang. Mereka menderita, seolah Malaikat maut ingin bermain sejenak dengan mereka sebelum akhirnya mencabut nyawa orang-orang malang itu.
"Kau lihat sendiri kan? Malangnya nasibmu, tuan Count. Pada akhirnya, pasukan yang kau rekrut itu membunuh Ksatria terbaik yang kau urus dengan tanganmu sendiri. Hal buruk bahkan bisa menimpa seorang bangsawan sekalipun, ya?"
Jean menggeleng. Kasihan dengan nasib count Feldberg yang rencananya hancur dalam waktu satu hari sementara ia telah membangunnya lebih dari 10 tahun. Tapi tentu saja itu gimmick. Untuk apa Jean mengasihani orang seperti Count Feldberg.
__ADS_1
"Tenang, aku tidak akan menyakitimu. Lebih tepatnya, bukan aku yang akan menyakitimu. Kerajaan Dublin telah merebut wilayahmu. Untuk menenangkan semua penduduk yang ada di sana, aku yakin 'dia' telah melakukan yang terbaik. Namun...."
Jean mulai menyeringai. Dia mengadahkan wajahnya ke atas lalu menatap Count Feldberg lagi.
"Dengan memberikanmu pada mereka, itu akan merebut hati penduduk. Yah, aku tidak punya dendam pribadi denganmu tapi mereka punya. Jadi.... membiarkan mereka menjadi hakim atas semua dosamu adalah seadil-adilnya penghakiman, iya kan?"
Bukan dia yang akan menghukum Count Feldberg. Tidak ada untungnya bagi Jean. Akan lebih baik jika ia menyerahkannya pada penduduk yang ia pimpin. Tentu saja, menarik baginya untuk melihat bagaimana reaksi mereka ketika seorang count bisa diperlakukan dengan bebas.
Sementara Count Feldberg, ah ya, fisiknya jelas baik-baik saja tapi mentalnya sangat rusak. Ia mulai meracau layaknya orang gila dan liur keluar dari mulutnya. Tentu saja, dia hanya pura-pura gila.
Jean membekap kepala count Feldberg dengan sebuah kain. Meski sempat melawan, pada akhirnya count gendut itu pingsan. Dengan mudah, Jean menyeretnya seperti sapi sekarat yang siap dikuliti.
Akhir dari count Feldberg telah ditentukan.
__ADS_1