Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Reuni (1)


__ADS_3

Jeanne terbangun dari pingsannya. Pandangannya masih buram. Ia belum sepenuhnya sadar. Namun, sensasi sentuhan yang ada di tangannya membuat Jeanne sepenuhnya tersadar. Ibunya sedang tertidur di sampingnya dalam posisi duduk di sebuah kursi.


Jeanne memandangi wajah ibunya dengan lembaga dan mengusap pipinya. Kesadaran yang ia dapatkan juga beriringan dengan ingatan ketika ia bertarung bersama kawan-kawannya di hutan.


Di penghujung kesadarannya, Svetlana datang dan menyelamatkannya. Ada rasa aman di hati Jeanne pada waktu itu. Tidak, setiap kali berada di dekat ibunya, dia pasti akan merasa aman.


"Kamu sudah bangun, Jeanne?"


"Ya, aku sudah bangun, mama."


"Syukurlah kau tidak kenapa-kenapa! Mama sangat khawatir. Maafkan mama karena datang terlambat untuk menyelamatkanmu."


Svetlana memeluk Jeanne dengan erat seolah tak ingin lagi melepaskannya. Firasat bahwa putrinya akan berada dalam bahaya terus menghantui Svetlana. Dia sudah ditinggal oleh Nicholai. Dia tidak mau Jeanne juga meninggalkannya.


"Mama jangan khawatir. Mama datang tepat pada waktunya. Dan aku berhasil selamat berkat dirimu. Tolong, jangan sedih."

__ADS_1


Svetlana tersenyum dan mengacak-acak rambut anak gadisnya. Alih-alih terganggu, Jeanne merasa bahagia. Dia menikmati setiap usapan penuh kasih sayang yang ibunya berikan.


"Ngomong-ngomong mama.... Dimana kita? Ini bukan rumah kita kan?"


Jeanne tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ini jelas-jelas bukan tempat tinggal mereka. Satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan ruangan ini adalah 'asing'.


Mulai dari kasur yang ia tiduri, kursi yang Svetlana duduki, meja yang ada di samping ranjangnya dan perabot yang ada di atasnya, serta seluruh desain interior ruangan yang ia tempati.


Kesannya adalah elegan dan mewah. Bahkan Jeanne ragu para bangsawan bisa memiliki semua hal mewah di sini. Jean merasa ia dan ibunya seperti berada di dunia lain.


Jeanne langsung berdiri dan berlari ke arah orang yang masuk. Dia tanpa ragu mengarahkan tinjunya ke orang tersebut.


"Tolong jangan membuatku aku kaget, kak Jeanne. Makanan yang aku bawa untukmu akan tumpah ke lantai."


Orang itu, Jean, tersenyum ketika Jeanne menyapanya dengan sangat 'baik'. Jean dengan mudah menahan pukulan Jeanne yang belum pulih total.

__ADS_1


"Kenapa kau ada di sini, bajingan!? Beraninya kau munculnya dihadapan kami sekarang! Aku tidak ingat memiliki adik bajingan dan tidak tahu malu sepertimu!"


Kasarnya. Tapi Jean hanya tertawa kecil. Dia melepas cengkramannya dan mengangkat Jeanne dengan satu tangan, membuat gadis itu meronta-ronta.


"Aku juga tidak ingat memiliki kakak perempuan yang pemarah seperti ini."


Svetlana yang melihat mereka berdua ribut, tersenyum tipis dan membiarkannya saja. Ada banyak hal yang ia ingin bicarakan dengan putranya. Namun melihat kedua anaknya berinteraksi layaknya kakak dan adik yang semestinya membuat hatinya diliputi kehangatan.


"Kau masih belum pulih sepenuhnya kakak. Tolong jangan banyak bertingkah. Istirahatlah terlebih dahulu."


Jean meletakan nampan yang ia pegang dan menaruh kembali Jeanne ke tempat tidurnya. Sentuhan yang Jean berikan membuat Jeanne merasa nyaman. Jadi ia tidak lagi melawan.


"Jean..... Bunda senang kamu baik-baik saja."


Svetlana membuka mulutnya. Ada tatapan lega, sedih, dan bahagia di wajahnya. Jeanne yang sudah tenang juga memiliki tatapan yang sama. Jean tersenyum tipis dan mengambil sebuah kursi lalu duduk di sebelah Svetlana.

__ADS_1


Sekarang adalah waktunya reuni.


__ADS_2