Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Saatnya Bergerak


__ADS_3

Malam di Nebelhorn terasa lebih dingin. Angin keringnya benar-benar menusuk kulit, masuk lewat pori-pori dan membuat setiap orang menggigil kedinginan.


Kota menjadi sangat sepi. Hampir semua orang dari semua kalangan telah masuk ke rumah mereka masing-masing. Beberapa gelandangan bisa terlihat dipinggiran jalanan tapi tidak ada yang menganggapnya begitu serius.


Beberapa bar masih buka. Ah, akan lebih tepat jika dikatakan kalau mereka hanya buka saat malam. Selain menawari minuman beralkohol dan beberapa camilan, mereka juga menawarkan 'jasa pemuas' bagi tamu yang datang.


Di salah satu bar, seorang pemuda dengan khidmat duduk di kursinya sembari menikmati segelas anggur dicampur madu yang hangat. Uap mengepul dari gelas kayu yang dia genggam.


Sedikit demi sedikit, dia menyeruput minumannya. Rasa manis dan sedikit pahit bersentuhan dengan lidahnya. Kehangatan yang berasal dari minumannya membuat dia menjadi lebih tenang.


Terkadang, ada beberapa wanita malam yang menghampiri dirinya. Setidaknya untuk menawarkan diri 'jasa' mereka. Namun pemuda itu dengan sopan menolak. Dia tidak tertarik dengan mereka mengingat pemuda itu punya yang jauh lebih bagus.


Pemuda itu duduk di sana beberapa saat lagi. Seiring dengan datang dan perginya pelanggan, bar mulai beranjak sepi.

__ADS_1


Saat inilah yang ia tunggu. Ketika hanya lima orang yang tersisa di dalam bar, termasuk pegawai, seseorang berpakaian hitam nan kusut mendatangi dirinya. Wajahnya tidak nampak jelas karena tertutup oleh kupluk.


Dia jelas orang yang mencurigakan. Tapi tidak ada komentar apapun dari orang-orang yang ada di dalam bar. Urus saja dirimu sendiri. Mungkin itu prinsip mereka.


Sejenak, orang itu menunduk lalu duduk dihadapannya. Dia membuka kupluknya dan terlihat wajah seorang pria yang berada di awal 50 tahunan. Rambutnya mulai memutih dan keriput mulai terbentuk di wajahnya. Tetapi tatapannya masih setajam elang.


"Saya telah membawa semua yang ada butuhkan, tuan."


Pria tua itu mengeluarkan kantung dari balik pakaiannya dan memberikan itu kepada sang pemuda. Dia terlihat puas dan mengangguk.


Keduanya beranjak dari kursi masing-masing lalu pergi dari bar yang mulai ramai lagi. Si pak tua sudah menyelesaikan tugasnya sementara sang pemuda telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak perlu ada lagi interaksi yang harus mereka lakukan. Keduanya berpisah di tengah malam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jean telah kembali ke penginapannya setelah menyelasaikan beberapa urusan di luar tadi. Priscillia sudah tidur. Jean mencium dahinya dan menyelimutinya dengan benar.


Dia menyalakan lilin yang telah mati. Secercah cahaya menerangi kamarnya yang lumayan besar. Suasananya menjadi agak remang.


Jean mengeluarkan sebuah kantung yang tadi dia dapatkan. Kantung itu tidak berisi uang sama sekali. Sebaliknya, isinya tidak lebih dari kertas yang telah lecak, terlipat dan kusut. Tapi Jea berani bertaruh kalau kertas-kertas ini jauh lebih berharga daripada sekantung emas.


Jean mulai membaca semua tulisan yang ada di kertas itu satu persatu. Pada faktanya, semua kertas ini adalah dokumen tertentu yang Jean minta dari agennya yang telah dia sebar di Duchy of Eisen.


"Eisen ini....mereka ternyata sekelompok orang yang merepotkan. Mereka memang mempersiapkan sesuatu."


Semakin jauh membaca, semakin Jean memahami apa yang berusaha dilakukan oleh Duchy of Eisen. Tidak salah lagi, mereka siap untuk berperang dengannya.


"Terserah mereka sih. Aku akan menyambut mereka kapanpun itu. Tentu saja, aku akan mengadakan pesta terbaik untuk orang-orang yang berani memasuki teritori milikku dengan pedang terhunus."

__ADS_1


Sudah saatnya Jean bergerak di kota ini.


__ADS_2