
Gerobak yang mereka tumpangi berguncang ke kanan dan kiri. Naik dan turun. Jean dengan tenang duduk di antara kedua gadis kembar yang dia temukan pada saat mampir di desa miskin. Namanya Elyse dan Elsie. Sekarang, mereka berdua sedang tidur. Jean meletakan kepala mereka di pahanya, membiarkan keduanya tidur dengan nyaman.
Jean memang memiliki peta tetapi gambarnya buruk. Untungnya, ia bertemu dengan karavan dagang yang melintasi pinggiran hutan. Jean membayar mereka agar dia dan si kembar diizinkan untuk menumpang hingga tujuan akhir karavan ini, ibukota kerajaan Warsawa, Krakov.
Menurut penuturan kusir yang mengemudikan gerobak kuda ini, perjalanan akan memakan waktu sepuluh hari dari titik keberangkatan Jean. Itupun kalau semuanya lancar. Terkadang, rombongan karavan akan berhenti terlebih dahulu di kota kecil untuk berisitirahat ataupun memperbaiki bagian gerobak yang rusak.
Saat singgah di sebuah kota, Jean akan turun untuk membeli kebutuhan si kembar. Mereka bukan anak yang rewel dan suka menuntut. Sebaliknya, Elyse dan Elsie adalah anak yang patuh.
Elyse dan Elsie adalah anak yang pendiam. Mereka tidak mudah menangis. Sekilas memang tidak merepotkan, tapi percayalah, mengurus mereka sebenarnya cukup membuatnya pusing.
Apa yang menjadi masalah? Keduanya tidak mudah berterus terang. Elyse dan Elsie jelas menginginkan sesuatu, tapi mereka tidak pernah mengatakannya dengan jelas. Jean masih bisa membaca keinginan mereka lewat tatapan mata, detak jantung, denyut nadi, gestur tubuh, dan raut wajah mereka.
Tapi bagaimana kalau keduanya dirawat oleh orang lain? Jean bahkan tidak mau membayangkan perlakuan macam apa yang Elyse dan Elsie akan dapatkan. Ayolah, siapa yang tega memperlakukan kedua anak menggemaskan ini dengan kasar?
Gerobak yang tadinya berguncang, kini berhenti. Sang kusir melongokan kepalanya ke dalam lalu mengatakan kepada Jean kalau karavan ini akan mampir sejenak di kota terdekat.
Ini adalah kota yang jaraknya paling dekat dengan Krakov. Sekitar tiga hari perjalanan. Mulai dari kota ini hingga Krakov, tidak akan ada lagi tempat yang bisa disinggahi. Karena itu, ini adalah kesempatan mereka untuk mengisi ulang perbekalan.
__ADS_1
Dengan lembut, Jean mengelus rambut Elyse dan Elsie yang tengah tertidur. Agar tidak membuat mereka kaget, Jean menyentuh kening mereka dan mengirimkan sedikit energinya pada mereka.
"Elyse, Elsie, bangunlah. Ayo kita beli makanan untuk kalian. Lapar kan?"
Elyse dan Elsie terbangun. Ada rasa hangat yang mengalir dari dahi mereka ke seluruh tubuh. Rasa hangat itulah yang membuat keduanya tersadar.
"Ayo ikut turun denganku. Kita akan mencari makan dan membeli kebutuhan kalian. Ah, kita juga akan menginap di sebuah penginapan, jadi kalian tidak perlu lagi tidur dengan tenda. Ayo."
Elyse dan Elsie hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Keduanya terlihat datar, tetapi Jean dengan mudah mengetahui bahwa mereka sedang dalam mood yang baik. Karena itu, Jean tidak menahan diri untuk menggendong keduanya dan membawa mereka berkeliling kota.
Elsie yang sedang digendong oleh Jean mengeratkan pegangannya. Dia menanamkan wajahnya ke dada Jean. Elyse juga. Meski begitu, dia tidak begitu kikuk seperti adiknya. Ia melihat pemandangan di sekitarnya dengan ekspresi penasaran.
"Anooo... Kakak Jean. Apakah kota memang selalu ramai seperti ini?"
Jean tersenyum pada Elyse dan mengangguk. Dia meminta keduanya untuk memanggil dirinya 'kakak' alih-alih tuan. Dia tidak begitu menyukai formalitas yang tidak pada tempatnya.
"Tergantung dimana letak kotanya, biasanya memang ramai seperti ini. Apalagi kota ini dekat dengan pusat kerajaan Warsawa. Jadi wajar saja kalau ramai. Lihat, banyak kereta kuda dan gerobak yang berlalu-lalang kan?"
__ADS_1
Elyse mengangguk dengan pemandangan yang antusias. Imut! Elyse dan Elsie meningkatkan Jean pada si kembar Dina dan Lina, adik kembar Selena. Dia menghabiskan banyak waktu untuk bermain dengan mereka. Namun semenjak Cassie memutuskan untuk mengasingkan diri sepeninggal paman Hull, Dina dan Lina yang menjadi maid pribadinya ikut bersama Cassie.
"Hmmm..... Kalian ingin memakan sesuatu, Elyse, Elsie?"
Keduanya menggeleng. Sembari mencengkeram baju yang Jean pakai, Elsie dengan imut meminta sesuatu kepada Jean.
"Aku ingin.... Makanan yang dibuat kak Jean. Apakah tidak..... Boleh?"
Jean tertawa kecil mendengar permintaan egois Elsie. Meski pendiam, Elsie adalah gadis yang sedikit berterus terang jika dibandingkan dengan Elyse. Meskipun keduanya memiliki sifat yang sama, di sisi lain ada sifat yang bertolak belakang.
"Baiklah, aku akan memasak makanan untuk kalian berdua. Tapi sebelum itu, mari kita cari tempat menginap untuk kalian berdua terlebih dahulu, oke?"
Jean menemukan sebuah penginapan dengan harga yang cukup murah. Meski murah, tempat ini lebih dari cukup untuk dibilang layak sebagai tempat tinggal sementara. Ada dua kasur besar yang saling berdampingan dan sebuah meja kecil yang terletak di antara keduanya.
Meski tidak begitu besar, ukuran kamar ini masih bisa dibilang lega.
Jean memasakan makana untuk Elyse dan Elsie seperti yang ia janjikan. Hari ini tidak ada hal besar yang terjadi, namun Jean sangat menikmati momen ini. Begitu juga dengan si kembar yang menganggap Jean sebagai kakak dan penyelamat mereka.
__ADS_1