
Satu Hari Sebelum Badai, lima kilometer di luar wilayah De Ruhr.
3000 orang terkonsentrasi di pinggiran hutan. Mereka membangun perkemahan dan barikade di jalan raya yang menghubungkan wilayah De Ruhr dengan Saint Georgia City.
Mereka tidak diperintahkan untuk menyerang. Duke Cassilas hanya ingin Baron De Ruhr tidak ikut campur dalam rencananya untuk menggulingkan kekuasaan raja.
Alhasil, tentara Duke Cassilas yang mayoritas terdiri dari milisi tidak melakukan apapun. Mereka hanya mengawasi benteng De Ruhr dari kejauhan, sesekali mengobrol atau hanya sekedar duduk-duduk.
Dalam kondisi seperti ini, mereka lengah.
Karena itulah, beberapa saat kemudian, suara gemuruh terdengar dari arah segala penjuru. Para milisi tentu mendengarnya. Mereka juga langsung bersiaga.
Namun, itu semua sudah terlambat. seketika, perkemahan mereka telah dikepung oleh 500 kavaleri dari segala arah. Para milisi yang tidak begitu terlatih bukan tandingan bagi kavaleri yang memiliki kemampuan manuver yang tinggi.
Alhasil, pasukan Duke Cassilas menjadi mangsa empuk. Serangan mendadak ditambah kavaleri yang sangat kuat membuat mereka tidak bisa melakukan apapun kecuali pasrah menjadi target pembantaian.
Perlawanan memang dilakukan oleh para ksatria yang terlatih. Namun segera diredam oleh penyerang. Mereka semua dibunuh tanpa ampun tanpa menyisakan satupun yang hidup.
Serangan itu berakhir tidak lama setelah dimulai. Ksatria milik Duke Cassilas telah 'dibersihkan' dan para milisi yang ikut serta dengan mereka di tawan.
Kerja paksa bagai neraka telah menanti para tawanan.
"Oh, beres-beresnya sudah selesai? Aku kira akan selesai lebih lama. Sepertinya Duke Cassilas sangat meremehkanku ya?"
__ADS_1
Di tengah bekas pertempuran, lebih tepatnya pembantaian, Jean muncul sambil menaiki kuda tunggangannya. Matanya yang hitam kelam menyusuri setiap sudut area perkemahan. Pandangannya hanya dipenuhi oleh mayat yang bergelimpangan.
Tidak ada rasa takut atau jijik. Biasa saja. Dia tidak melihat orang-orang ini sebagai seorang manusia. Jadi apa yang sekarang dia lihat bukan mayat manusia.
"Bereskan bangkai-bangkai ini sebelum malam tiba. Aku tidak mau bau busuknya masuk ke halaman rumahku."
Atas perintahnya, sebuah lubang besar digali oleh para tawanan di bawah tekanan para kavaleri. Lubang besar itu digunakan sebagai kuburan massal.
"Tuan Jean, kita berhasil mendapatkan beberapa dokumen yang berisi laporan gerak-gerik kita. Sepertinya ini semua akan diberikan pada Duke Cassilas."
Rose mendatangi Jean. Dia memberikan surat-surat yang ada ditangannya pada Jean. Dengan teliti, dia membaca kata demi kata yang ada di dalamnya, lalu mengangguk.
"Semua surat ini tidak berguna mengingat besok adalah waktu yang tepat untuk menjalankan rencana mereka. Bakar saja surat-surat ini. Selain itu, tolong siapkan pasukan. Kita akan berangkat dengan kekuatan penuh menuju kerajaan Dublin."
"Tuan, apakah tidak masalah untuk mengerahkan kekuatan penuh? Aku khawatir kerajaan Bucharest akan menusuk kita dari belakang begitu mereka menyadari kalau wilayah anda kosong tanpa penjagaan."
Jean menganggapi pertanyaan Rose dengan senyum. Dia mengelus kepala gadis itu dengan lembut, membuat dia merasa nyaman dan aman.
"Tenang saja. Mereka tidak akan pernah bisa menusuk punggung kita."
Jawaban sederhana itu membuat Rose sadar kalau tuannya tidak mungkin bergerak sembarangan. Karena itu, hatinya menjadi tenang.
Jean memandangi punggung Rose. Dia memberikan catatan mental untuk memastikan agar Rose menerima hadiah yang tepat atas kerja kerasnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya, di Saint Georgia City
Tanpa peringatan apapun, pasukan gabungan milik Duke Cassilas, Earl Baldric, dan Viscount Lostov menyerbu ibukota kerajaan Dublin.
Para bangsawan yang masih menjadi Vassal raja tentu melakukan perlawanan. Tidak seperti yang Duke Cassilas dan rekan-rekannya bayangkan, perlwanan yang mereka terima lebih sengit daripada yang mereka pikirkan.
Hari ini, Saint Georgia City menjadi Medan perang yang berdarah-darah. Penduduk kota yang tidak tahu apa-apa, menjadi korban. Mereka seringkali dijadikan tameng hidup. Rumah-rumah terbakar dan gerobak-gerobak hancur.
Jalanan penuh dengan darah dan mayat manusia. Tangisan dan rintihan dapat terdengar dari segala penjuru, membuat keadaan kota semakin mencekam.
Tidak hanya di jalanan, pertarungan juga meluas hingga ke dalam istana. Para ksatria yang masih setia dengan raja kini bertarung sengit dengan ksatria yang ada di pihak pangeran Hans.
Istana yang tadinya dipenuhi dengan perhiasan dan dekorasi yang mewah dengan berbagai warna, kini penuh dengan tubuh manusia dan darah.
Duke Cassilas, pangeran Hans, dan yang lainnya terus mengawasi jalannya pertempuran. Sejauh ini, semuanya sudah sesuai dengan rencana mereka. Bryant dengan tentara bayarannya juga telah bergerak.
Meski begitu, pertempuran baru benar-benar selesai tiga hari kemudian. Ketika istrinya, adik perempuan Duke Cassilas, membunuh dia.
Duke Cassilas segera mengumumkan pangeran Hans yang merupakan keponakannya, sebagai seorang raja. Dengan begitu, tujuannya telah tercapai.
Namun yang tidak dia tahu, rencana besarnya telah dihancurin oleh seseorang. Bahkan sejak awal rencana itu dibuat.
__ADS_1