
Viscount Lostov telah menerima pesan dari Natasha tiga hari sebelumnya bahwa Jean tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk ikut campur dalam seteru perebutan tahta.
Berkat informasi itu, Duke Cassilas mengerahkan kekuatan penuhnya untuk menyerang ibukota dan mengirim pasukan tak terlatih dan sebagian kecil ksatria elitnya untuk mengawasi Jean.
Tiga bangsawan itu menganggap kalau keputusan mereka bijaksana. Sayang, semua itu adalah hanyalah imbas dari disinformasi yang dilakukan oleh Natasha.
Viscount Lostov meremehkan anak gadisnya. Dia berpikir kalau bocah perempuannya itu hanyalah wanita polos yang mudah diperalat.
Tapi jauh panggang dari api, Natasha adalah wanita yang sangat berbahaya. Atau setidaknya, berpotensi untuk menjadi seperti itu.
Dia dengan mudah mempermainkan ayahnya dengan memanipulasi informasi. Mengacaukan semua strategi yang telah Viscount Lostov dan Duke Cassilas buat. Dan lebih bodohnya lagi, viscount Lostov menerimanya begitu saja. Tanpa mempertimbangkan faktor apapun.
Dan itulah yang menjadi awal mula bencana.
Tiga hari setelah pertempuran antara Duke Cassilas dan raja terjadi, sebuah pesta besar-besaran digelar di istana. Makanan dalam porsi besar dihidangkan dan wine-wine berkualitas tinggi disajikan. Kebetulan, mereka berhasil merebut kilang anggur milik Jean.
Ngomong-ngomong soal itu, Bryant memimpin tentara bayarannya dan menyerang aset bisnis milik HuCas. Dia mendapatkan perlawanan yang sangat hebat. Bahkan dirinya terluka cukup parah. Tentara yang dia sewa kebanyakan tewas.
Sialnya lagi, Bryant tidak mendapatkan apapun. Charlotte bersembunyi entah dimana dan seluruh hartanya telah menghilang. Bryant yang mendengar hal itu setelah dirinya sadar langsung naik pitam.
Tetapi setidaknya, mereka berhasil merebut dua tempat produksi anggur. Karena Bryant berpikir bahwa hal itu tidak terlalu berharga, dia memberikan semuanya pada Duke Cassilas dengan sukarela.
__ADS_1
Mari kembali ke cerita utama.
Para tamu yang merupakan bangsawan, pedagang, dan ksatria pendukung Duke Cassilas dengan suka ria bepesta. Mereka mengekspresikan kebahagiaan dengan menari, menyanyi, dan minum-minum. Raja baru Dublin, Hans, memberikan sambutan yang direspon dengan teriakan gembira oleh mereka.
"Akhirnya kita berhasil, viscount Lostov, earl Baldric. Seperti yang aku janjikan, kalian akan diberi gelar baru dan hak istimewa lainnya. Viscount Lostov, sebagai hadiah atas jasa yang telah kau berikan, aku akan memberikan wilayah bocah bajingan itu padamu. Aku juga akan menaikan gelarmu sebagai count.
"Dan earl Baldric, sebagai balas jasa untuk peranmu, kau diberi kendali penuh atas seluruh urusan militer kerajaan Dublin. Aku menaikan gelarmu sebagai Marquis. Aku akan membuat dokumen resmi untuk kalian."
Duke Cassilas, earl Baldric, dan viscount Lostov sedang melakukan pertemuan rahasia di salah satu sudut istana. Ketiganya bersulang, merayakan kemenangan mereka.
"Enak sekali! Aku tidak menyangka si bocah jelata itu bisa memproduksi anggur seenak ini!"
"Memang benar. Rasanya lembut dan manisnya sangat pas. Ini adalah anggur terlezat yang pernah aku rasakan."
Tapi kesenangan yang mereka rasakan tidak berlangsung lama. Seorang pembawa informasi dengan terburu-buru dan nafas terengah berlari menghampiri tempat ketiganya berkumpul. Tentu, tidak ada yang senang dengan interupsi semacam itu. Namun berita yang dia bawa membuat mereka bertiga seperti tersambar petir di siang bolong.
"Baron De Ruhr telah menduduki wilayah tuan Duke Cassilas!"
Seketika itu juga gelas yang mereka genggam jatuh ke lantai.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di Waktu Yang Sama Ketika Pesta Besar Di Istana Terjadi.
Dukedom Cassilas telah berubah menjadi lautan api. Si jago merah menjilati gedung-gedung dan berbagai bangunan lainnya. Rumah, gudang, dan lain-lain.
Tidak hanya api, wilayah ini juga dihujani oleh batu-batu berukuran besar. Panah-panah juga berterbangan, tanpa pandang bulu mengenai siapapun yang berkeliaran di jalanan.
Tanpa peringatan apapun, Jean membawa 5000 pasukannya untuk menggempur wilayah Duke Cassilas. Tidak hanya mereka, Jean juga mengerahkan lima catapult (ketapel raksasa), tiga balista, dan senjata penembus benteng lainnya.
Sebelumnya, sebuah surat peringatan yang berisi perintah untuk menyerah telah ditulis oleh Priscillia atas perintah Jean dan dikirimkan pada otoritas yang diberikan kuasa untuk mengatur wilayah Duke Cassilas selagi orangnya masih di ibukota. Namun jawaban yang mereka berikan sangat heroik.
"Kami tidak akan menyerah dan mempertahankan tempat ini hingga titik darah penghabisan!"
Balasan itu membuat Jean menyeringai lebar. Karena memang itulah yang dia inginkan.
Dan hasilnya, benteng mereka dapat ditembus dalam waktu kurang dari setengah hari. Bagai air bah, pasukan Jean menyerbu ke dalam kota. Perintah Jean sederhana. Bunuh siapapun yang memegang senjata dan melawan.
Alhasil, lebih dari 5000 penduduk yang dipaksa untuk ikut berperang dibantai hari itu juga, bersama dengan 500 ksatria yang melawan. Darah membanjiri tanah. Potongan tubuh mereka dikumpulkan layaknya Piramida dan dibakar. Bau daging yang hangus memenuhi seluruh kota.
Dengan tatapan yang sangat dingin dan tanpa ampun, Jean mengamati semua pemandangan tersebut. Mulutnya mengeluarkan senyum yang juga dingin.
"Sekarang Duke Cassilas, apa yang akan kau lakukan?"
__ADS_1
Jean tidak keberatan untuk mengasihi orang-orang yang memilih untuk tidak melawannya. Tapi dia sama sekali tidak berminat untuk melepas orang-orang yang menjadi musuhnya.
Dan hukuman untuk Duke Cassilas serta keroconya akan segera tiba.