Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
The Rebel


__ADS_3

Sementara itu, situasi para pemberontak.....


Mereka membuat kemah sebelum untuk istirahat sebelum memutuskan untuk beranjak menuju Nebelhorn City keesokan harinya. Kondisi mereka tidak begitu baik. Seperti yang diperkirakan oleh Goln. Setelah bertempur melawan sekelompok tentara bayaran yang berpengalaman dalam Medan perang dan ganas, jumlah mereka berkurang sebanyak 500 dari yang awalnya 2000.


Suplai makanan mereka juga buruk. Lawan mereka berhasil menghancurkan persediaan yang para pemberontak bawa. Sejauh ini, protes karena kekurangan ransum memang belum ada. Tetapi dalam jangka panjang, terutama ketika pengepungan tiba, kekacauan pasti akan terjadi. Apalagi bala bantuan tidak akan datang.


Seorang pria berusia 40 tahun-an duduk termenung di dalam tendanya. Tubuhnya gemuk dan wajahnya bundar dengan kumis panjang. Tidak begitu tinggi, bahkan cenderung pendek.


Dia sedang resah. Saat itulah, dua orang mengenakan jubah lusuh dan topeng serigala memasuki tendanya. Dia langsung mengangkat wajahnya dan mengekspresikan kemarahannya.


"Kalian terlambat! Tahukah kalian kalau aku tidak punya banyak waktu!? Tidak seperti kalian, aku adalah aku orang yang sibuk!"


Kedua orang berjubah itu menundukan kepala mereka, tanda menyesal. Tentu saja, pria itu tidak peduli bahkan jika mereka bersujud di hadapannya. Kekesalannya tidak akan mereda.


"Kami mohon maaf, yang terhormat count Feldberg."


Salah seorang dari mereka mengatakan itu. Suaranya sangat dalam dan tenang. Seketika itu juga, pria yang bergelar Count Feldberg itu merinding karenanya.


Feldberg adalah sebuah kota kecil yang berjarak tiga hari dari Nebelhorn City. Kota tidak menarik yang pernah disinggahi Jean dan Priscillia dalam perjalanannya menuju Nebelhorn City. Bahkan, salah satu penginapan di sana menjadi saksi betapa ganasnya 'cinta' Jean pada Priscillia.


Kota kecil itu dipimpin oleh seorang Count. Sekarang, kota ini berada di tangan Count Dan Feldberg. Pada awalnya, Feldberg adalah Vassal dari Duke Eisen. Hanya di era Dan Feldberg lah, dia memberontak untuk memegang kendali atas seluruh Principality of Eisen dan melanggengkan dinastinya sendiri.


"Cih, terserah kalian. Sekarang, bisakah kita sampai ke Nebelhorn besok dan menaklukannya hari itu juga? Seperti yang aku katakan tadi, aku sibuk dan tidak punya banyak waktu!"


Meski Count Dan Feldberg merinding, dia tetap berusaha menjaga wibawanya. Dengan menggunakan nada tinggi ketika berbicara, ia yakin kalau mereka pasti akan tergentar. Meskipun sedikit.


Kedua orang itu berpandangan. Meski tertutup oleh topeng, mereka saling membaca ekspresi masing-masing. Pada akhirnya, seorang yang mengenakan topeng serigala berwarna putih menggeleng.

__ADS_1


"Mustahil, Count Feldberg. Pasukan milik anda kelelahan. Mereka membutuhkan waktu untuk istirahat. Perjalanan dari tempat ini ke Nebelhorn tidak mudah. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi. Akan lebih baik jika anda tidak terburu-buru."


Count Feldberg mendecakan lidahnya. Kedua orang ini sangat berisik dan merepotkan. Dia ingat beberapa bulan yang lalu, ketika mereka mendatanginya dan menawarkan bantuan untuk mendukung Count Feldberg.


Tentu saja dia tidak percaya. Siapa mereka tiba-tiba menghampirinya dan menawarkan bantuan? Tapi Count Feldberg tidak begitu lihai dalam peperangan. Dia juga tidak memiliki ahli strategi sama sekali. Dia tidak memiliki banyak opsi selain menerima tawaran mereka.


Dan bukan omong kosong. Dalam waktu singkat, entah bagaimana caranya, mereka berhasil mengumpulkan banyak dana menghimpun pasukan untuk mendukung dirinya. Mereka juga berhasil mengelabui Duke Eisen agar tidak dapat mengendus niatnya.


Tapi apa yang keduanya lakukan sekarang? Mereka justru terkesan sedang memperlambat kemenangannya. Beberapa kali mereka tidak mengindahkan perintahnya dan malah berbuat seenaknya. Itu menjengkelkan. Tapi di saat yang sama, bantuan mereka dibutuhkan.


"Sialan! Lalu bagaimana dengan persediaan milik kita!? Apakah tidak ada bantuan yang datang sama sekali!?"


"Sayangnya, tidak akan ada bantuan yang datang, Count Feldberg. Kita sudah mengerahkan seluruh kekuatan yang kita miliki. Tidak mungkin untuk mendatangkan 200 Ksatria yang anda tugaskan untuk menjaga wilayah anda, kan?


"Untuk persediaan.....saya kira sama saja. Kita bahkan sudah menguras semua cadangan makanan yang kita miliki. Tetap saja, itu adalah batasnya."


Dia terpaksa harus menggunakan saluran pasar gelap dan membuat kontrak dengan pedagang ilegal dari Dublin. Itupun harganya sangat mahal. Selain harus memberikan ratusan koin emasnya, dia juga wajib menukarkan dengan komoditas pangan, kain, dan lainnya dengan hasil tambang berupa besi, Kuningan, tembaga, dan berbagai mineral berharga yang ia miliki.


"Baiklah, kalian boleh pergi. Aku sudah mual melihat keberadaan kalian di sini."


Betapa kasarnya. Tapi mereka berdua telah biasa dengan sikap tempramental count Feldberg. Setelah memberikan sedikit hormat, keduanya pergi keluar tenda, meninggalkan Count Feldberg seorang diri di dalamnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tanpa disadari oleh siapapun yang ada di perkemahan, 100 Ksatria milik Duke Eisen sedang mengendap. Dengan lihai, mereka menyembunyikan langkah mereka dan menghilangkan hawa keberadaannya.


100 orang ini dipecah ke dalam lima tim yang masing-masing terdiri dari 20 orang. Mereka tersebar di berbagai titik perkemahan. Siap untuk melakukan aksinya.

__ADS_1


Begitu isyarat dibunyikan, mereka semua langsung menyerbu perkemahan milik Count Feldberg dan menyerang siapapun yang ada di hadapan mereka. Tanpa ampun, mereka membunuh setiap pemberontak yang mereka temui.


Tidak ada yang siap dengan penyergapan ini. Para pemberontak yang kelelahan dan lengah tidak melakukan perlawanan berarti. Mereka baru bisa menyerang kembali pada penyergap beberapa saat kemudian.


Begitu merasa perlawanan semakin sengit, para ksatria langsung mundur. Tugas mereka telah tercapai. Lebih lama berada di sini tidak akan ada gunanya.


Mereka semua berkumpul ke titik yang telah dijanjikan. Dalam penyergapan ini, mereka kehilangan 20 orang. Menyedihkan memang. Tetapi hasilnya memuaskan. Kematian rekan mereka tidak akan sia-sia.


Begitu mereka ingin kembali ke Nebelhorn untuk memberikan laporan, tiba-tiba muncul seorang pemuda. Dia tersenyum pada mereka. Matanya yang hitam seolah menusuk kedalaman jiwa mereka, membuat semua orang yang ada di sana bergetar.


"Berhenti di sana! Siapa kau!?"


Sepertinya yang berteriak adalah sang kapten. Pemuda itu berhenti dan menundukan Tubuhnya. Sikapnya benar-benar sopan.


"Kalian tidak perlu mengetahui siapa diriku. Aku ke sini untuk mengucapkan selamat kepada kalian. Berkat kehebatan Ksatria terbaik Duke Eisen, salah satu tujuanku sudah tercapai."


Para ksatria menghunuskan pedang mereka. Entah kenapa ada sesuatu yang tidak beres dengan pemuda ini. Begitu melihat tindakan para ksatria, pemuda itu tertawa kecil.


"Ternyata orang-orang yang akan mati memiliki kewaspadaan yang berlipat ganda, ya. Tenang saja, nama kalian akan selalu dikenang. Setidaknya sebagai bajingan yang telah menjadi kaki tangan Duke Eisen."


Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata, pemuda itu mulai menyerang para ksatria yang berjumlah 80 orang hanya dengan tangan kosong.


Tinjunya menyasar ke dada salah satu Ksatria, membuatnya berlubang dan mencabut jantungnya. Melihat apa yang terjadi pada rekan mereka, para ksatria tidak tinggal diam. Mereka langsung maju dan berusaha menebas pemuda itu.


Sia-sia. Mereka malah menjadi target selanjutnya. Tinju yang pemuda itu layangkan membuat perut para Ksatria bolong. Sebagian dari mereka terpenggal karena sabetan tangannya. Sebagian besar mati karena kehilangan banyak darah ketika salah satu anggota tubuh mereka putus karena terkena serangan sang pemuda.


Dari 80 Ksatria yang tersisa, tidak ada satupun yang selamat. Semua dari mereka mati dengan cara yang mengenaskan. Pemuda itu tersenyum tipis dan meninggalkan tumpukan mayat itu sembari bersenandung riang.

__ADS_1


Baginya, hari ini benar-benar menyenangkan.


__ADS_2