
Catatan;
Awalnya saya ingin menulis bagaimana proses terbentuknya [League of Salzburg]. Namun sejujurnya, saya terlalu malas!
Oke, saya minta maaf. Tetapi membuat tokoh baru dengan peran yang cukup penting adalah beban tersendiri bagi author. Jadi, saya rasa pembahasan detail mengenai aliansi tersebut akan saya bahas di lain waktu.
Ngomong-ngomong, di chapter ini dan seterusnya, kita akan kembali ke sudut pandang Jean. Selamat membaca.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Elyse dan Elsie sangat penasaran. Satu Minggu ke belakang, Jean terus tersenyum seolah-olah suasana hatinya sedang baik. Ah, tolong jangan salah. Bukan berarti biasanya Jean cemberut. Jean tidak pernah berhenti tersenyum di depan keduanya.
Namun ada yang berbeda dengan senyumannya kali ini. Pada saat keduanya bertanya, Jean malah mengajak mereka untuk ke kota. Mungkin karena moodnya sedang bagus?
Yang jelas, Elyse dan Elsie tidak menolak. Menghabiskan waktu bersama kakak mereka adalah momen yang selalu istimewa. Bahkan kelak ketika mereka sudah hidup dalam kurun waktu yang sangat lama, hal tersebut akan tetap menyenangkan dan istimewa.
"Nee~~ kakak, kenapa kota ramai sekali? Terutama di alun-alun! Apakah ada sesuatu di sana?"
"Twulung biiuusswwu suujjjuuu (Tolong biasa saja).... Nyam. Kota memang selalu ramai kan?"
"Elsie, tolong jangan kekanakan! Telan dulu makananmu baru berbicara!"
"Siapa yang kekanakan!? Itu adalah dirimu, Elyse!"
__ADS_1
Di tengah perdebatan, mereka merasakan pukulan ringan di kepala mereka. Itu sakit! Keduanya lalu menoleh ke atas. Jean mengepalkan tangannya.
"Jangan ribut di jalanan, oke? Aku tidak mau kalian terpisah dan tersesat di sini."
""Okay""
Si kembar terlihat menyesal dengan tindakan mereka. Yah, Jean tidak serius ketika menjitak mereka. Tapi tetap saja, itu cukup menyakitkan.
Pada akhirnya, ketiganya memutuskan untuk mendatangi alun-alun yang menjadi pusat kerumunan. Karena Elyse dan Elsie terlalu pendek, Jean mengangkat dan menempatkan mereka di masing-masing bahunya kiri dan kanannya.
Elyse dan Elsie dapat melihat seorang wanita sedang berdiri di tengah alun-alun dan merapalkan sesuatu kepada beberapa orang yang berlirik di hadapan wanita tersebut.
Tangannya mengeluarkan cahaya kehijauan. Mereka yang mendapatkan cahaya tersebut terlihat lebih hidup setelah sebelumnya terlihat lemah dan payah. Kebanyakan dari mereka yang menerima cahaya itu adalah orang-orang tua.
Untungnya, di sebelah Jean ada seorang wanita tengah baya yang ikut dalam barisan antrean. Keduanya memutuskan untuk bertanya pada wanita tersebut.
"Ettoo~~ Nyonya, apa yang sebenarnya terjadi di depan sana? Kenapa banyak orang yang mengantre di sini?"
Wanita setengah baya itu menengok ke sumber suara dan tersenyum begitu ia mengetahui kalau yang bertanya padanya adalah dua gadis yang sangat menggemaskan.
"Ah, kita sedang berbaris untuk menerima pengobatan dan penyembuhan dari priets terbaik di kerajaan, nona Gizela! Konon katanya, cahaya yang keluar dari tangannya dapat memberikan kita ketenangan. Ini mungkin akan menjadi pertama dan terakhir kalinya untuk bibi agar bisa menerima berkat seperti itu."
Wanita tersebut penuh harap menunggu barisan. Sepertinya rasa penasaran si kembar belum sirna. Mereka tidak ragu untuk menanyakan beberapa pertanyaan lagi.
__ADS_1
"Ehh? Siapa itu priets Gizela? Apakah dia orang yang luar biasa?"
Mendengar pertanyaan Elsie, wanita itu memiringkan kepalanya. Sekilas, ia memasang tatapan 'orang ini aneh'. Namun ia segera tersadar kalau keduanya masihlah anak-anak. Dan tidak ada nada pengguna sama sekali dalam gaya pernyataan mereka.
"Astaga. Hahaha... Nona Gizela adalah salah satu pendeta dari katedral. Dia adalah wanita yang luar biasa, nak. Secara rutin, nona Gizela memberikan pengobatan gratis untuk penduduk yang tidak mampu seperti kami. Dia juga tidak ragu menolong seseorang di antara kami jika membutuhkan bantuan. Dia benar-benar gadis yang sangat baik."
Nampaknya Elyse dan Elsie terpana dengan sifat dari pendeta bernama Gizela ini. Apalagi, wanita itu juga mengatakan kalau pendeta Gizela juga memberikan banyak sumbangan pasca Krakov dilanda kekacauan.
"Dan kamu anak muda.... Bukankah kamu seharusnya memberitahu tentang pendeta Gizela kepada mereka berdua? Jangan-jangan..."
Jean mendapatkan tatapan curiga dari wanita itu. Namun Jean hanya tersenyum tipis.
"Ah, tentu saja saya mengetahui beberapa hal tentang pendeta Gizela. Namun, saya hanya ingin kedua adik saya bisa berkomunikasi dengan orang lain. Maaf karena telah merepotkan Anda, nyonya."
Ekspresi wanita itu melembut. Jean adalah pemuda yang sopan dan baik. Dia jelas bermaksud untuk mengajarkan adik-adiknya untuk bersosialisasi.
"Ah, Sudan giliran ku! Baiklah nak, aku pergi dulu. Jaga adikmu baik-baik, oke?"
Jean tersenyum ramah dan mengangguk. Setelah wanita tersebut pergi, Jean memutuskan untuk kembali. Namun seketika itu juga niatnya berubah. Hal yang menarik akan segera terjadi.
"Mereka lagi huh? Tentu saja tidak akan hancur semudah itu kan?"
[Cult Of Savior] akan segera datang dan mengacaukan tempat ini.
__ADS_1