Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Night Raid (1)


__ADS_3

Berkat intimidasi yang Jean berikan pada pangeran Hans dan keroconya, dia bisa bergerak sesukanya sekarang. Tidak ada lagi yang berani menyentuhnya. Orang-orang seperti Bryant yang secara jelas memusuhinya ataupun Hansen Baldric yang menaruh dengki terhadapnya memang terus berusaha untuk mencelakai dirinya, tetapi Jean tidak peduli dengan hal itu.


Sudah hari kedelapan semenjak keberangkatan mereka menuju Medan perang.


Sungguh, Jean benar-benar tidak habis pikir dengan sikap pangeran Hans dan punggawanya. Sampai sekarang, mereka belum bergerak sedikitpun. Sudah dua hari mereka berada di desa kecil ini dan belum berniat untuk maju sama sekali.


Masih ada logistik yang cukup bagi pasukannya. Tetapi Jean tidak lagi ingin mengulur waktu. Setelah menyelesaikan persiapannya, dia mengumpulkan seluruh prajuritnya.


"Malam ini, kita akan menyerbu ke tiga desa yang berada di dekat sini."


Jean membawa keluar papan yang biasa dia gunakan. Ada sebuah peta yang tertempel di sana. Berkat navigator yang dia rekrut dari kelompok mercenary yang menyerangnya, peta yang gadis itu gambar cukup detail.


"Tiga desa ini terletak satu kilometer dari sini, sedikit ke arah timur. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh intelijen yang ku kirim, pasukan dari kerajaan Bucharest terkonsentrasi di titik ini."


Jean menggunakan tongkat kecil untuk menunjuk beberapa titik yang tergambar di peta. Dia menuliskan angka di masing-masing titik tersebut.


Angka itu adalah dari jumlah pasukan kerajaan Bucharest yang ditempatkan di sana. Kalau di total, mereka berjumlah 2000 orang. Selisihnya tidak begitu jauh dari pasukan miliknya. Tapi tetap saja, mereka memiliki keunggulan.

__ADS_1


"Tuan Jean, saya rasa tidak bijak untuk memecah pasukan anda yang berjumlah sedikit menjadi beberapa unit. Akan menjadi baik jika anda menyerang pos-pos musuh satu per satu."


Gadis yang berdiri di samping Jean adalah orang yang sama dengan Navigator yang dia tunjuk. Jean menemukan bakatnya yang cukup baik mengenai Medan perang. Karena itu, Jean memutuskan untuk mengkontraknya sebagai penasihat Jean.


"Kau benar. Tapi itu tidak seperti aku punya pilihan lain."


Jean berpikir sejenak. Mempertimbangkan jumlah pasukannya, memecah mereka ke dalam unit-unit kecil memang tidak masuk akal. Dia harus memutar otaknya untuk mencari cara lain.


Kebetulan, pandangannya teralihkan pada sekelompok milisi yang sedang duduk-duduk santai di pintu masuk desa. Mereka terlihat seperti sedang menahan lapar. Jean melihat mereka dan sesaat kemudian, dia terlihat seperti orang yang mendapat pencerahan.


"Ya pak! Persediaan yang kami miliki masih tersisa banyak! Belum lagi jika dihitung dengan yang kita rebut dari kelompok mercenary yang kemarin, kita bisa bertahan tiga Minggu tanpa harus kesulitan."


Jean mengangguk. Kalau begitu, dia masih bisa mengalokasikan persediaannya untuk hal lainnya. Sementara itu, gadis yang berdiri di samping Jean menghela nafas. Dia punya gambaran kasar tentang apa yang Jean pikirkan, tetap bahkan menurutnya, itu adalah keputusan paling rasional yang bisa Jean buat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hei lihat. Kenapa mereka semua berkumpul di sana?"

__ADS_1


"Eh? Entahlah. Aku tidak mengerti. Bagaimana kalau kita juga ke sana?"


Para milisi berbondong-bondong mendatangi pusat keramaian. Di tengah kerumunan, seorang prajurit terlihat sedang mengatakan sesuatu.


"Kalau kalian berada dalam barisan yang sama dengan tuan Jean, dia akan memberikan kalian makanan serta minuman secara rutin! Dia juga akan memberikan kalian gaji yang cukup besar!"


Kalimat itu saja cukup untuk menarik minat para milisi. Mereka berada dalam kondisi yang payah dan kelaparan. Kalau mereka bisa makan, mengapa tidak pergi ke barisan Jean saja?


Dan itu bukan omong kosong. Antrean panjang telah menjalar. Para milisi itu menerima makanan yang cukup mewah yang bahkan tidak dinikmati oleh pasukan lainnya. Dua potong roti kualitas menengah, satu potong ayam berukuran sedang, dan satu butir telur.


Mereka makan dengan lahap. Setidaknya, apa yang mereka makan hari ini akan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka hingga esok pagi.


Begitu mereka kenyang, Jean masuk ke tengah-tengah mereka. Dia berdiri dengan kokoh. Menatap semua milisi yang datang, dan membuka mulutnya.


"Malam ini, kita akan melakukan penyerangan ke beberapa desa yang ada di dekat sini. Mereka adalah lumbung. Begitu kalian berhasil merebut tempat itu, aku akan menjamin kalian mendapatkan jatah dari semua makanan yang ada di sana.


Semua milisi bersorak. Jean tersenyum puas. Dia telah memiliki tenaga tambahan. Jadi, aksi penyerangan yang direncanakan malam ini bisa dieksekusi.

__ADS_1


__ADS_2