
Jean terduduk di tepi ranjang. Tangannya sedang mengelus rambut berwarna ungu yang sangat lembut dan harum. Dia tersenyum sembari memandangi wajah gadis yang tertidur di sampingnya.
Malam ini, seperti yang Jean janjikan, dia menyusup ke rumah Viscount Lostov setelah 'bersenang-senang' dengan Charlotte dan Selena. Tentu keduanya tahu kemana Jean pergi. Dan tentu saja, mereka berdua tidak keberatan.
Natasha adalah gadis yang kesepian. Semenjak memasuki usia dewasa, gerak-geriknya sangat dibatasi. Dia tidak memiliki teman selain Charlotte dan Selena. Tidak ada tempat untuk bermain dan mencurahkan keluh kesahnya.
Tidak hanya Jean yang memahami rasa kesepian yang dirasakan oleh Natasha. Selena dan Charlotte juga. Bahkan, dia masih ingat dengan apa yang Charlotte katakan sebelum dia pergi ke rumah Viscount Lostov.
"Berikan Natasha perhatian lebih, ya."
Ah, betapa pengertiannya......
"Hhmmmhhh....Jean..."
Jean tersadar dari lamunannya. Natasha terbangun. Jean segera mencium kening Natasha dan tersenyum padanya.
"Tidak apa. Tidurlah lagi."
Natasha tersenyum kecil dan kembali tidur. Jean menyelimuti tubuh Natasha yang terekspos tanpa pakaian. Angin cukup dingin malam ini.
__ADS_1
Setelah mengelus Natasha Beberapa kali lagi, Jean meninggalkan kamarnya dan keluar. Tenang, Jean bisa menghilangkan keberadaan dirinya sepenuhnya. Bahkan tanpa mengendap sekalipun, tidak akan ada orang yang bisa mendeteksi keberadaannya.
Jean dengan santai melewati beberapa ksatria keluarga Lostov yang berkeliling mansion. Setelah menuruni tangga, Jean keluar dari mansion dan meninggalkan area tempat tinggal para bangsawan.
Jean berjalan menuju sebuah gang gelap dimana tidak ada satupun orang yang tinggal di sana. Seketika, lima orang muncul dan berlutut di belakangnya.
"Apa kalian sudah melaksanakan tugas dariku?"
"Ya, tuan Jean. Kami telah mengumpulkan berbagai informasi yang anda minta. Tetapi masalahnya....kami memperkirakan banyak informasi yang telah terkontaminasi oleh kabar dan berita yang tidak berdasar."
Jean mengangguk. Mengumpulkan informasi, terutama yang Jean minta pada mereka, memang bukan hal yang mudah. Mereka membutuhkan kolaborator yang tepat sebagai sumber informasi mereka.
Dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan anak buahnya untuk melakukan aksi spionase, infiltrasi, dan aktivitas intelejen lainnya.
Jean menerima tumpukan kertas kecil dari mereka dan menyimpan itu semua di balik jubahnya yang lebar. Kelima anak buahnya langsung pergi dan Jean melanjutkan perjalanannya menuju markas Serigala Putih.
Sepanjang perjalanan, Ketika dia melihat beberapa orang berjaga sembari mengobrol dan bercanda satu sama lain, mood Jean sedikit membaik. Terkadang mereka bernyanyi dan menari. Ada juga yang mempertahankan api unggun agar tetap menyala.
Mereka bukan ksatria. Hanya pemuda dan orang dewasa biasa yang masih belum melupakan tragedi yang telah menimpa diri mereka. Semuanya termotivasi untuk melindungi sesuatu yang masih mereka miliki dan membantu sesama.
__ADS_1
Tapi bahkan....mereka akan bernasib malang. Sebentar lagi pertempuran akan meletus dan mereka akan direkrut paksa untuk menjadi milisi.
Jean hanya menghela nafas dan melanjutkannya perjalanannya.
Begitu dia sampai di markas, Jean langsung pergi ke ruang kerjanya dan membaca berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan.
Setidaknya ada empat hal yang Jean ingin ketahui. Jumlah ksatria yang dimiliki oleh masing-masing bangsawan yang ada di kerajaan dan total kekayaan mereka. Adapun dua hal lainnya adalah jumlah ksatria yang dimiliki oleh keluarga kerajaan dan total kekayaan mereka.
Jean membaca kertasnya satu persatu. Setelah setengah jam berkutat dengan informasi-informasi yang mengalir ke kepalanya, Jean telah mengambil kesimpulan.
Dengan kekuatan militer yang kerajaan miliki sekarang serta kemampuan finansialnya, kerajaan Dublin sangat tidak siap untuk berperang.
Bangsawan setara Baron memiliki paling banyak 50 ksatria sementara bangsawan setingkat Viscount paling banyak 100. Earl Baldric setidaknya memiliki ksatria aktif yang berjumlah 500 dan Duke Cassilas 1000.
Jika diakumulasikan, paling banyak mereka hanya bisa mengerahkan 2000 pasukan untuk menyerang dua kerajaan!
Belum lagi masalah rantai komando, ransum dan kebutuhan para ksatria, dan lain-lain. Jean memang belum pernah terjun ke Medan perang, tetapi berkat ayahnya, Jean tidak kekurangan sumber literasi mengenai sejarah perang yang tercatat dari berbagai era.
Tapi apakah ketidaksiapan ini mengganggu dirinya? Tentu tidak. Sebaliknya, sifat tergesa-gesa mereka membuat rencana Jean bekerja lebih mudah.
__ADS_1
Jean segera menyusun beberapa plan tambahan. Dia yakin ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan ekspektasinya tapi tidak ada masalah dengan hal itu.