Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Night Raid (2)


__ADS_3

Suara ringik kuda, sabetan pedang, dan teriakan manusia memenuhi langit malam. Api berkobar menjilati langit, asapnya yang hitam tertutup selubung gelapnya malam. Tambahkan panah yang berterbangan di atas kepala, maka siapapun yang melihatnya pasti akan berpikir bahwa tidak ada hari esok yang menanti mereka.


Sebagaimana yang dia rencanakan, Jean menyerbu ketiga desa yang ada di dekatnya. Dia telah mendapatkan tenaga tambahan dari para milisi. Terlepas dari ketidakcakapan mereka dalam bertempur, keberadaan mereka sangat berguna.


Pertama, Jean mengerahkan para milisi untuk menyerbu pos musuh secara sporadis. Meskipun tidak pandai bertarung, jumlah mereka yang banyak membuat musuh kewalahan.


Satu persatu, Jean melihat korban berjatuhan di pihaknya. Begitu dia melihat kalau musuh yang bertahan sudah kelelahan, Jean memberikan isyarat agar milisi itu segera mundur.


Jean tidak memberikan waktu istirahat untuk musuhnya. Begitu para sukarelawan sudah mundur ke titik yang seharusnya, Jean langsung mengerahkan kavalerinya untuk menerobos pertahanan lawan.


Berbeda dengan yang sebelumnya, para kavaleri ini adalah kelompok yang Jean latih dengan keras. Meskipun tidak berpengalaman di medan perang, mental mereka sekeras baja.


Mereka menyapu garis pertahanan lawan dan menghabisi semua pasukan yang melawan mereka. Gerak kavaleri diikuti oleh barisan infanteri di belakang. Mereka juga membunuh siapapun yang berani melawan.


Hanya dalam waktu lima menit, Jean dan pasukannya berhasil merebut salah satu pos musuh. Tersisa dua lagi.


'Ada sepuluh orang yang gugur di barisan prajuritku. Tapi tidak ada waktu untuk memikirkan itu sekarang.'

__ADS_1


"Serbu pos selanjutnya! Bunuh semua yang melawan! Tangkap orang-orang yang menyerah! Lakukan dengan cepat!"


Instruksi Jean segera dilaksanakan. Tanpa menghabiskan banyak waktu, Kavaleri miliknya segera menyerbu dua pos lainnya. Diikuti dengan infanteri.


Menurut intelijen yang dia dapatkan, pasukan kerajaan Bucharest yang ditempatkan di sini kebanyakan adalah para sukarelawan dan tentara bayaran. Jumlah mereka kurang lebih 1.300. sementara sisanya, 7.00, diisi oleh para ksatria.


Mereka tidak punya banyak waktu untuk bermanuver. Alhasil, mereka tidak bisa mengehentikan gerak laju pasukan Jean.


Pada malam itu, tercatat 300 orang tewas di pihak kerajaan Bucharest sementara 20 orang di pihak Jean (tanpa menghitung jumlah milisi yang tewas). Sisanya menyerah dan Jean mengambil mereka sebagai tahanan perang. Ini bukan karena alasan moral atau apapun. Memang sedikit ada belas kasih dari Jean, Tapi terlepas dari itu, mereka cukup berguna untuk melakukan hal lainnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jean tidak melarang aksi penjarahan. Lebih tepatnya, dia memerintahkan hal itu. tapi dia dengan tegas melarang pembunuhan dan pemerkosaan.


Beberapa penduduk, terutama pemuda dan orang-orang dewasa, berusaha melakukan perlawanan dengan melakukan penyergapan di titik tertentu.


Itu tidak seperti Jean akan mengampuni mereka. Jadi begitu dia masih menemukan orang-orang yang melakukan perlawanan, Jean akan memenggal kepala orang-orang itu di depan umum dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Seperti yang kalian lihat. Aku akan menyelamatkan siapapun yang diam ditempat dan tidak melakukan perlawanan dalam bentuk apapun. Kalau kalian melakukannya, seperti yang kalian lihat, aku tidak menahan diri lho."


Jean mengatakan hal seperti itu ke penduduk desa yang sedang ketakutan. Well, dia mengatakan hal semacam itu dengan nada riang, yang justru membuat dirinya terlihat seolah-olah seperti seorang iblis.


Ah, tentu saja Jean tidak ragu untuk mengeksekusi siapapun yang melawan perintahnya. Bahkan jika itu adalah orang-orang yang bersama dengannya.


Begitu Jean mendapatkan kabar bahwa ada beberapa ksatria dan milisi yang memerkosa gadis di desa ini, Jean segera memanggil mereka dan mengeksekusi mereka di depan umum.


"Kalian lihat juga kan, teman-teman? Siapapun yang melanggar perintahku akan mendapatkan nasib yang sama dengan mereka. Jadi, tolong bijak dalam berbuat, oke?"


Kaki prajuritnya bergetar ketika Jean mengeksekusi rekan mereka sambil tersenyum lebar dan mengatakan hal seperti itu dengan nada yang ringan layaknya seorang anak yang bersenang-senang.


Jean telah menanamkan rasa takut tidak hanya dalam jiwa musuhnya namun juga sekutunya.


"Oh, benar juga! Aku minta maaf karena telah menjarah harta kalian. Tetapi tolong jangan salahkan aku, oke? Salahkan saja pangeran yang sedang memimpin peperangan ini. Karena dialah, aku harus melakukan ini semua."


Faktanya, jarahan yang dia ambil bukanlah untuk dirinya sendiri melainkan untuk pangeran dan bangsawan serta pedagang lainnya yang berpartisipasi dalam perang ini. Yah, Jean berniat untuk melemparkan tanggung jawab pada mereka, bukan dirinya sendiri.

__ADS_1


Malam itu, penyerangan malam telah berhasil dengan gemilang.


__ADS_2