Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
The Culprit (2)


__ADS_3

"Jadi, sekarang kita yang dikepung, kah?"


Hujan cairan aneh sudah sedikit reda, tapi tidak membawa banyak perubahan. Sepertinya nyaris sepertiga penduduk kota sudah mati. Sialnya, Jeanne kini tidak bisa berbuat apapun.


Jeanne memutuskan untuk mengajak ketiga adiknya masuk ke dalam restoran tempat mereka makan siang sebelumnya. Berteduh memang sia-sia. Tetapi setidaknya mereka bisa duduk di dalam.


Itulah yang awalnya Jeanne pikirkan sebelum lima orang yang mengenakan simbol kultus keselamatan mendatangi dan mengepungnya. Satu orang diantara mereka terlihat sebagai pemimpin, melihat dari betapa besar mana dan energi asing yang bocor dari tubuhnya.


"Ah, kita kedatangan orang-orang yang merepotkan lagi. Selain itu... Lingkaran sihir yang ada di bawah kaki kita membuat energi dan mana milik kita terhisap dalam jumlah yang cukup banyak dan cepat."


Mendengar gumaman Jean, Jeanne menengok ke bawah. Benar saja, sebua lingkaran sihir berwarna merah darah dengan huruf aneh berada dibawah kakinya. Jeanne merasa bahwa mananya semakin lama semakin tersedot.

__ADS_1


"Aku akan memberimu dua pilihan. Melawan dan kau serta ketiga orang yang ada di belakangmu akan mati. Jika kau menyerahkan dirimu, ketiga orang di belakangmu akan mati namun kau akan selamat. Pertimbangkan pilihanmu baik-baik, nona."


Tawaran dari pemimpin orang-orang yang mengepungnya membuat Jeanne murka. Raut wajahnya dengan jelas menampakan hal itu. Giginya bergemelutuk. Tubuhnya bergetar.


Jeanne menggenggam pedangnya erat-erat. Meski mananya sedang terhisap, dia memaksakan diri untuk mengalirkan mana milikinya ke pedang yang ia genggam. Kobaran api emas muncul di bilahnya. Tanpa banyak bicara, Jeanne mengayunkan pedangnya dan menghembuskan kobaran api emasnya ke arah anggota kultus keselamatan.


Melihat hal tersebut, pemimpin rombongan anggota kultus keselamatan tersenyum di balik penutup wajah yang ia pakai. Dengan mudah, ia menangkis semburan api emas yang mengarah padanya. Dia selamat. Sayang, beberapa anggotanya tewas terbakar menjadi abu karena terlambat untuk menangkis dan menghindari api emas milik Jeanne.


"Cih, dasar tidak berguna. Mau bagaimana lagi, kau membuatku tidak bisa mengambil pilihan lain. Kalian, serang wanita itu tapi jangan bunuh dia! Sementara untuk tiga yang lainnya, habisi mereka!"


"Jean, Hati-hati!!"

__ADS_1


Jeanne memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Dia berhasil membunuh tiga orang yang mengincar dirinya, namun efek samping dari pemaksaan itu sangat terasa bagi dirinya. Setiap kali Jeanne berusaha menggerakkan tubuhnya, ia serasa disayat ratusan pisau.


"Oya, kukira aku ditinggali di sini. Menyedihkan sekali diriku."


Tanpa disadari oleh siapapun, Jean berhasil membunuh lima orang yang mengincar dirinya dan kedua adik kembarnya. Jean sengaja memasang penghalang pandangan kepada Elyse dan Elsie agar mereka tidak melihat bagaimana Jean memecahkan lima kepala musuhnya hanya dengan satu cengkeraman.


"Elyse, Elsie. Aku menitipkan Kakak Jeanne pada kalian, oke? Kalian akan aku kirim ke rumah bunda dan kakak. Pastikan untuk tetap di sana sampai bunda kembali, ya?"


Jean membatalkan mantra yang mengikat Jeanne. Mungkin karena akhirnya terbebas dari rasa sakit, gadis itu segera pingsan. Jean memberikan kakaknya pada si kembar dan menteleportasi mereka bertiga ke titik yang sudah ia tentukan.


"Bunda mungkin akan sedikit terkejut ketika tahu bahwa ketiga gadis manisnya sudah tidak ada lagi di sini. Tidak masalah, selama mereka selamat, semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


Jean kembali menatap musuhnya yang tersisa. Bibirnya membentuk seringai lebar.


"Mari lanjutkan permainannya, monyet-monyet hina."


__ADS_2