
Svetlana sadar kalau dia sedang menangis. Dia langsung mengusap air matanya dan tersenyum pada Jeanne. Sangat memalukan untuk menangis seperti ini di depan putrinya.
Jeanne sendiri memahami dan tidak membicarakan apapun. Tetapi, suasana sudah terlanjur canggung. Jadi Jeanne memutuskan untuk pergi mengambil air minum untuk mereka berdua.
"Terimakasih, Jeanne. Kamu sangat baik."
"Sama-sama. Mama juga baik."
Keduanya saling bertatapan sejenak lalu bertukar tawa. Kecanggungan diantara mereka sudah hilang dan suasana kembali seperti semula. Svetlana dan Jeanne menghabiskan waktu mereka untuk bercanda. Hingga akhirnya Svetlana dan Jeanne merasakan kehadiran seseorang di depan rumah mereka.
"Ah, itu pasti salah satu temanku! Dia mengatakan kalau dirinya akan ke sini hari ini! Mama, aku akan ke depan! Bisakah membantuku untuk menyambutnya?"
Svetlana mengangguk. Dia bilang akan menyiapkan minuman untuk tamunya. Jadi Svetlana masuk ke dalam rumah dan membuatkan minuman. Sementara Jeanne, dia berlari ke depan pintu rumah setelah membasuh keringatnya dengan handuk basah.
Begitu ia membuka pintu, seorang wanita yang seusianya berdiri di depannya. Meski seumuran, tubuhnya lebih pendek. Lebih terlihat seperti seorang gadis berusia 12 tahun terlepas dari umurnya yang 10 tahun lebih tua dari yang terlihat.
__ADS_1
Dia memiliki rambut berwarna putih yang diikat dengan gaya twin tail. Berbeda dengan Jeanne yang biasa memakai seragam ksatrianya, gadis ini menggunakan baju yang agak bebas.
"Hai Jeanne, selamat pagi. Maaf jika aku mengganggu waktumu tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan."
"Eh, Hanna? Selamat pagi juga! Bagaimana kalau kita masuk ke dalam? Akan lebih nyaman jika mengobrol di dalam!"
Mood Jeanne menjadi lebih baik ketika seorang wanita bernama Hanna mendatangi rumahnya. Benar, Hanna adalah orang yang dianggap sebagai teman oleh Jeanne. Meskipun usia mereka sama, Hanna jauh lebih senior di squad ksatria mengingat latar belakang keluarganya.
Selama ini, Hanna lah yang membimbing Jeanne. Dia mengajarkan apa saja yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh seorang ksatria. Hanna juga mengajarkan etika ksatria dan banyak hal lainnya. Itulah kenapa, Jeanne menganggap Hanna seorang sahabat yang berharga.
Keduanya berjalan menuju ruang tamu. Di sana, Svetlana telah menyiapkan minuman segar dan camilan untuk mereka berdua. Setelah Jeanne dan Hanna duduk, Svetlana pamit karena masih ada sesuatu yang harus dia selesaikan.
"Ini bukan pertama kalinya aku ke rumahmu. Tapi tetap saja, aku terkesima dengan interiornya. Meskipun sederhana, ini terlihat sangat berwibawa. Entah kenapa lebih menggambarkan seorang ksatria daripada mansionku."
"Fufufu... Mama lebih nyaman tinggal di tempat seperti ini daripada rumah yang mewah. Begitu juga aku."
__ADS_1
Hanna tertawa kecil. Sejenak kemudian, dia kembali serius. Jeanne juga. Kalau Hanna sampai datang ke rumahnya, itu berarti ada hal yang benar-benar mendesak. Mereka berdua tidak memiliki lebih banyak waktu untuk berbasa-basi.
"Baiklah, ada misi khusus yang diberikan kepada ksatria. Misi ini diberikan oleh istana secara langsung. Aku akan menjelaskan garis besarnya. Detailnya akan dibahas di markas."
Hanna memberikan sebuah perkamen pada Jeanne. Saat Jeanne membaca isinya, ternyata itu berisi yang harus ia lakukan.
"Mata-mata telah menemukan sebuah tempat yang diduga menjadi markas bajak laut. Kita akan pergi bersama tiga hari lagi."
"Hmmm.... Apakah ada petunjuk mengenai jumlah mereka? Akan sulit untuk mengukur kekuatan mereka jika kita tidak memiliki lebih banyak informasi lain."
"Sejauh ini tidak ada. Tapi kita berencana untuk mengirimkan 500 orang, termasuk kau dan aku, dalam misi kali ini. Sisanya seperti yang aku katakan tadi, kita akan membahasnya di markas."
Jeanne menatap perkamen yang dia pegang lamat-lamat. Dia tidak yakin dengan misi ini. Namun, misi adalah misi. Dia segera berdiri dan bersiap-siap.
"Baiklah, aku akan bersiap sejenak. Tolong tunggu di sini, oke?" Hanna mengangguk.
__ADS_1
15 menit kemudian, mereka berangkat menuju markas Ksatria yang ada di ibukota kerajaan Warsawa, Krakov.