
Christov merasa ada yang tidak beres. Tapi dia sendiri tidak tahu apa itu. Apakah karena ia terlalu banyak minum? Sepertinya tidak. Christov memiliki resistensi yang tinggi terhadap alkohol. Lima botol anggur tidak akan membuatnya mabuk atau hilang kendali sama sekali.
Ada keresahan di dalam dirinya. Seolah-olah ia sedang diawasi oleh sesuatu. Hatinya selalu was-was. Dipenuhi ketakutan kalau mungkin saja, ia akan diserang kapanpun itu.
Karena itu, Christov tidak mengendurkan penjagaannya. Tapi justru itulah yang menjadi masalah. Sifat paranoid yang tiba-tiba timbul membuat pesta yang ia selenggarakan menjadi kacau.
Dia hanya mengurung diri saja di kamar. Yang lebih aneh, dia menambah jumlah anak buah untuk menjaga dirinya ketika berada di dalam kamar. Berbeda dari malam-malam sebelumnya, tidak ada wanita yang menemani ia.
"Sial! Sial! Sial!! Ini pasti karena bocah itu.... Ini pasti karena bocah itu! Kalau bukan karena dia, aku tidak akan mengalami hal seperti ini sekarang!!"
Christov menyadari kalau rasa was-was dan khawatir yang tidak berdasar ini muncul ketika dia memerintahkan untuk membuang bocah itu. Dia menggertakan giginya.
"Bajingan! Bocah terkutuk itu!! Argghhhh!!"
Christov tidak tahan lagi. Dia bangkit dari dipan yang ia tiduri, menyarungkan pedang, dan memanggul senapan di bahunya. Tekadnya sudah bulat. Dialah yang harus mengundurkan pemuda terkutuk itu dengan tangannya sendiri!
Tanpa memedulikan perhatian anak buahnya, Christov berjalan menembus dinginnya angin laut. Bulan purnama menerangi jalanan, tapi itu belum cukup untuk menjadi penerang jalan. Karenanya, Christov beberapa kali tersandung oleh batu-batu dan kayu yang ada di depannya.
__ADS_1
"Bajingan! Bajingan! Bajingan!"
Mulutnya tidak berhenti merapalkan umpatan. Dia memukul, menendang semua yang ada di depannya.
Begitu sampai di tepian pantai, dia melihat seonggok tubuh yang tak lagi bernyawa tergeletak di sana. Christov menyeringai. Dia berjalan menuju mayat itu dan mengambil sebuah batu. Dia menggunakan batu itu untuk menggali pasar pantai yang akan dia gunakan sebagai kuburan.
Setelah menggali sejenak, ia beranjak ke arah mayat itu. Namun yang ia temui bukanlah tubuh pemuda yang menjadi tempat pelampiasan amarah dan frustasinya. Sebaliknya, dia mengenali bahwa mayat yang terbaring di sini adalah dua anak buahnya, dengan kepala terpenggal.
Rasa marah, frustasi, dan sifat negatif lainnya memenuhi diri Christov. Tapi sesaat kemudian, instingnya berteriak agar dia segera menyingkir dari sana. Menurutinya, Christov segera menyingkir dengan cepat.
Seketika itu juga ia merasakan sebuah tekanan yang sangat berat dari arah sampingnya hingga ia terpental. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi barusan. Setelah memperbaiki posturnya dan mendapatkan ketenangannya kembali, Christov melihat siluet seseorang di bawah cahaya bulan.
"Aku tidak menyangka kalau kau akan semudah itu menghindari serangan ku. Hahhh.... Benar-benar patut disesalkan."
Seorang pemuda keluar dari bagian gelap pantai. Cahaya rembulan menyinari dirinya, membuat wujudnya saling terlihat jelas.
"Kau..... Kau bajingaaaann!!"
__ADS_1
Christov tidak berpikir dua kali untuk menyerang orang itu. Orang yang sama dengan yang menjadi target penyiksaannya. Dengan tubuhnya yang besar dan lincah, dia mengarahkan tinjunya ke arah pemuda itu, yang secara mengejutkan ditahan dengan mudah oleh telapak tangannya.
'Dia menahan tinjuku!? Itu tidak mungkin!!'
Christov segera mundur beberapa langkah jauhnya untuk menciptakan jarak antara dirinya dan pemuda itu. meski kaget, ia bersiap untuk melancarkan serangan lainnya. Namun semua persiapannya diruntuhkan begitu saja ketika pemuda itu telah berdiri di hadapannya dan melayangkan tinju ke wajahnya.
Christov tidak sempat menangkis, pun menghindar. Wajahnya menerima pukulan telak dari pemuda itu dan tubuhnya terpelanting ratusan meter ke belakang dan jatuh di pasir pantai.
"Lumayan keras. Aku yakin orang biasa pasti akan remuk tangannya jika mereka memukulmu. Yah, mereka seolah memukul sebuah plat besi dengan tangan kosong."
Pemuda itu hanya tersenyum ketika melihat Christov yang susah payah berdiri. Beberapa tulangnya patah karena posisi mendarat yang tidak wajar. Hidungnya hancur dan giginya patah. Mulutnya melesak ke dalam penampilannya benar-benar buruk.
Tapi Christov tidak menyerah. Dia maju untuk memiting dan membanting pemuda itu. Namun pemuda itu jauh lebih cepat. Ia mendekati Christov dan menendang perutnya dengan dengkul. Christov kembali terpelanting dan mulutnya menyemburkan darah segar. Bagian organ internalnya rusak parah karena dampak tendangan tadi.
"Dua kali serangan, luka parah. Ini buruk. Kau tidak sehebat yang kau pikirkan, kan?"
Ia tersenyum. Dengan langkah yang pasti ,ia menghampiri Christov yang sedang terbaring lemah. Dia menjambak rambutnya dan memaksa Christov untuk melihat wajahnya. Seringai besar terbentuk di mulut pemuda itu.
__ADS_1
"Maaf, yang kemarin-kemarin aku hanya bercanda. Bagaimana kalau kita serius sekarang, Christov?"