
Jean mendengar sesenggukan dari belakangnya. Hahh....bahkan ia belum membersihkan diri. Tentu saja, Jean tahu kalau daritadi, si kembar ini telah terbangun. Tidak, bahkan sejak awal, Jean menyadari kalau mereka sama sekali tidak tertidur.
Sedari awal, Jean sadar ada yang aneh di desa ini. Dan saat Piotr menerimanya sebagai tamu, dia semakin yakin akan hal itu. Jean juga memahami bahwa keanehan tersebut berasal dari suatu tempat. Karena Jean tidak ingin repot-repot, dia ikuti saja permainan Piotr.
Dan di sinilah dia sekarang. Berlumuran darah di depan dua anak kecil yang tidak berdosa. Wajah mereka pucat dan ketakutan. Bahkan keduanya mengompol. Jean mencoba tersenyum agar mereka tenang, tetapi tangis keduanya semakin kencang.
"H-hei, jangan menangis oke? Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu. Tunggu di sini, oke?"
Bukan hal yang bijak untuk bermandian darah di depan dua anak kecil ini. Jadi Jean memutuskan untuk naik ke atas dan membersihkan dirinya di sebuah sumur. Setelah membersihkan dirinya, Jean memutuskan untuk memasak sesuatu. Dia tidak lapar. Namun si kembar itu pasti belum makan sama sekali.
Untungnya, di dapur Piotr masih ada gandum, daging mentah, dan beberapa buah-buahan. Dua anak itu telah lama tidak makan dengan baik. Mereka tidak boleh diberikan makanan keras seperti roti yang sulit untuk ditelan. Membuatkan mereka bubur akan lebih baik.
Proses pembuatannya agak lama. Syukurlah semua makanan ini sudah jadi. Dua porsi bubur gandum dengan lauk daging yang ia masak hingga lembut. Cukup lembut untuk dikunyah seorang anak berusia lima tahun hingga hancur dengan mudah.
__ADS_1
Jean juga membuatkan mereka minuman buah yang hangat. Musim dingin belum lagi tiba tapi cuaca terasa dingin. Minuman hangat akan cocok untuk menenangkan diri mereka.
Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa Jean menolong kedua anak yang bukan siapa-siapanya itu? Entahlah. Dia tidak biasanya seperti ini. Mungkin karena perasaan sentimentil karena dirinya dulu sempat menjadi gelandangan? Atau dia hanya menginginkannya saja?
Yang jelas, menolong mereka sama sekali tidak membuatnya rugi. Itu adalah yang paling penting. Dia tidak bisa membaca masa depan, namun anggap saja menolong mereka adalah investasi yang sangat berguna untuk dirinya di masa yang akan datang.
"Aku membawakan makanan untuk kalian. Jangan khawatir, satu-satunya yang ada di dalam makanan ini adalah beberapa bumbu. Tidak ada racun di dalamnya."
Kedua gadis kembar itu tidak banyak bicara dan mengambil makanan yang ada di tangan Jean. Sebenarnya mereka tidak peduli apa yang ada di dalamnya. Keduanya lapar, haus, lelah, dan takut. Bahkan kalau apa yang ada di dalam mangkuk yang mereka pegang adalah racun, si kembar pasti akan memakannya.
Jean memandangi mereka sambil tersenyum. Mereka berdua menggemaskan dan imut. Sama seperti banyak anak lainnya, mereka polos dan naif. Tapi takdir maupun dunia tidak berbaik hati pada mereka.
Sambil menemani mereka makan dengan lahap, Jean menggunakan tekniknya untuk melihat bagian internal tubuh kedua gadis ini. Sekilas tidak ada yang aneh. Namun setelah Jean memastikan lebih dalam lagi, pendapatnya berubah.
__ADS_1
'Sulit dipercaya, mereka memiliki kolam mana yang sangat besar. Jaring-jaring yang tertaut ditubuh mereka bagaikan pipa yang saling bersambung akan memudahkan energi alam berubah menjadi mana dan membawanya ke kolam mana mereka. Luar biasa.'
Jean memahami bahwa kesialan yang menimpa orang-orang ketika berada di dekat si kembar sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ada di dalam tubuh mereka. Kedua gadis ini bukan pembawa sial. Well, itu sesuatu yang tidak masuk akal.
Dia tidak bisa membiarkan keduanya jatuh ke tangan orang lain. Tekadnya sudah bulat.
"Kalian berdua, ikutlah denganku. Aku tidak peduli apa yang orang-orang pikirkan tentang kalian, tetapi jika kalian ingin diselamatkan, jika kalian ingin mendapatkan tempat kembali, ikutlah aku."
Pada dasarnya Jean tidak memaksa mereka. Namun kedua gadis itu hanya diam dan mengangguk ringan. Makanan mereka sudah habis tapi mereka masih lapar. Jean tertawa ringan dan mengambilkan lagi makanan untuk mereka.
"Benar juga.... Kalian membutuhkan nama. Hmmm... Baiklah, mulai dari sekarang, nama kalian adalah Elyse dan Elsie!"
Keduanya terlihat tidak keberatan dengan nama yang Jean berikan. Sebaliknya, ada sebuah rasa menyenangkan yang datang dalam diri mereka, entah Elyse atau Elise tidak mengenal rasa itu, namun seiring dengan berjalannya waktu, mereka berdua akan menyadarinya.
__ADS_1