Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Bishop Tolek Of Krakov


__ADS_3

Katedral Agung Krakov City.....


Seorang uskup tua sedang membaca beberapa dokumen di atasnya sembari menyeruput secangkir minuman hangat. Minuman tersebut memiliki aroma yang wangi yang tercium ke seluruh ruangannya.


Bibirnya mengembang sebagai senyum. Dibantu oleh sinar yang berasal dari cahaya lilin, dia menuntaskan satu demi satu dokumen yang ia baca. Hingga pada akhirnya, suara lembut seorang wanita terdengar dari luar.


"Apakah itu kamu, Gizela? Masuklah ke dalam, pintunya tidak dikunci."


Kemudian, seorang wanita mengenakan pakaian nun masuk ke dalam ruangan. Awalanya sosok wanita itu tidak jelas. Tetapi ketika cahaya lilin yang temaram menyinarinya, wujud wanita itu terlihat jelas.


Dia mengenakan baju nun berwarna hitam dengan kerudungnya berwarna putih. Pupilnya berwana biru berlian. Bening dan tidak berdosa.


Rambutnya yang berwarna pirang sedikit terlihat. Wajahnya putih bagaikan susu. Kulitnya terlihat lembut layaknya sutra. Gesturnya anggun, membuat kesan seolah-olah ia adalah putri dari sebuah kerajaan.

__ADS_1


"Ini sudah malam, Gizela. Kau seharusnya beristirahat. Seorang calon [Saint] harus menjaga staminanya untuk melayani umat Ariana."


Wanita bernama Gizela itu menggeleng. Dia beranjak ke depan meja sang uskup dan memegang tangan keriputnya.


"Anda tidak perlu khawatir, tuan uskup. Saya sudah beristirahat lebih dari cukup. Anda lah yang harus tidur. Seorang uskup juga harus melayani umat."


Uskup tua itu tertawa kecil. Dia merapihkan kertas yang berserak di atas mejanya, menumpuknya, lalu menyingkirkan ke tepi meja.


"Tubuhku memang tua. Sayangnya, semangatku masih lah membara. Mereka yang melayani umat adalah sekelompok orang yang bangunnya lebih awal dan tidurnya lebih lambat."


"Tidak apa-apa, Gizela. Istirahatlah. Kamu harus pergi ke kawasan barat tidak lama lagi kan? Pergilah. Semoga Dewi Arian menjagamu."


Priest Gizela tidak punya pilihan. Namun sebelum dia keluar, Gizela memberikan sepucuk surat untuk sang uskup. Dia memandang Gizela dengan tatapan, 'dari siapa surat ini dan apa isinya?' namun Gizela menggeleng. Dia juga tidak tahu.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya pamit dulu, tuan uskup."


Gizela berjalan meninggalkan ruangan. Setelah sendirian, sang uskup dengan penasaran membuka surat tersebut. Setelah membacanya, senyum sumringah muncul di bibirnya.


"Begitu. Duke Cetner ingin menggeser posisi keluarga Mietzsko dan menyingkirkan Duke Ankwicz dan fraksinya. Kelihatannya dia tidak main-main."


Selama ini, gereja penganut Arian telah menjadi salah satu kekuatan dominan di kerajaan Warsawa. Tidak hanya Warsawa, bahkan kebanyakan kerajaan atau entitas penguasa lainnya di benua Akkadia memilih ikatan yang kuat dengan gereja penganut Arian.


Bahkan, status uskup bisa sama tingginya dengan raja. Tidak hanya dalam masalah agama, mereka bahkan juga seringkali campur tangan dengan situasi politik dan pengambilan kebijakan oleh raja.


Kalau gereja merasa dirugikan, mereka akan mengintervensi keputusan tersebut. Itu menggambarkan sejauh mana kekuasaan dan pengaruh gereja Arian di kerajaan Warsawa.


Uskup menulis surat balasan untuk Duke Cetner. Dalam surat itu, uskup mengatakan bahwa gereja siap untuk berdiri bersisian dengan Duke Cetner. Dia juga memberikan beberapa syarat yang tidak memberatkan Duke Cetner dan fraksinya namun memiliki sifat strategis.

__ADS_1


Dia melipat surat tersebut dan memasukannya ke dalam sebuah amplop. Di amplop tersebut, tertulis nama dan cap nya. Bishop Tolek Of Krakov.


__ADS_2