
Dari kejauhan, Jean bisa melihat kekacauan yang terjadi di kota. Ada beberapa gedung yang hangus terbakar bersama dengan orang-orang yang gosong.
Berkat kemampuannya yang sudah meningkat cukup pesat, Jean bisa memanipulasi energi di sekitarnya dan mengubah energi murni itu menjadi katalisator untuk melakukan penglihatan jarak jauh.
Walaupun begitu, kemampuan ini bukan tanpa batasan. Jean hanya bisa melakukan ini paling lama hanya satu jam atau dia akan buta jika menggunakan kekuatannya lebih dari itu.
'Aku tidak menyangka kalau konfliknya akan meluas secepat ini. Ya sudahlah, lagipula itu mengungtungkan buatku.'
Dalam suratnya yang dia kirimkan kepada Mar beberapa hari lalu, Jean menginstruksikan Mar untuk tidak ikut campur terlebih dahulu dan tetap mengawasi pergerakan kedua belah pihak.
Dengan kekuatan dirinya yang sekarang, Jean dan yang lainnya hanya akan digunakan sebagai pion sekali pakai. Tapi bukan berarti Jean hanya akan diam. Sebaliknya, rencananya sudah berjalan. Mar sudah menyiapkan apa yang dia minta dan malam ini adalah eksekusinya.
'Mari kita mulai dari dunia bawah tanah ibukota. Lalu...'
Jean melemparkan pisau ke sebuah peta. Peta itu berisi kondisi geografis kerajaan Dublin dan kerajaan kecil di sekitarnya.
'....Lalu kendalikan kerajaan ini dan rebut kerajaan kecil Yang ada di sekeliling kerajaan Dublin.'
Ah, dia jadi tidak sabar dengan kekacauan yang akan terjadi! Entah kenapa jantungnya berdegup kencang ketika ia akan melihat orang-orang lalim saling bertarung dan membunuh satu sama lain!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sepintas, malam di St Georgia City terlihat tenang. Orang-orang sudah berisitirahat dan tidak ada lagi yang berkeliaran. Kerusuhan memang sempat terjadi tapi sudah diatasi oleh para ksatria.
__ADS_1
Namun, tentu saja itu hanya di permukaan. Jauh di dalam gang-gang sempit yang ada di ibukota, percikan keributan telah tersebar kemana-mana. Perjuangan untuk saling mendominasi membuat semua orang mempersiapkan diri untuk bertarung.
Termasuk salah satu penguasa dunia bawah tanah di bagian selatan Saint Georgia City, Serigala Putih.
Tapi tidak seperti Beruang Merah dan Kuda Hitam yang sedang berada dalam kondisi terbaiknya, Serigala Putih sedang 'sakit'. Pemimpin yang menyatukan mereka baru saja mati karena sakit. Setiap petinggi saling berebut pengaruh untuk menduduki posisi sebagai pemimpin baru.
Itulah kenapa Serigala Putih tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi pada Beruang Merah dan Kuda Hitam. Meskipun begitu, beberapa petinggi mereka meminta bantuan pada dua kelompok itu demi mendapatkan posisi pemimpin dengan menjanjikan banyak hal.
Di tengah penjagaan yang ketat di depan markas Serigala Putih, 15 anak kecil berkeliaran. Usia mereka masih 13 tahun. Ada juga beberapa orang dewasa berusia 15 tahun. Kalau ditotal, jumlah mereka 20 orang.
"Oi! Apa yang kalian lakukan di sini!? Pergi dari sini! Tempat ini bukan taman bermain!"
Salah satu dari lima penjaga yang ada di luar markas berteriak pada mereka. Namun anak-anak itu tidak bergeming dan tetap berkerumun seperti membicarakan sesuatu.
Yang lain saling bertatapan. Well, tidak ada yang keberatan dengan ide itu.
Kelima penjaga itu menghampiri anak-anak yang sedang lengah. Kalaupun anak-anak itu kabur, mereka semua bisa mengejarnya karena memiliki tenaga yang lebih besar dan kuat.
Salah satu dari mereka telah mencapai kerumunan anak itu. Dia telah membungkukan badannya untuk mengambil satu anak kecil. Tetapi secara tiba-tiba, dia merasakan sakit dan pedih di lehernya.
"Eh, huh? GHAAKKKKK!!"
Ternyata bocah tadi telah menancapkan sebuah pisau kecil ke leher si penjaga! Tusukan itu sangat vital sehingga dia langsung mati setelah sedikit berteriak.
__ADS_1
Penjaga yang lainnya terkejut. Tapi mereka sudah terlambat. Semuanya menemui nasib yang sama. Empat orang bocah menghampiri mereka dengan kecepatan yang cukup tinggi lalu menikam mereka di berbagai alat vital seperti leher, jantung, dan lain-lain. Mereka semua mati tanpa menimbulkan kegaduhan.
"Mar, kita sudah membereskan yang di sini! Haruskah kita memberi sinyal kepada yang lain?"
Dari balik kegelapan, Mar keluar. Dia mengawasi seluruh alur dari rencana yang telah dia buat. Mar mungkin tidak begitu ahli dalam bertarung, tetapi dia adalah orang yang cerdas.
"Baiklah, beri sinyal kepada yang lain untuk segera bergerak."
Sebuah batu berwarna merah terang dilemparkan setinggi-tingginya ke langit. Mar menatap batu itu sembari menggumamkan sesuatu.
"Semoga keberuntungan menyertaimu, tuan Jean."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
'Para penjaga sudah dilumpuhkan. Terimakasih Mar. Terimakasih juga, semuanya.'
Jean menoleh ke belakang. 15 orang berusia 15 hingga 17 tahun sudah berbaris di sana. Mereka semua menggunakan sebuah topeng dengan corak yang cukup aneh.
"Sekarang adalah saatnya bagi kita untuk menerobos markas serigala putih. Maju!"
Jean memimpin para anak buahnya. Dia melompat dari atap ke atap hingga pada akhirnya mendarat di atap markas Serigala Putih. Gedung ini terdiri dari lima lantai. Jean berencana untuk menyerangnya dari dua arah, atas dan bawah.
Dia sudah mendengar kegaduhan di bawah. Ada suara orang-orang yang merintih kesakitan dan teriakan instruksi yang kacau. Mar sudah memulai operasinya.
__ADS_1
Tanpa menghabiskan banyak waktu, Jean segera meluncur ke bawah. Waktunya untuk bersenang-senang.