
Jean tersenyum ketika dia melihat apa yang ia inginkan terpampang di depan matanya. Dengan tenang, dia menghampirinya. Langkahnya yang ringan dan sikapnya yang santai benar-benar tidak cocok dengan situasi yang sedang terjadi sekarang.
'sesuatu' yang ia inginkan berada di dalam sebuah kerangkeng. Dia mencoba untuk membuka gerbangnya namun terkunci. Sayang sekali. Terpaksa, Jean menarik jeruji itu dengan paksa dan melemparnya ke belakang.
"Selamat malam serigala-serigala manisku."
Benar. Sesuatu yang Jean inginkan adalah sekelompok serigala lapar yang dikurung oleh Duke Eisen di kastilnya.
Mereka terdiri dari 30 serigala. Mulut mereka mengeluarkan geraman yang sangat mengintimidasi. Air liur yang menetes dari sana juga menambah kengerian mereka.
Begitu mereka menyadari kehadiran Jean, Auman mereka semakin mengeras. Mata-mata merah itu menatapnya dengan pandangan ganas. Seolah siap menyantap Jean kapanpun juga.
"Tenang-tenang. Kalian pasti akan makan kok. Jadi jangan terburu-buru, oke."
__ADS_1
Tidak hanya mereka, Jean juga mengeluarkan tekanannya yang jauh lebih mengintimidasi. Seketika, serigala-serigala liar nan kelaparan itu berkelakuan seolah-olah mereka adalah anjing penurut.
Mereka dikekang oleh rantai. Karena itu Jean menebaskan tangannya ke rantai tersebut dan memutusnya begitu saja tanpa kesulitan apapun. Jean juga mengelus bulu-bulu mereka yang lembut sebelum melepas mereka dari kastil Duke Eisen.
"Sekarang, berburu lah sepuas kalian. Mangsa siapapun yang kalian temui. Tenang saja, tidak akan yang ada menyalahkan kalian semua karena akan ada tumbal yang menjadi sasaran kemarahan massa."
Benar. Tidak akan ada yang menyalahkan serigala-serigala malang yang dibiarkan lapar ini. Jean sudah menemukan orang yang tepat untuk dijadikan kambing hitam atas tragedi yang akan terjadi.
Jean membiarkan mereka pergi berkeliaran ke luar. Setelah itu, dia memutuskan untuk pergi ke lantai dua, tempat ruang belajar milik Duke Eisen berada.
Jean dengan cuek melewati mereka. Kakinya bergerak menuju sebuah ruangan yang diisi oleh sebuah meja yang cukup besar dan bangku. Juga ada beberapa rak yang menampung buku dan berbagai catatan lain.
"Dia sini kah, tempat ia meletakan segalanya?"
__ADS_1
Tangannya mulai mengambil catatan yang berada di rak dan membacanya satu persatu. Perlahan, senyum yang lebar terbit di bibirnya.
Layaknya spons, Jean dengan cepat menyerap semua informasi penting yang dia dapatkan dengan sangat mudah. Informasi mengenai jumlah pasukan yang dimiliki oleh Duke Eisen, kelompok tentara bayaran yang dikontrak olehnya, serta korespondensi dengan negeri lain beserta kesepakatan rahasia yang mereka buat dan lainnya, semua tercatat di sini.
Sesuai dengan analisisnya, Duke Eisen memang menginginkan perang dengan dirinya dan Dublin. Boleh saja. Tidak ada masalah. Tapi Jean ingin melihat siapa yang akan bertahan.
Dia rasa sudah cukup. Jean tidak perlu menyalin ini semua karena kepalanya sudah mengingat semua yang ia baca. Karena itu, Jean menumpuk semua catatan dan buku yang ada di rak dan membakarnya.
Dari luar, ia bisa mendengar suara serigala yang melolong.
"Mereka sudah memulai perburuannya. Kalau begitu, seharusnya yang lain juga sudah selesai."
Jika semuanya bergerak sesuai dengan yang ia tentukan, gudang harta milik Duke Eisen pasti telah kosong. Semua ksatria juga pasti telah disingkirkan. Dia juga harus undur diri sebelum ikut terlalap api.
__ADS_1
Pelan-pelan, api mulai membesar dan menyebar. Lantai satu dan lantai dua terbakar habis. Yang tersisa hanyalah abu. Sementara di lantai tiga dan empat, bau amis darah dan bangkai tersebar dimana-mana.
Malam ini benar-benar menjadi mimpi buruk abadi bagi Duke Eisen.