Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
The Last Breath


__ADS_3

Guncangan yang terjadi di kapal diikuti oleh suara lainnya. Jean dengan jelas bisa mendengar jeritan dan kemarahan dari geladak. Dentingan pedang, anak panah yang berterbangan, dan suara perintah entah dari siapa, semuanya dengan jelas terdengar di telinga Jean.


Sementara di dalam perut kapal, kepanikan melanda. Beberapa kru kapal dan penumpang terjatuh sambil memegangi perut mereka. Seolah sedang berjuang melawan sesuatu yang menyakitkan dalam tubuh mereka.


Mata Jean yang tadi tertutup kembali terbuka. Indera penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa miliknya sangat tajam. Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan energi murni yang ia serap dari alam. Ini adalah murni kekuatan fisiknya.


Jean awalnya mau bangkit. Tetapi mendengar suara langkah kaki yang sedang terburu-buru datang ke ruangan tempat yang ia tinggali, Jean mengurungkan niatnya.


Saat itu juga, pintu ruangannya didobrak. Jean langsung mengangkat tangannya sambil memasang ekspresi dan gestur panik. Tujuh orang memasuki ruangannya sambil membawa tombak panjang. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya ada di tempat ini.


Tanpa mengatakan apapun, salah satu dari mereka menghampiri Jean yang sedang ketakutan, mencengkeram kerahnya, dan meninju perutnya dengan keras. Darah tersembur dari mulut Jean dan ia langsung tak sadarkan diri.


"Kita tidak punya banyak waktu! Cepat ambil semua barang berharga yang disimpan oleh anak ini! Setelah itu, kita akan langsung bergabung dengan yang lainnya!"


Orang yang tadi memukul Jean hingga pingsan memerintahkan rekannya untuk mengambil barang-barang milik Jean. Yah, tanpa sepengetahuan Jean, mereka diam-diam sudah melihat barang bawaan Jean. Terlepas dari penampilan pemuda itu yang cukup kusut, dia membawa barang-barang berharga di dalam tas kulitnya.

__ADS_1


Dari awal, mereka sudah ingin mengambilnya. Tetapi hal itu akan menimbulkan kecurigaan. Jadi, semuanya memutuskan untuk merampas semua bawaan Jean ketika saatnya tiba. Dan inilah waktunya.


"Bos, apa yang harus kita lakukan dengan anak ini?"


Pria yang tadi memukul Jean berpikir sejenak. Terbersit di pikirannya untuk membuang ia ke laut. Dengan begitu semuanya menjadi lebih mudah. Tapi entah kenapa dia tidak bisa melakukan hal itu. Karenanya, ia memutuskan untuk membawa Jean yang tidak sadarkan diri bersama dengan sandera lainnya.


"Bawa dia bersama yang lainnya. Meskipun penampilannya kusut, tubuhnya cukup kuat. Kita bisa menjualnya sebagai budak dengan harga yang cukup tinggi."


Kelihatannya mereka sepakat. Salah satu dari mereka lalu mengangkat Jean dan membawanya pergi. Yang lain mengambil isi tas Jean yang terdiri dari sebuah kantong dengan banyak koin emas, belati yang terlihat sangat mahal, dan lainnya.


"Sial......entah kenapa pikiranku hari ini sangat kacau."


***


Pertempuran masih terus berlanjut. Kapten Beard dengan gigih melakukan perlawanan kepada para bajak laut yang berusaha mengambil alih kapalnya. Dia bahkan berhasil membunuh lebih dari 30 orang dengan tangannya sendiri. Tidak dapat disangkal bahwa kapten Beard adalah veteran.

__ADS_1


Namun, tidak peduli sekuat dan segigih apapun perlawanan yang mereka berikan, kapten Beard dan awak kapalnya kalah jumlah. Dia bisa saja mendapatkan bantuan dari kru kapal yang lain, tetapi kapten Beard menyadari bahwa mereka sudah dilumpuhkan. Entah oleh siapa.


Faktanya, perkiraan kapten Beard tidak salah. Semua kru kapal yang berada di lambung kapal sudah dilumpuhkan oleh para penyusup. Kebetulan, penyusup itu adalah sekelompok orang yang menjadi rekan sekamar Jean selama di kapal.


Tapi kapten Beard tidak begitu peduli. Dia tidak berniat untuk menyerah kepada para bajak laut. Tidak juga berharap untuk menjadi bagian dari mereka. Harga dirinya sebagai seorang kapten tidak mengizinkan itu.


Kapten Beard dengan gesit menghindari semua tusukan tombak, tebasan pedang, dan tembakan panah yang diarahkan padanya. Bahkan di usia senjanya, dia berhasil merubuhkan 15 orang lainnya setelah membunuh 30 bajak laut sebelumnya.


Namun rasa sakit yang menusuk terasa di dadanya. Begitu melihat ke tempat sakit itu berasal, dia melihat bahwa dadanya telah berlubang dan mengucurkan darah dengan derasnya. Seketika itu juga, mulutnya memuntahkan darah yang banyak dan dirinya ambruk ke lantai kapal.


Sebelum matanya tertutup untuk selamanya, ia melihat seorang pria besar dengan kulit gelap, mengenakan baju yang telah kusam dan sobek sana-sini, serta kepalanya yang gundul dan sebuah goresan besar di wajahnya.


Beard mengenali siapa dia. Seorang bajak laut yang sangat mengerikan, pemimpin dari kelompok yang menyerang armadanya. Sebelum kematiannya, rasa sesal timbul dalam dirinya. Para penumpang dan krunya akan mengalami hari-hari yang menyulitkan. Tapi mau bagaimana pun, tidak ada yang bisa ia lakukan dengan itu.


Tidak lama kemudian, kapten Beard menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


__ADS_2