Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
The Fish Who Had Bite The Bait


__ADS_3

"Apakah kau menginginkan kekuatan?"


Pertanyaan itu terus terdengar oleh Syzmon. Suara itu tidak henti-hentinya memenuhi isi kepalanya. Awalnya ia takut lalu menjadi penasaran.


Orang yang ada di depannya menjulurkan tangannya. Szymon tertegun. Telapak tangan dan jari-jarinya..... Sama sekali tidak memiliki kulit dan daging. Hanya kerangka. Lengannya yang sedikit tersingkap juga demikian.


"Si-siapa kau se-sebenarnya? A-apa yang kau i-inginkan da-dariku?"


Szymon dengan tergagap memberanikan diri bertanya pada makhluk yang aneh itu. Dia tidak tahu apakah ia manusia atau bukan. Tetapi ada satu hal yang Szymon tahu. Orang ini kuat.


"Siapa aku sebenarnya tidak lah penting bagimu, wahai sang reinkarnator. Tetapi untuk mempermudah, panggil aku [Apostle]."


Apostle? Szymon sudah pernah mendengar istilah itu sebelumnya dari seorang pendeta. [Apostle] adalah sekelompok orang yang mengabdikan dirinya untuk menerima kekuatan yang amat luar biasa dari para dewa dan dewi.


Tetapi sebagai ganti dari kekuatan yang amat besar tersebut, mereka harus mengorbankan tubuh dan jiwa mereka. Pada akhirnya, meskipun sangat kuat, mereka adalah boneka hidup yang dikendalikan oleh para dewa dan dewi.


Terlepas dari itu semua, ada satu yang membuat ia terkejut dan takut. Darimana ia mengetahui kalau Szymon adalah seorang reinkarnator!?


Benar, Szymon adalah orang yang telah direinkarnasi. Entah oleh siapa dan untuk apa. Di kehidupan sebelumnya, dia tinggal di sebuah planet yang disebut [Bumi].


Pada dasarnya, dia bukanlah siapa-siapa. Satu-satunya yang ia anggap istimewa adalah fakta bahwa dirinya adalah sarjana dari sebuah universitas internasional yang paling terkemuka yang ada di dunia lamanya.


Setelah ia menyelesaikan pendidikan magisternya, ia memutuskan untuk terjun ke dalam dunia hitam karena berbagai alasan. Setelah itu, dia berjuang untuk mendapatkan kekuatan di organisasi yang menjadi tempatnya bernaung. Uang, kekuasaan, dan wanita. Ia berambisi untuk menjadikan itu semua miliknya.


Sayang, karena kecerobohannya sendiri, ia terbunuh pada akhirnya di usia yang relatif muda. Dan entah bagaimana ceritanya, ia bereinkarnasi menjadi seorang bangsawan.

__ADS_1


Seolah mengetahui apa yang Szymon pikirkan, sang [Apostle] menjawabnya.


"Bukankah sudah aku bilang bahwa diriku adalah seorang [Apostle]? Yang aku lakukan hanyalah menerima perintah dari dewa dan Dewi. Terutama dewi Aria. Semua pengetahuan yang aku dapatkan hanyalah bagian dari kebijaksanaannya."


Begitu. Akhirnya Szymon memahami siapa yang membawanya ke dunia ini. Bisa disimpulkan bahwa Dewi Aria adalah sosok yang membuat dirinya kembali hidup di dunia ini.


Szymon tidak berpikir dua kali. Meski dia tidak berniat untuk menjadi [Apostle], ia tetap membutuhkan kekuatan tidak peduli darimana sumbernya. Semua demi ambisi yang ia bangun di kehidupan barunya.


Mengesampingkan rasa takut dan khawatir yang sedaritadi menghantuinya, Syzmon meneguhkan tekadnya.


"Baiklah. Aku terima tawaranmu."


Tiba-tiba, seluruh tubuh Szymon bersinar. Kekuatan yang sangat besar mengalir ke seluruh tubuhnya. Szymon merasakan energi yang tak ada habisnya terus mengisi dirinya.


Szymon dimabuk kekuatan barunya. Tapi dia tidak begitu idiot. Setelah terbawa dalam delusinya, akhirnya Szymon berbicara.


"Kekuatan seperti ini.... Seharusnya ada harga yang harus aku bayar kan?"


Sang [Apostle] tertawa kecil.


"Seperti yang diharapkan. Anda cerdas tuan Szymon. Tentu, ada harga yang harus anda bayar. Tapi tenang saja, kalau itu anda, saya yakin anda pasti bisa membayarnya dengan mudah."


Bayaran yang dijelaskan oleh sang [Apostle] membuat Szymon tertegun. Namun, dia setuju tanpa syarat.


Dalam hatinya, Szymon tersenyum. Akhirnya! Tidak ada lagi yang bisa menghalanginya! Cepat atau lambat, seluruh kerajaan Warsawa akan jatuh ke tangannya!

__ADS_1


***


Sementara ketika Szymon sedang mengalami pergulatan dengan dirinya sendiri dan [Apostle], Jean sedang duduk di kursi kamarnya. Tangannya dengan indah menulis di atas banyak lembar kertas yang kini sudah menumpuk di sampingnya.


Setelah itu, ia memasukan semua kertas tersebut ke dalam sebuah kotak dan dalam sekejap, kotak tersebut hilang.


"Oh, umpannya telah digigit. Mudah sekali ya."


Jean berbicara sendiri dan tersenyum. Sementara itu, maid hitam yang berdiri di belakangnya menghela nafas kelelahan. Meski wajahnya tertutup oleh topeng, gesturnya dengan jelas menggambarkan kalau dirinya kewalahan dengan sikap tuannya.


"Ada apa nona maid? Kalau kamu punya sesuatu yang mengganjalmu, katakan saja."


Sang maid terlihat ragu. Tetapi pada akhirnya, dia mengatakannya.


"Apakah benar kalau 'anak itu' akan.... Ditunangkan dengan salah satu pemimpin fraksi?"


Jean menoleh ke arah pelayan tersebut lalu mengangkat bahunya seolah mengatakan 'mana aku tahu'.


"Kau sendiri sudah aku berikan kesempatan untuk menyelidiki hal itu. Jadi kau adalah orang yang paling tahu kebenarannya. Aku tidak akan membatasimu. Lakukan yang kau suka selama tugasmu sudah selesai. Tenang saja, anak itu berada di bawah perlindunganku."


Sang maid mengangguk. Sedikit membungkuk, ia lalu pergi ke tempat tujuannya. Tugas dia sederhana, namun di saat yang sama sulit. Memastikan semua rencana Jean berada dalam garisnya.


"Nah, sekarang waktunya pergi ke tempat yang telah dijanjikan."


Jean menjentikan jarinya. Dalam sekejap, ia telah pergi dari kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2