Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Negosiasi Damai


__ADS_3

Pertemuan antara Baron Jean De Ruhr dengan utusan kerajaan Bucharest berlangsung di istana kerajaan Bucharest yang terletak di ibukota mereka, Utah.


Tentu saja, surat yang sampai kepada mereka berisi rencana Baron De Ruhr tidak disambut dengan baik. Mana mungkin mereka akan duduk satu meja dengan orang yang telah mengambil tanah mereka.


Namun raja mereka, Bucharest II, merasa kalau dirinya harus menerima tawaran ini. Setidaknya dia harus melihat langsung siapa sebenarnya Baron De Ruhr.


Tidak ada alasan tertentu yang mendasarinya. Keputusan itu dia ambil karena dua hal. Pertama adalah rasa penasaran sang raja. yang kedua adalah firasatnya. Entah kenapa dia tidak bisa mengabaikan orang itu.


Dan beginilah sekarang. Bucharest II dan bangsawan lainnya sedang duduk di hadapan seorang pemuda. Tidak seperti yang raja Bucharest II bayangkan, bangsawan yang akan ia temui bukanlah bangsawan tua yang kelihatan berpengalaman.


Sebaliknya, dia masih sangat muda. Usianya mungkin baru menginjak 15 tahun. Dan jika dilihat dari luar, tidak ada yang spesial dari dirinya. Mungkin satu-satunya yang cukup mencolok adalah wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang bagus.


"Saya dengan hormat memberi salam kepada anda, yang mulia raja Bucharest, yang mulia Lloris De Bucharest. Semoga keselamatan dan kesejahteraan selalu mengiringi anda."


Baron Jean menurunkan tubuhnya untuk memberi hormat. Raja Bucharest mengangguk. Dia menatap Baron Jean De Ruhr lamat-lamat, lalu membalas salamnya.


"Terimakasih, Baron De Ruhr."


Raja hanya mengatakan itu. Dia mengeluarkan tekanannya, mencoba untuk mengintimidasi lawan bicaranya. Tetapi Baron De Ruhr tidak bergerak sedikit pun. Dia tetap tenang dan memandangi raja dan para pengikutnya dengan santai.


"Jangan menahan diri untuk menikmati semua jamuan kami, Baron De Ruhr. Anda bebas menikmati seluruh yang terhidang di depan anda."


Baron muda itu tersenyum. Dia menikmati secangkir teh yang uapnya masih mengepul. Cukup nikmat.


"Memang benar hidangan-hidangan ini terlihat sangat lezat. Saya tidak bisa menemukan ini di kerajaan Dublin. Seperti yang diharapkan dari kerajaan yang mengendalikan laut dan pelabuhannya, kerajaan Bucharest memiliki khazanah yang unik."


Dia dengan tenang tersenyum sembari menyeruput tehnya lagi. Setelah itu, tatapannya di arahkan pada raja.


"Tapi, alangkah baiknya jika kita menikmati semua ini tanpa adanya tekankan, bukan? Jadi dengan segala hormat, bisakah anda semua melepaskan tekanan pada saya?"


"Tidak sopan!! Memangnya kau pikir siapa dirimu!? Baron rendahan sepertimu tidak pantas berhadapan dengan orang-orang terhormat seperti kami!"


"Dasar perampas!!"

__ADS_1


Pergi dari sini, orang barbar bodoh!!"


Para bangsawan memaki Baron De Ruhr. Raja Lloris De Bucharest berkeringat dingin. Dia tidak menginginkan hal seperti ini terjadi. Yang dia lakukan tadi hanyalah percobaan untuk menguji Baron muda ini!


Di tengah kepanikannya, Baron De Ruhr menatap raja Bucharest. Mulutnya mengeluarkan senyum tipis. Raja Bucharest tambah panik. Baron ini telah memahami niat dirinya dari awal dan justru memanfaatkan momen ini untuk menekan sang raja.


"Ehem! Baiklah, Mari kita hentikan ini semua. Baron Jean De Ruhr datang dengan niat yang baik. Meskipun memang benar dia adalah perampas, tapi dia yang sekarang tidak memiliki banyak kekuatan untuk mengguncang keagungan kita."


Pada akhirnya, para bangsawan melunak setelah mendengar perkataan raja. Meskipun mereka masih melemparkan tatapan tajam dan penghinaan pada baron De Ruhr, setidaknya mulut mereka berhenti mengeluarkan cacian.


"Beritahu kami, baron Jean De Ruhr. Apa alasan kedatanganmu yang sebenarnya."


"Kedatangan saya persis seperti yang tertulis dalam surat pengantar yang dikirim kepada anda. Saya bermaksud untuk membicarakan perjanjian damai dengan anda semua."


Baron Jean De Ruhr dengan santai menjawab perintah raja, yang disusul oleh suara bangsawan lainnya.


"Perjanjian damai? Hah! Jangan bercanda! Setelah kau merebut wilayah kami dan membangun kastil di sana, jangan pernah berharap untuk kedamaian!!"


"Jika kami mau, kami bisa menaklukan kastil yang kau bangun dalam waktu kurang dari tujuh hari!!"


Suara ketidaksetujuan datang dari beberapa bangsawan yang berpengaruh. Mereka jelas tidak sejalan dengan raja. Karena itu, diam-diam, raja Lloris De Bucharest menggertakan giginya.


"Oh ya? Apakah itu benar?"


Baron yang usianya bahkan belum menyentuh 17 tahun itu tetap tenang dibawah intimidasi dari sekelompok orang yang jauh lebih tua daripadanya. Sekali lagi, raja Bucharest dibuat merinding olehnya.


"Selama tiga bulan ini, kalian berkali-kali mengirim pasukan kalian untuk merebut kembali tempat yang sekarang menjadi wilayah De Ruhr hanya untuk menerima kabar kalau tiada satupun pasukan anda yang kembali.


"Bahkan, anda menguraikan 2000 orang untuk mengalahkan kami. Hasilnya, pasukan kalian dinihilkan. Pertanyaannya, sampai kapan kalian bisa melakukan hal itu?"


Kuh! Para bangsawan itu tidak bisa berkata-kata. Apa yang dia katakan memang benar. Tetapi masih ada yang keras kepala.


"Tapi, kalau kami menyerang orang bodoh seperti dirimu, maka kami bisa menaklukan kembali wilayah kita dalam satu hari!"

__ADS_1


Kali ini dia tertawa. Orang-orang ini benar mudah sekali mengeluarkan ocehan tidak berguna.


"Lalu, mau sampai kapan kalian ingin menghabiskan uang untuk melakukan hal yang sia-sia? Pasokan makanan kalian telah menipis dan di saat yang sama, kalian kekurangan bijih-bijih logam untuk membuat senjata dan mencetak koin. Kalau kalian memang melakukan serangan skala penuh, coba saja."


Para bangsawan terdiam lagi. Wajah mereka masam. Raja Bucharest akhirnya menghembuskan nafas. Dia memutuskan untuk mendengar apa yang Baron De Ruhr inginkan. Tidak ada gunanya untuk menggertak dia lebih jauh lagi.


"Baiklah, katakan apa mau dirimu, baron."


Pemuda itu tersenyum. Raja yang melihatnya, menyerah. Sedari awal, dia sudah berputar di telapak tangan pemuda ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Akhirnya selesai jugaaa!! Ah...betapa melelahkannya."


Charlotte menyahut kesenangan di dalam kereta kudanya. Jean tersenyum sambil mengelus rambut pink Charlotte.


Sama seperti dia yang melakukan pembicaraan dengan para bangsawan dan raja, Charlotte juga bernegosiasi. Tapi Charlotte melakukan negosiasi dengan asosiasi dagang di ibukota kerajaan Bucharest.


"Jadi bagaimana hasilnya, sayang?"


"Hmm? Ah, maksudmu dengan para bangsawan itu? Yah, tentu saja, Semuanya berjalan sesuai keinginan. Perjanjian telah dibuat dan ditandatangani. Dalam waktu satu tahun ke depan, kedua belah pihak tidak akan saling menyerang.


"Yah, itu waktu yang cukup. Ada sesuatu yang harus aku lakukan dalam jangka waktu satu tahun itu. Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu?"


Jean tidak ingin membahas rencananya pada Charlotte, jadi dia segera melempar pertanyaan padanya. Charlotte hanya bisa tersenyum masam.


"Yah, sama. HuCas akan menjadi pemasok utama untuk hasil panen para petani di kerajaan Dublin yang seringkali surplus. Daripada dijual di dalam negeri dengan harga yang rendah, pasar di kerajaan Bucharest terlihat lebih menguntungkan.


"Juga, kita telah berjanji untuk mengimpor stok logam seperti besi, tembaga, perunggu, Kuningan, bahkan emas dan perak dari pegunungan Ural. Sebagai gantinya, kita akan menerima barang-barang mewah yang berasal dari negeri-negeri di seberang laut sana."


Well, itu cukup menguntungkan.


Jean dan Charlotte menghabiskan waktu mereka berdua di kereta kuda menuju wilayah baru De Ruhr. Keduanya saling mengobrol dan bermesraan sepanjang perjalanan pulang.

__ADS_1


__ADS_2