Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Peringatan (2)


__ADS_3

"Bawa orang ini pergi. Terserah kalian untuk meletakannya di mana. Ah, jangan biarkan dia mati terlebih dahulu. Dan kau, ikut denganku."


Prajuritnya menyeret pemuda itu dan membawanya entah kemana. Sementara sang gadis melihatnya sambil memasang wajah khawatir, dia lebih takut dengan Jean.


"Bawa aku ke rumahmu."


Itulah yang Jean katakan padanya. Dia dengan terpaksa berjalan ke dalam rumahnya, dengan Jean mengikuti di belakangnya. Tidak seperti tadi, tatapannya kali ini sangat dingin.


Begitu sampai di rumahnya, dia mempersilakan Jean masuk. Rumah ini cukup kecil. Mungkin hanya cukup ditempati oleh tiga orang. Memiliki satu kamar besar, satu kamar berukuran kecil, dan dapur. Benar-benar rumah yang sangat sederhana.


Jean duduk di sembarang kursi. Tatapannya terbang ke isi rumah sang gadis. Tidak ada satupun yang mencolok. Ah, kecuali satu hal. Dia melihat potongan tangkai dan butiran gandum di lantai. Tapi untuk sekarang, dia tidak tertarik dengan hal itu.


"Jadi, apa yang kau ingin tawarkan padaku sebagai ganti dari jaminan keselamatan untuk lelaki tidak berguna itu, nona?"


Gadis itu memandangi Jean dengan ekspresi ragu. Juga takut. Lalu, dia mulai membuka bagian atas bajunya dan menunjukan kulitnya yang mulus dan dada yang proporsional.


"Tolong.....dia adalah orang yang sangat penting bagi kami. Gunakan tubuh saya jika itu membebaskan dirinya."


Jean menyeringai. Gadis ini....dia berusaha menggunakan tubuhnya untuk menyelamatkannya orang itu? Seberhaga itukah dia bagi dirinya?

__ADS_1


Tapi kalau memang itu yang gadis ini mau, tidak masalah.


Jean menarik tangan gadis itu ke dalam pelukannya. Dia mengangkat wajah gadis manis itu dan mulai menjelajahi bibirnya.


Gadis ini memiliki rambut yang cukup pendek dan berwarna kemerahan. Dari yang Jean lihat, sifatnya sedikit tomboy. Namun, entah kenapa ketomboyan nya justru menjadi daya tarik sendiri.


Gadis itu meronta ketika Jean mencium bibirnya. Namun Jean tetap memeluk gadis itu dengan erat.


"Chuu...Chuuu...ahhh! Tidak.. tolong aku...."


Gadis itu terus meronta namun Jean tetap menciumnya. Tidak hanya mencium, tangan Jean juga mulai menjelajahi setiap jengkal di bagian tubuhnya.


"Ahhhnnn....tidak... tubuhku terasa....aneh...ahnn!"


Sepertinya dia sudah cukup basah. Jean mengeluarkan jarinya dan melepaskan seluruh pakaiannya. Gadis itu mungkin terkejut ketika melihat tubuh Jean yang sangat proporsional. Tapi dia jauh lebih kaget ketika melihat ukuran 'adiknya'.


Jean juga melepaskan pakaian yang masih menempel di gadis itu dan menjatuhkannya ke kasur. Dengan senyum bagaikan hewan liar dan dengan gadis yang berkelakuan seperti hewan kecil di bawahnya, entah kenapa Jean mersakan dirinya sangat tertarik.


Sisanya, suara erangan, desau, dan teriakan bergema di seluruh rumah itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sudah berapa lama dia tertidur? Gadis itu membuka matanya dan duduk. Wajahnya memerah begitu tahu bahwa dirinya tidak memakai apapun. Dia menengok ke 'pot madu' miliknya. Basah. Cairan putih keluar dari sana.


Tubuh gadis itu bergetar karena rasa takut juga kesenangan. Memorinya segera terkumpul kembali. Ketika pria itu menjamah seluruh bagian tubuhnya. Menjilati setiap lipatan yang ada di tubuhnya dan menjilat pot madunya hingga dia merasakan sensasi aneh dari tubuh bagian bawahnya keluar.


Gadis itu merinding. Dia juga mengingat ketika cairan panas memenuhi rahimnya, juga tongkat daging keras yang memetakan setiap bagian dalam tubuhnya ukurannya sangat besar. Bahkan dia masih merasakan panas perutnya dan sensasi sempit yang aneh.


Dia segera bangkit dan mengambil sesuatu dari mejanya. Itu adalah bubuk kontrasepsi. Dia mengolesnya ke tubuh bagian bawahnya yang masih berdenyut. Entah berefek atau tidak, dia tidak tahu.


Dia memakai kembali bajunya dan keluar dari kamar. Betapa terkejutnya dia ketika menemukan lelaki itu sedang duduk di depan sebuah meja sembari memperhatikan butiran gandum yang ada di meja.


Untuk sementara, gadis itu tidak menghampirinya. Dia hanya keluar dari rumahnya untuk menikmati udara segar. Namun mustahil. Itu karena dia sangat takut.


Di luar, dia dapat melihat 10 orang di gantung begitu saja di depan umum dengan tulisan di tubuh mereka. Dia tidak bisa membaca. Kalau tahu artinya, mungkin gadis itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Ini Adalah Peringatan Bagi Siapapun Yang Melawan!"


Itulah isi dari tulisannya.

__ADS_1


__ADS_2