Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Akhirnya, Kita Bertemu Lagi (1)


__ADS_3

Jauh di bagian barat benua Akkadia, seorang gadis berambut ungu yang indah sedang duduk di atas kursinya. Di mejanya, tumpukan kertas menggunung. Tangan dan matanya terfokus ke secarik kertas di hadapannya. Tidak peduli meski hari sudah malam, dia tidak berhenti bekerja.


Tumpukan kertas tersebut adalah hasil 'karya' yang ia ciptakan. Lebih tepatnya, itu semua adalah hasil kerja kerasnya. Namun meski sudah menggunung, rasa-rasanya pekerjaan yang ia miliki tak ada habisnya.


"Akhirnya selesai juga! Hahh.... Semakin hari beban kerjaku semakin bertambah. Seandainya 'orang' itu ada di sini, aku pasti akan melimpahkan semua pekerjaan ini padanya!"


Gadis itu menghela nafas dan menyenderkan punggungnya yang agak nyeri ke sandaran kursi. Tangannya yang sejak tadi kaku karena terlalu banyak menulis, kini menjadi sedikit rileks.


"Yang mulia Natasha, saya membawakan teh hangat untuk anda. Bolehkah saya masuk ke dalam?"


"Huh, Selina? Masuklah."


Tentu saja gadis berambut ungu tersebut adalah Natasha Lostov. Penguasa baru kerajaan Dublin. Sebenarnya tidak benar kalau menganggap kerajaan ini masih bernama Dublin. Itu karena Jean, kekasihnya, telah membersihkan sisa-sisa keluarga Dublin dari tanah ini. Namun untuk mempermudah urusan administrasi, biarlah ia memakai nama ini.


Seorang gadis yang sangat cantik dengan pakaian pelayan masuk. Dia membawa nampan berisi cangkir teh dan piring dengan kue kering. Dengan sopan, ia berjalan menuju Natasha dan meletakan piring dan cangkir tersebut ke atas mejanya.


Nama gadis pelayan itu adalah Selina. Sama seperti Natasha, dia Adalah kekasih Jean. Sebelum kepergiannya, Jean memberikan posisi kepada Selina sebagai kepala urusan rumah tangga istana, sebuah status terhormat.


Dengan status tersebut, Selina memiliki otoritas penuh untuk mengangkat maupun memberhentikan para pelayan dan pekerja di istana sesuka hatinya. Dalam batasan tertentu, dia juga mendapat akses ke rahasia internal istana.

__ADS_1


"Kamu sepertinya sangat kelelahan. Apakah kamu baik-baik saja, Natasha? Tolong jangan paksakan dirimu. Jika kamu sakit, maka penduduk kerajaan akan sangat kerepotan. Fufufu."


Natasha menghela nafas lagi. Dia memukul kepala Selina dengan pukulan karate. Tentu saja itu pelan. Mereka berdua sedang bercanda. Dalam situasi seperti ini, dimana mereka hanya sedang berdua, Selina akan mencabut formalitasnya kepada Natasha dan mengobrol layaknya seorang teman. Tentu Selina melakukan ini atas permintaan Natasha.


"Kerja bagus Natasha. Terimakasih karena sudah bekerja keras."


Natasha meminum tehnya dengan elegan sebelum membalas apresiasi yang Selina berikan. Apresiasi itu tulus. Karena itu Natasha bahagia saat mendengarnya.


"Ya, kau juga Selina. Begitupun dengan yang lain. Kalian bekerja dengan sangat baik."


Yang Natasha maksud dengan yang lain adalah Charlotte, Priscillia, Rose, dan Nina. Mereka semua berperan dalam bidangnya masing-masing.


Charlotte mengurus keuangan kerajaan. Priscillia bertugas sebagai administrator internal yang mengurus birokrasi. Untuk Rose dan Nina, mereka bertanggung jawab atas militer.


Sejauh ini, Natasha telah memperluas wilayah kerajaan ke arah barat dan selatan. Mereka telah menaklukan kerajaan-kerajaan kecil yang memiliki posisi strategis serta kaya akan sumber daya.


Ambisi Jean menular. Sama sepertinya, Natasha juga berambisi untuk menyatukan seluruh benua barat di bawah pondasi kekaisaran yang akan ia bangun bersama pria tercintanya.


Dan untuk mewujudkan ambisinya, Natasha memberikan Rose tanggung jawab untuk memperluas wilayah kerajaan Dublin melalui ekspansinya militer. Sejauh ini, Rose telah membuktikan bahwa dirinya lebih dari layak.

__ADS_1


Dengan sedikit pasukannya, ia berhasil menaklukan kerajaan Bucharest dan menjadikannya sebagai bagian integral dari Kerajaan Dublin. Dia juga berhasil menundukan beberapa kerajaan lain yang ada di pegunungan Ural dan sepanjang pesisir selatan kerajaan.


Berkat dirinya, Kerajaan Dublin menjadi salah satu kerajaan yang mulai di segani di kawasan barat benua Akkadia. Atas prestasi gemilangnya, Natasha memberikan Rose kewenangan yang sangat besar dalam urusan militer.


Tetapi di saat yang sama, ada satu orang yang kelimpungan. Siapa lagi kalau bukan Priscillia. Menaklukan kerajaan lain mungkin tidak begitu sulit. Tapi mempertahankannya adalah cerita lain.


Sebagai administrasi internal, tugas Priscillia adalah memastikan penyatuan antara kerajaan dan negeri yang ditaklukan ke dalam kerajaan Dublin berjalan dengan lancar.


Proses penyatuan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Priscillia harus membenahi administrasi dan mengurus ribuan hingga ratusan ribu orang yang menjadi bagian dari Kerajaan Dublin.


Karena itu, ia meminta agar Rose tidak terburu-buru. Biarkan kondisi internal menjadi lebih stabil terlebih dahulu. Setelah itu, Rose bisa melanjutkan petualangannya.


Yah, pada akhirnya mereka berdua bertengkar seputar masalah itu. Namun tidak ada yang serius. Keduanya adalah gadis yang cerdas. Mereka tahu mana yang mereka dan mana yang buruk.


Natasha menghela nafas lagi. Seandainya Jean ada di sini.... Mungkin semuanya akan lebih mudah. Dia dan yang lainnya akan lebih bahagia. Ia tidak mau terlalu bergantung pada Jean. Tetapi ini membuktikan bahwa betapa berharganya kehadiran Jean untuk mereka.


Sesaat kemudian, kepala Selina dan Natasha serasa disentak oleh sesuatu. Entah apa itu. Sentakan itu membuat kepala mereka sakit. Refleks, keduanya memejamkan mata dan memegangi kepala mereka.


Saat Selina dan Natasha membuka matanya kembali, sebuah layar aneh muncul di depan mereka. Keduanya tidak mengetahui apa itu. Tetapi tidak lama kemudian, sebuah wajah yang sangat mereka kenali muncul di layar tersebut.

__ADS_1


""Jean!??""


Jean sedang tersenyum tipis kepada mereka berdua.


__ADS_2