Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Bercanda (1)


__ADS_3

Christov dan armada bajak lautnya sampai ke daratan dengan selamat. Meskipun badai sempat menerjang mereka, entah bagaimana Christov bisa membuat dirinya dan anak-anak buahnya bertahan. Sebagai seorang pelaut, entah sudah berapa kali dia berhadapan dengan badai.


Daratan yang mereka maksud bukan pelabuhan pada umumnya. Tidak, itu tidak lebih dari perkampungan nelayan yang telah terbengkalai. Jika seseorang dari luar mampir ke sana, dia tidak akan mendapati apapun kecuali perahu-perahu yang telah rusak dan jaring yang telah bolong dan sobek. Tidak lupa rumah-rumah gubuk yang sebagian besar telah rubuh.


Christov memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan para sandera ke daratan dengan perahu yang tertambat di atas kapal. Sementara untuk para penumpang, mereka hanya pasrah menerima nasib buruk yang menimpa hidup mereka.


Dengan tangan terikat, pakaian dan kondisi tubuh yang compang-camping, dan wajah putus asa, mereka digiring oleh para bajak laut menuju rumah yang agak besar. Alih-alih rumah, sebenarnya itu hanya gudang. Gudang tempat penampungan manusia sebelum mereka dijual ke para pedagang.


Christov menyeret kelinci percobaan miliknya yang tengah sekarat ke daratan. Selagi belum mati, Christov ingin mempermainkannya hingga ia puas dan targetnya benar-benar mati.


"Cepat, Babi! Cih, lambat sekali!"


Christov dengan sengaja menendang punggung kelinci percobaannya berkali-kali. Setiap kali dia bangkit, Christov akan menendangnya lagi dan lagi. Kalau dia terlalu lama berbaring, Christov pasti akan memaksanya berdiri dan meninjunya berkali-kali.


Christov meletakan kelinci percobaannya terpisah dengan siapapun. Nah, itu sama sekali bukan rumah. Tempat yang ia sediakan khusus untuk kelinci percobaannya adalah sebuah kandang yang sangat busuk. Christov juga tidak memberikan makanan apapun padanya.


Jika ia sedang bosan, Christov akan mendatangi kelinci percobaannya hingga puas. Semuanya terus berulang selama satu bulan... tidak, tiga bulan. Tanpa mengenal siang atau malam, anak itu terus menjadi sasaran penyiksaan Christov.


Tidak hanya Christov, anak buahnya sama sekali tidak memperlakukan ia layaknya manusia. Seringkali Christov memberikan izin pada mereka untuk menghajarnya. Membuat luka yang ia derita semakin hari semakin parah.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya.....


"Aku sudah bosan..... Lebih baik aku lepaskan saja orang itu."


Anak buah Christov yang berdiri di sekelilingnya membelalakan mata mereka. Oi, yang benar saja!? Apakah bos mereka sudah sinting untuk membiarkan samsak kesayangannya lolos begitu saja!? Itulah yang ada dalam pikiran mereka.


Namun tidak ada yang berani mengatakannya. Mereka hanya melepaskan tali yang mengikat dia dan membiarkan tubuhnya yang telah sangat lunglai jatuh ke tanah. Begitu menyadari kalau tali yang mengikatnya sudah lepas, pemuda itu segera berlari.


Dia berteriak dan menangis, seolah senang dan bingung ketika ia mendapatkan kembali kebebasannya. Namun sayang, Christov jelas tidak sebaik hati itu. Christov mengambil senapan miliknya, me-reload-nya, dan membidik ke arah pemuda yang sedang berlari.


DUAAARRRR!!!


"Ambil tubuhnya dan buang mayatnya. Terserah kalian ingin membuangnya di mana. Yang penting, aku tidak mau lagi melihat wajahnya."


Christov sebenarnya merasa cukup frustasi. Entah karena apa. Anak buahnya mengangguk dan mengangkut tubuh anak itu. Namun, sebelum mereka pergi, Christov dengan santai meludahi wajah pemuda itu. Anggap saja sebagai salam perpisahan. Begitu katanya.


"Hahh.....hei, kemana kita akan membuang mayat ini? Cih, baunya busuk!"


"Ayolah, ini tidak seperti pertama kalinya kita membuang mayat. Mari kita buang mayat ini di tepi laut. Biar air yang membawa tubuhnya ke hamparan samudera luas."

__ADS_1


Kedua anak buah Christov mengobrol. Sudah diputuskan bahwa mereka akan membuang mayat ini di tepi lautan. Begitu mereka sampai, keduanya langsung melempar mayat itu ke pasir pantai. Malam ini air laut akan pasang. Jadi besok pagi mayatnya sudah tidak akan ada lagi di sana.


"Cepat pergi. Pesta akan segera dimulai. Aku tidak mau ketinggalan. Apalagi sampai kehabisan alkohol dan wanita."


"Ah, kau benar! Maaf, aku lupa kalau malam ini ada pesta! Yah!! Ini benar-benar keberuntungan kita! Siapa yang menyangka kalau kapal yang kita buru kali ini membawa banyak wanita dan anggur!"


Mereka berdua tertawa sepanjang perjalanan. Sampai-sampai tidak sadar kalau ada seseorang yang mengikuti mereka dari belakang.


"Sepertinya pestanya akan sangat menyenangkan. Bolehkah aku ikut bersama kalian?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, keduanya mengangguk dengan suasana hati yang sangat bagus.


"Ya tentu saja, kau bisa ikut bersama kami.... Huh?"


"Hmmm? Ada apa sobat? Apa kau tidak jadi mengajaknya... Eh?"


Sebelum menyadari ada sesuatu yang salah, keduanya sadar bahwa dada mereka telah berlubang. Darah langsung tersembur dari mulut mereka, juga dari luka yang mereka derita. Setelah itu, mereka merasa bahwa kepala mereka serasa terlepas dan melayang. Lalu kesadaran mereka hilang begitu saja.


"Padahal aku ingin berpesta bersama kalian. Sayang kalian sudah mati."

__ADS_1


__ADS_2