Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Tikus


__ADS_3

Ulah para bandit yang berani menyerang rombongan berburu anak-anak bangsawan menjadi bahasan panas di kalangan rakyat kerajaan Dublin kelas atas. Di atas permukaan, mereka memberikan apresiasi kepada ksatria yang berusaha melindungi nyawa tuan mereka. Namun di balik punggungnya, mereka mencaci maki para ksatria karena ketidakbecusan mereka dalam mencegah hal seperti itu terjadi.


Jean mengetahui itu berdasarkan informasi yang Mar berikan padanya beberapa hari setelah dirinya berpartisipasi dalam acara berburu. Bahkan, count Baldric sampai memenggal kepala Ksatria yang waktu itu ikut bersama putranya.


Jean yang sekarang sedang membaca surat dari Mar tersenyum licik. Dia mungkin masih 12 tahun, tetapi dengan semua kebaikan dan kekejian yang telah dia lihat dan rasakan, Jean dewasa lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak seusianya.


Dan karena kedewasaan itu, dia tahu apa yang menjadi prioritasnya dan apa yang harus dirinya lakukan di tengah situasi seperti ini. Dia melipat kertas itu dan membakarnya dengan api yang menyala dari sebuah lilin.


Jean merasakan sesuatu bergerak di kasurnya. Di saat yang sama, sensasi yang besar dan lembut menyentuh kakinya. Dia mengangkat selimut dan tersenyum lembut. Selena sedang tidur di sampingnya. Tentu saja, dia sama sekali tidak memakai sehelai pakaian pun.


Tadi malam memang sangat bergairah. Dia tidak bisa melupakan bagaimana nikmatnya saat tongkat daging kebanggaannya menjelajahi setiap sudut gua rahasia milik Selena. Selena sendiri memeluk Jean dengan erat karena menerima serangan bertubi-tubi darinya.


Jean mencium kening Selena dan memperbaiki posisi tidurnya. Dia juga menyelimuti tubuh telanjang Selena. Setelah itu, Jean bangkit dari kasurnya, memakai baju, jubah hitam, dan topeng. Kemudian, dia melompat dari jendela kamarnya yang terletak di lantai dua dan menyusup keluar dari rumah paman Hull.


Seperti biasa, tujuan utamanya adalah markas yang dia danai dari hasil orang-orang yang menggunakan jasanya. Dari luar, rumah yang menjadi markasnya mungkin sudah kelihatan sangat tua. Tetapi jika masuk ke dalam, furnitur serta perabotan yang ada di dalamnya masih terawat dengan baik. Terimakasih kepada Mar yang merawat tempat ini, bagian dalam rumah selalu bersih dan nyaman.


"Selamat datang tuan Jean. Silahkan duduk, saya akan membuatkan anda minuman."

__ADS_1


Jean duduk di meja makan yang terletak di dapur. Tidak lama kemudian, Mar datang dengan segelas sari apel hangat yang dicampur oleh madu. Jean meminumnya dengan khidmat. Rasa asam dan manis yang berasal dari apel sangat cocok ketika dipadukan dengan rasa manis dari madu.


"Seperti biasa Mar, minuman yang kau buat sangat lezat."


"Terimakasih atas pujiannya tuan Jean. Sebuah kehormatan bagi saya untuk melayani anda."


Jean tertawa kecil. Dia menyandarkan tubuhnya dan menaikan satu kakinya ke kaki yang lain. Ini adalah sikapnya ketika sedang rileks.


"Jadi Mar, aku ingin tahu lebih banyak tentang kondisi terkini keluarga Baldric. Beritahu aku semua yang kau ketahui."


Mar mengernyitkan dahinya. Kenapa pikiran Jean tertuju pada Earl Baldric? Bukankah masih banyak keluarga lain yang jauh lebih rentan? Jean menyadari keraguan Mar. Dia menghembuskan nafas dan menjelaskan pada Mar.


"Tapi, anda pernah mengatakan jangan sampai masalah pribadi membuat kita mendapat kerugian kan? Bukankah Anda sedang menjilat ludah anda sendiri sekarang?"


Jean berusaha menahan tawa. Tajamnya. Mungkin kalau itu orang lain, Mar tidak akan selamat setelah dia mengatakan hal itu.


"Yah, itu berarti tidak masalah kan jika masalah pribadi ternyata mendatangkan keuntungan bagi kita? Tenang saja Mar, kalian semua adalah orang-orang berguna yang aku kumpulkan. Jadi tidak mungkin aku membawa kehancuran dengan sengaja kepada kalian."

__ADS_1


Kali ini Mar yang menghembuskan nafasnya. Jean telah menyelamatkan dirinya dari mimpi buruknya, jadi dia memutuskan untuk percaya padanya. Mar mulai menjelaskan seluk beluk tentang Earl Baldric.


Sejujurnya tidak ada yang membuat Jean tertarik. Pada dasarnya dia sudah mengetahui itu semua. Tapi minat Jean tertuju pada konflik yang sedang terjadi antara keluarga Baldric dengan ksatria mereka serta konflik mereka dengan beberapa bangsawan lain.


"Apakah masalah itu terjadi karena keluarga Baldric memenggal beberapa ksatria mereka sendiri?"


"Tidak, sebenarnya keretakan sudah muncul sejak lama. Kapten ksatria mereka adalah adik dari Earl Baldric yang sekarang. Sang adik berambisi untuk menjadi seorang Earl namun pendahulu mereka merasa bahwa sang kakak lah yang lebih layak.


"Karena itu, sang adik yang ditunjuk sebagai kapten merasa tidak puas. Dia berusaha untuk menjatuhkan kakaknya bagaimanapun caranya. Dan tragedi pemenggalan itu hanyalah alasan bagi sang adik untuk menjatuhkan sang kakak."


Begitu selesai mendengar penjelasan Mar, Jean langsung berdiri. Sebuah ide telah tergambar di kepalanya. Kenapa tidak gunakan saja kesempatan ini untuk menghancurkan keluarga Baldric? Dia ingat kalau keluarga Baldric adalah salah satu keluarga yang terlibat dalam penculikan dan penyiksaan dirinya. Ini adalah kesempatan yang tepat untuk menghancurkan mereka!


"Baiklah Mar, tujuan selanjutnya telah ditetapkan! Mari kita hancurkan keluarga Baldric dan ambil semua harta mereka!"


"Anda seperti para bandit, tuan Jean."


"Tidak masalah kan? Lagian kita bukan organisasi suci atau apapun itu. Kita hidup dari kejahatan dan kerakusan orang lain. Yah, kita adalah tikus. Dan tikus dapat hidup di manapun."

__ADS_1


Mar hanya menggeleng tapi dia setuju dengan Jean. Oke, dia mungkin harus sedikit mempersiapkan panggung untuk tuannya.


__ADS_2