
Jean sampai ke sebuah desa yang cukup terpencil di pagi hari. Tidak salah mengatakan bahwa desa ini terpencil. Jauh dari kota terdekat, sulitnya akses untuk masuk maupun keluar, dan rumah-rumah di sana yang terdiri dari beberapa rumah kayu dan gubuk.
Tidak ada yang menarik dari desa ini. Sejujurnya. Tidak ada hamparan sawah yang luas. Hanya ada beberapa kebun kecil yang mungkin sudah tidak produktif. Kalau Jean harus menggambarkan desa ini dengan kata-kata, maka...
"Desa ini sudah tidak memiliki harapan."
Kurang lebih seperti itu gambarannya. Bukan hal yang berlebihan. Jean tidak melihat satupun orang yang berada di luar rumah padahal matahari sudah terbit. Kalau bukan karena kemampuannya untuk merasakan energi kehidupan seseorang, Jean mungkin akan menganggap desa ini sebagai desa terbengkalai.
Jean melangkah masuk ke desa. Menurut perhitungannya, tidak lebih dari 200 orang yang menghuni tempat ini. Ada banyak bangunan yang hancur juga. Tidak salah lagi, para bandit yang bersarang di gua yang ia datangi pasti salah satu penyebab dari ini semua.
Tapi itu tidak menjelaskan kenapa populasi penduduk di desa ini sangat sedikit. Jelas ada penyebab lain yang menjelaskan hal ini. Satu-satunya kemungkinan yang ada di kepala Jean adalah tuan tanah yang secara paksa membawa banyak orang pergi dari desa ini.
Atau begitulah seharusnya yang dia lakukan. Sampai pada akhirnya ia mendengar suara derak memanggilnya dari belakang. Saat Jean menoleh, ternyata dia adalah seorang kakek tua berbadan kecil yang telah bungkuk.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini, nak? Sangat berbahaya berkeliaran meskipun pagi sudah tiba."
"Maaf jika ini membuat anda tidak enak. Saya hanya sekedar lewat saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Saya akan segera pergi dari sini sekarang. Permisi."
Kakek itu menggeleng. Dia menunjuk ke arah sebuah rumah yang paling besar. Dia juga memberi isyarat agar Jean ikut bersamanya.
"Rumah itu adalah hunianku. Aku adalah kepala desa ini. Namaku Piotr. Siapa namamu nak?"
"Nama saya Ulrich. Saya adalah pengembara yang berkelana dari satu negeri ke negeri lain. Kebetulan, saya ingin ke kota terdekat dan menemukan desa ini saat sedang berjalan."
Piotr berhenti menatap Jean lamat-lamat. Dia mungkin bukan siapa-siapa, tapi berumur panjang membuat dia menjadi lebih peka terhadap kebohongan yang diucapkan, entah bagaimana. Namun, dia tidak melihat ada tanda-tanda kebohongan dari pemuda yang ada di depannya.
Piotr tidak mengatakan apa-apa lagi dan lanjut berjalan. Begitu juga Jean. Begitu mereka masuk ke dalam rumah Piotr, Jean disuguhkan dengan pemandangan yang.... biasa-biasa saja, kalau tidak ingin dibilang buruk.
__ADS_1
Suasananya di dalam rumahnya kacau. Tidak banyak perabot dan furnitur tetapi berantakan dan kotor seperti jarang dibersihkan. Rumah ini memang jarang sekali dibersihkan. Jean bahkan bisa melihat tikus yang mondar-mandir dengan santainya.
"Maaf, aku tidak pernah membersihkan rumah ini semenjak istriku telah tiada. Duduklah, aku akan mungkin tidak memiliki apapun untuk dimakan. Tapi setidaknya aku bisa merebuskan air hangat untukmu."
Piotr beranjak ke dapurnya, dibantu oleh tongkat yang ia genggam. Jean duduk di salah satu kursi yang berdebu setelah sedikit membersihkannya. Jean memerhatikan seluruh isi rumah. Sama seperti desa miskin ini, tidak ada yang menarik.
Kayu yang menjadi bahan baku utama rumah ini telah lapuk, siap rubuh kapan saja. Jaring laba-laba memenuhi sudut rumah dan langit-langit. Debu yang memenuhi rumah ini pasti akan membuat siapapun bersin jika masuk ke sini. Tentu saja kecuali Jean.
Pak tua Piotr keluar dari dapur dengan langkah yang tertatih. Sementara di tangan kanannya memegang tongkat, tangan kirinya memegang sebuah gelas kayu yang uapnya mengepul dari dalam.
Piotr memberikan gelasnya pada Jean. Isinya hanya memang air biasa yang direbus. Tidak masalah. Jean tanpa ragu meminumnya. Rasa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya, membuat ia agak nyaman.
Saat itu juga, pandangannya menjadi berat dan berkunang-kunang. Rasa kantuk menyerang dirinya. Tak tahan dengan itu, Jean memutuskan untuk menyerah dan jagung tertidur, setelah melihat senyum Piotr.
__ADS_1