
Saya agak bingung untuk menulis Apa. Chapter kali ini spesial Slice of life. Selamat membaca.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Perlahan, Jeanne membuka matanya. Sinar matahari yang masuk lewat sela-sela tirai membuatnya terbangun dari tidur yang nyenyak. Ini adalah tidur terbaiknya selama ini.
Di luar, suara burung yang terus-menerus berkicau dapat terdengar. Kicauan tersebut sangat indah. Itu seperti beragam burung menyanyikan satu lagu yang sama. Siapapun yang mendengarnya pasti akan diliputi ketenangan.
Jeanne bangun dari kasurnya dan membuka tirai. Tirai tersebut, anehnya, sangat lembut. Bahkan jauh lebih lembur dari pakaian bangsawan yang amat mahal. Tidak lupa, dia juga membuka jendela kamarnya.
Angin pagi nan segar masuk dan menerapkan dirinya. Kesegaran tersebut kantuknya yang masih tersisa segera menghilang. Digantikan oleh kebugaran dan vitalitas yang luar biasa.
Setelah melalui peregangan sejenak, Jeanne keluar dari kamarnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seluruh isi rumah. Sangat asing namun mewah dan elegan.
Dia pernah memasuki rumah keluarga Otylia yang merupakan salah satu bangsawan paling berpengaruh. Tentu saja rumah merekam megah. Namun kemegahannya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan rumah ini.
Jeanne memutuskannya untuk mengitari seluruh isi rumah sejenak. Dia berkeliling ke ruang tamu, dapur, kamar, dan beberapa bagian rumah lainnya.
Jeanne benar-benar tidak mengerti bagaimana rumah seperti ini bisa eksis. Semua yang ada di dalamnya benar-benar melampaui akalnya. Tidak, sejak awal bagaimana bisa Jean memiliki rumah semacam ini?
"Sekarang, aku harus melakukan apa?"
__ADS_1
Jeanne jadi sedikit bingung. Untungnya, sebuah suara tiba-tiba terdengar di dalam kepalanya.
[Selamat pagi kak Jeanne. Apa tidurmu nyenyak?]
Mendengarkan suara Jean di dalam kepalanya membunuh Jeanne sedikit tersentak. Tapi tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi.
[Ah..... Iya. Terimakasih untuk kasurnya Jean. itu sangat nyaman. Ngomong-ngomong, dimana kau berada sekarang? Apa aku bisa ke sana?]
[Tentu saja, sekarang kak Jeanne berada di ruang tamu kan? Pergilah ke kamar yang tertulis namaku. Disitulah aku berada sekarang.]
Tidak perlu waktu lama untuk Jeanne bisa menemukan kamar tersebut. Kurang dari satu menit, ia telah menemukannya. Setelah mengetuk tiga kali, Jeanne masuk ke kamar tersebut.
"Selamat datang kakak. Kemari dan duduklah. Aku sudah membuat teh spesial untukmu."
Dia juga sedang memberikan makanan ke lima ekor burung dan tiga ekor tupai dengan biji-bijian kecil. Hewan-hewan itu terlihat sangat menggemaskan!
Jeanne duduk di sebarang Jean. Sebuah cangkir berisi teh yang uapnya mengepul sudah terhidang di depannya. Dengan elegan, Jeanne menyeruput teh tersebut dan menikmatinya dengan khidmat.
Rasa segar dan manis segera memenuhi mulutnya. Tenggorokannya menjadi hangat, begitu juga dengan sekujur tubuhnya. Dia merasa badannya menjadi lebih ringan dan dirinya menjadi lebih fit. Semua rasa lelahnya hilang setelah meminum teh ini.
"Bagaimana? Apa racikan teh yang aku buat terasa lezat?"
__ADS_1
Jeanne mengangguk tanpa ragu. Tidak salah lagi. Bahkan ketika ia pergi ke istana Kerajaan untuk menghadiri acara tertentu, teh yang mereka hidangkan tidak ada apa-apanya dengan ini!
Dia meletakan cangkirnya lalu menatap wajah Jean. Sadar bahwa dirinya terus ditatap, Jean memandangi balik wajah Jeanne. Ada gurat rasa sesal yang terlukis di wajah indah Jeanne.
"Jean, aku.... Minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu. Kemarin aku hampir saja memukulmu. Padahal.... A-aku tidak bermaksud seperti itu. Tetapi emosi menguasaiku. Jadi.... Tolong maafkan aku!"
Jeanne menundukan kepalanya dalam-dalam tanda penyesalannya. Namun respon tidak datang dari Jean. Dengan sedikit gugup, ia mengangkat kepalanya dan melihat Jean yang sedang menahan tawanya.
"Ayolah kak, akan aneh kalau kau dan bunda tidak marah dengan tindakanku selama ini. Aku sangat bersyukur ketika kalian berada masih menerimaku sebagai keluarga. Tolong jangan meminta maaf seperti ini."
Tapi Jeanne tidak mudah menyerah! Meski Jean bilang tidak perlu, dia tetap meminta maaf berkali-kali!
"Oke, oke! Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat. Bagaimana?"
Eh? Kepala Jeanne kembali terangkat. Wajahnya sumringah ketika Jean mau memaafkannya! Tentu saja, ia akan dengan senang hati menerima syarat tersebut!
"Baiklah. Sekarang tutup matamu."
Jeanne segera menutup matanya. Sesaat kemudian, bibirnya terasa disentuh oleh sesuatu yang sangat lembut. Saat Jeanne secara refleks membuka matanya, Jean sedang mencium bibirnya. Ya, dia sedang berciuman dengan Jean!
Jeanne segera mendorong dada adiknya. Pipinya terasa panas. Begitu juga tubuhnya. Kalau ia berecermin sekarang, Jeanne akan menyadarinya kalau wajahnya merah padam saking malunya.
__ADS_1
Dengan terburu-buru dia segera meninggalkan Jean yang menyeringai puas. Ada rasa malu tapi ada kebahagiaan di dalam hatinya. Ciuman pertama diambil oleh adiknya.
Jeanne tahu hal tersebutlah salah. Namun entah kenapa, dia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Hari ini adalah salah satu hari teristimewa dalam hidupnya.