
Rose dan pasukannya menduduki ibukota Silesia seminggu kemudian. Sesuai dengan perkiraan Natasha.
Sepanjang perjalanannya menuju ibukota Silesia, Rose menaklukan beberapa daerah yang dikuasai oleh bangsawan lokal. Wilayah mereka tidak terbentengi dengan baik. Hanya dikelilingi oleh gelonggongan kayu yang sangat mudah dirubuhkan.
Tidak ada perlawanan berarti yang mereka lakukan. Rose menangkap dan menghukum mati mereka begitu tahu para bangsawan tersebut menggunakan rakyat mereka sebagai perisai daging.
Ini mungkin paradoks atau kontradiktif, Tetapi Rose menghargai kehidupan. Di luar peperangan, dia mengharamkan pasukannya untuk membunuh penduduk lokal yang bukan Kombatan. Dia juga melarang penjarahan dan perampokan besar-besaran. Jika kekurangan suplai, Rose akan membelinya dari petani lokal.
Itulah kenapa, kehadirannya kebanyakan disambut dengan baik oleh penduduk di wilayah yang sudah ditaklukan olehnya. Mereka bahkan secara sukarela ikut dalam barisan Rose.
Namun, bukan berarti Rose tidak bisa kejam. Ketika ia singgah di suatu daerah yang tidak begitu jauh dari ibukota Silesia, beberapa bangsawan yang melarikan diri memberontak. Rose tanpa ragu menghabisi mereka, membakar seluruh wilayah tersebut dan menjarah semua isinya.
Begitu sampai di ibukota, ternyata penguasa sudah melarikan diri. Rose secara otomatis menduduki ibukota tanpa mendapatkan perlawanan apa pun. Namun sebelum raja pergi, dia memerintahkan pembumi hangus-an di seluruh kota dan membawa semua kekayaannya lari bersama dengannya.
"Ibukota sudah dibakar habis.... Mungkin ada sedikit bisa kita manfaatkan di sini. Aku harus mengabari Natasha tentang hal ini."
Permata yang ada di cincin Rose bersinar merah. Ia mengatakan sesuatu di sana dan pesan itu terkirim ke Natasha yang ada di ibukota. Alih-alih seperti telepon, itu seperti rekaman suara. Ia yakin Natasha sedang sibuk jadi dia tidak bisa segera mendapat balasan dari Saint Georgia City.
Di tengah kesendiriannya, salah seorang bawahan memasuki tenda Rose. Ia membawa seorang wanita muda, meski sedikit lebih tua daripada Rose, dan mendorongnya masuk.
__ADS_1
"Nona Rose, wanita ini adalah salah satu Vassal raja yang tidak ikut melarikan diri. Dia meminta saya untuk membawa dirinya pada anda."
Wanita itu memiliki tubuh yang tinggi dan langsing. Rambutnya yang panjang berwarna biru kristal dengan kunciran yang lembut. Matanya sebiru laut. Sayang, ia terlihat sangat lusuh.
"Baiklah, terimakasih. Kau boleh keluar sekarang."
Bawahan itu mengangguk dan meninggalkan wanita tersebut bersama dengan Rose. Hanya berdua.
"Duduk lah. Aku yakin kamu belum makan setidaknya dari dua hari yang lalu. Juru masak akan membawa makanan untukmu."
Wanita itu dengan ragu duduk di seberang Rose. Mungkin karena aura Rose yang kharismatik. Tapi Rose tidak menunjukan permusuhan sama sekali. Dia dengan tenang meletakan pena dan kertas yang ia pegang.
"A-apakah anda adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas penaklukan ibukota, no-nona?"
"Ka-kalau begitu, maafkan ketidaksopanan saya! Per-perkenalkan, nama saya adalah Noir. Saya adalah [Healer] di istana kerajaan Silesia sebelum raja melarikan diri."
[Healer]? Itu pekerjaan yang langka di kawasan barat Akkadia. Keberadaan [Mage] saja cukup langka. Apalagi untuk [Healer]. Paling-paling hanya gereja saja yang memilikinya. Itupun jumlah mereka sangat terbatas.
"Jadi, nona Noir, adaka sesuatu yang ingin anda katakan pada kami?"
__ADS_1
Noir terlihat sedikit ragu. Namun dia memutuskan untuk mengatakan semua yang ia ketahui.
"Sebenarnya..... Sesaat sebelum raja pergi, dia masih menyembunyikan banyak harta berharga dan sejumlah besar hasil panen di gudang tersembunyi."
Seketika mata Rose berbinar. Akhirnya ada yang bisa ia bawa ke ibukota kerajaan Dublin sebagai oleh-oleh! Tanpa diminta, Noir mengeluarkan sebuah peta. Dalam peta tersebut, sebuah tinta berwarna merah menandai lokasi yang tertera di peta.
"Ini adalah gudang penyembunyian harta tersebut. Saya tidak begitu mengerti apa saja yang ada di dalam sana. Saya juga tidak berani menjamin bahwa isi yang ada di dalamnya berharga. Namun...."
"Sudah cukup nona Noir. Terimakasih atas informasi tersebut. Saya berjanji akan memberikan hadiah sesuai dengan jasa yang anda berikan."
Noir terlihat sangat bersyukur. Dia tidak tega melihat kota tempat kelahiran dan kota tempat ia besar, dibakar begitu saja. Sayangnya, ia tidak bisa memberitahukan tempat di mana raja bersembunyi karena ia memang tidak tahu.
"Nona Noir, bisakah saya meminta sesuatu kepada anda?"
Noir mengadahkan wajahnya ke arah Rose. Melihat gadis itu tersenyum, Noir jadi merasa tenang. Karena itu ia mengangguk.
"Cukup banyak prajuritku yang terluka dan sakit. Bisakah kamu merawat mereka hingga sembuh. Tentu, kita bisa berbicara soal bayaran yang akan kamu terima jika kamu bersedia."
Mendengar tawaran Rose, Noir menerimanya tanpa ragu. Dia meminta izin pada Rose untuk melihat kondisi tentara yang terluka. Begitu Noir keluar dari tenda, Rose menerima pesan dari Natasha.
__ADS_1
"Hentikan ekspansi di Silesia. Kembali lah ke ibukota."
Isi pesan itu membuat Rose terkejut.